Metamorfosa Kamar Mandi


Ada yang mengatakan bahwa dunia modern mulai menjejakkan “kemapanannya” seiring ditemukannya kamar mandi. Sejujurnya saya kurang tahu akan hal itu. Namun, bagaimanapun kamar mandi memang adalah sebuah wilayah yang demikian “menegakkan” sikap-sikap dari alam kemodernan itu. Bisa dikatakan bahwa lewat kamar mandilah, kita dengan suka rela “memerangkapkan” diri untuk membuat ruang dan jarak kita dengan orang lain maupun alam lingkungan demikian sempurna. Dengan kata lain, lewat kamar mandilah, sikap modernitas yang menjadikan diri sebagai “pusat dunia” serta “proklamasi” kemandirian individulitas menemukan bentuknya.

Sejarah kehadiran kamar mandi dalam ruang-ruang pengucapan peradaban dan kebudayaan manusia, agaknya cukup menarik untuk kita cermati. Pada masa-masa awal peradaban serta kultur manusia terbentuk, dinamika pola hubungan manusia masih demikian terikat dengan sistem komunitas serta sikap yang guyup dengan alam sekitar. Di era seperti ini -di mana peradaban itu kerap tumbuh di sepanjang alur sungai- cara penghayatan terhadap diri sebagai pusat dunia sama sekali masih belum tergambar. Di sana, identitas diri belum mengambil jarak dengan dunia sekelilingnya. Segala aktivitas dan relasi-relasi manusia masih sangat “luruh” dengan alam dunia sekitarnya. Dengan demikian, individualitas serta memandang diri sebagai “pusat dunia”, yang menandai dunia modernitas, belum lahir di sana.

Pada masa ini, manusia sama sekali tak menghadirkan kamar mandi. Sebuah ruangan yang “mengurung” kita dalam realitas paling bersifat privasi itu pastilah tak terbayangkan oleh orang-orang tua kita dahulu. Aktivitas yang dikenal sebagai “mandi” dalam dunia modern seperti saat ini, dilakukan dengan cara penghayatan yang sangat berbeda. Karena mereka merasa “hadir” bersama alam, maka kegiatan yang mengacu pada “mandi” tersebut, kurang lebih tidak bermakna “mengurung” individualitas” diri pada “pusat dunia”.

Lalu zaman modern pun kemudian menghadirkan kamar mandi sebagai cara penghayatan serta cara penghadiran diri pada dunia sekitarnya. Pada masa-masa awal terbangunnya sikap peradaban modernitas, kamar mandi pun merepresentasikan dirinya di sana. Cara penghayatan yang dengan “rigid” memandang pemisahan diri dengan alam sekitar serta individualistik sebagai “pusat dunia” tersemai dengan sempurna di sana. Di sini, kamar mandi meletakkan dasar-dasar fungsionalisme yang merupakan tahapan awal mordernisasi dengan begitu baik. Ruang pemisahan serta jarak di mana individu hadir terpisah dan “mandiri” sebagai diri sendiri ini kemudian menjadikan dunia awal modernitas sangat “mengagumi” pemisahan dan pembedaan.

Inilah awal di mana paradigma yang memberi garis tegas pembedaan terhadap sesuatu di luar diri menemukan bentuknya. Di sini, kita pun mulai mengenal “modern dan barbar”, “rasional dan irasional”, “beradab dan biadab”, “Barat dan Timur”, serta istilah pembeda lainnya. Inilah awal di mana dunia di lihat dalam takaran “kami dan mereka”. Semangat untuk berekplorasi serta mengeksploitasi sesuatu di luar diri menjadi demikian meluap. Di masa inilah tumbuh dengan subur jiwa petualangan yang berakhir dengan kolonialisme dan imprealisme itu.

Semakin jauh, zaman kemudian “menemukan” kembali kamar mandi dalam ruang penghayatan yang lain. Di zaman yang banyak disebut sebagai era pasca modernitas, kamar mandi sebagai ruang “pengucapan” individual memang masihlah bereksistensi. Namun keberadaan  kamar mandi semakin menemukan pola yang pernah hilang dalam dunia relasi dengan lingkungan sekelilingnya. Pada zaman ini, manusia ingin kembali “membuka diri” dengan dunia yang hilang itu. Maka “migrasi” penghayatan tersebut mulai berlangsung. Di zaman ini, kita pun mulai “menemukan" penghayatan lain di kamar mandi. Kamar mandi pada zaman ini adalah sebuah "perjalanan kembali". Tempat di mana kita mencoba "berdialog" dengan diri sendiri dengan intens.Sebuah ruang yang bukan lagi ingin memisahkan dan menegakkan individualitis kita, namun lebih dari itu, sebuah ruang yang kita percaya mampu "menjembatani" kita dengan jiwa yang murni. Inilah yang menjadikan kamar mandi pada zaman ini sebagai "ruang meditasi". Di mana kita sanggup menemukan keheningan diri yang sempurna di sana. Dengan kata lain, kamar mandi di zaman ini memperoleh penghayatan "spiritualitasnya" kembali. Sama ketika pada zaman pra modern dahulu, manusia menghayati dunianya.***
Diberdayakan oleh Blogger.