Mitos Dunia Modern


Setiap zaman memang menyimpan mitosnya sendiri. Di sini, mitos merupakan dimensi paradigmatik tentang bagaimana manusia memandang serta memaknai realitas diri di mana mereka hidup. Dengan begitu, mitos-mitos tentang kehidupan bukan hanya “hak” prerogative suku-bangsa yang dalam keilmuan antropologi diidentifikasi sebagai suku-bangsa pra modern. Ketersesatan (baca: hegemoni)  model berpikir antrologi yang berhaluan positivisme-empiris, yang saat ini menguasai dinamika keilmuan humaniora dalam dunia akademik, memang menempatkan mitos dalam tradisi berpikir pra-rasional. Sedangkan dunia modern dibangun dalam landasan pijak yang menjadikan berpikir rasional sebagai paradigma hidup zamannya.

Karena itu, zaman modern yang diklaim sebagai zaman yang meletakkan rasionalitas-empirik sebagai “berhala” yang disembah, ternyata juga menyimpan mitosnya dalam membangun ruang-ruang “keyakinan” manusia pada zamannya. Ivan Illich, seorang “kritikus” sosial-budaya kontemporer, dalam sepak terjang pemikirannya kerap “membongkar” habis semua kecenderungan mitos yang di dunia modern keseharian kita kadang telah dianggap sebagai “kebenaran yang terberi”. Semacam kebenaran yang telah ada sebagai bentuk asali kebenaran dari kehidupan itu sendiri.

Salah satu dari yang demikian digugat oleh Illich adalah bagaimana dunia modern menciptakan mitos tentang “kemajuan, pertumbuhan dan kesuksesan”. Bisa dikatakan mitos inilah yang demikian mendominasi segala ruang gerak batin dan pikiran manusia-manusia pada peradaban modern saat ini. “Kemajuan, pertumbuhan dan kesuksesan”, dengan demikian menjadi ukuran yang demikian ditempatkan pada kepala sebagai “mahkota” kemodernan kita. Inilah yang menjadi “kebenaran-kebenaran” yang dianggap tak tergugat lagi dan ditempatkan sebagai sesuatu yang memang kebenaran yang telah ada pada dirinya.


Dunia pemikiran modern memang berangkat dari sebuah asumsi bahwa manusialah yang menjadi pusat dunia. Di sana antroposentrisme demikian didewakan. Dengan demikian, alam kemudian menjadi bagian yang ditempatkan sebagai obyek yang bisa diperlakukan menurut keperluan manusia sekehendak hati. Epicentrum yang berpusat pada manusia ini kemudian menciptakan berbagai “kebenaran-kebenarannya” sendiri. Pada zaman inilah dikotomi dalam cara melihat mulai tumbuh subur. Manusia  hanya melihat dalam sebuah “kaca mata” hitam-putih. Rasionalitas kemudian dipertentangkan dengan irrasional. Pusat (centre) dan pinggiran (pheripery) pun menjadi bagian dari kesadaran tersebut.


Dalam kondisi seperti itu, mitos “kemajuan, pertumbuhan dan kesuksesan” mendapat penghayatannya yang utuh. Di sana, dunia menjadi “medan” eksplorasi dan eksploatasi yang didengung-dengungkan oleh para “nabi” modern. Kesejahteraan dan kemakmuran pun ditakar dengan kemampuan manusia menjadikan alam tunduk dalam kemauannya. Konsep kekayaan sebagai asset “pribadi” yang dahulu  tidak dikenal kemudian menjadi parameter untuk mengukur “kemajuan, pertumbuhan dan kesuksesan” itu. Di sini “keserakahan” yang sangat dikutuk dalam nilai pra-modern berbalik menjadi nilai keutamaan pada zaman ini.


Semua mitos modern ini kemudian seperti “kalap” dalam merambah segala dimensi hidup manusia. Salah satu turunannya yang menjadi jejak paling menyakitkan adalah munculnya imprealisme dan kolonialisme. Di sini proses hegemoni modern  yang  menempatkan dunia barat sebagai epicentrum  dan belahan dunia lain sebagai pheripery  memperoleh aksentuasinya yang sempurna.”Kemajuan, pertubuhan dan kesuksesan” dilihat sebagai berbanding lurus dengan “kekuasaan dan kekuatan”.  Dengan begitu, dunia pun senantiasa terlihat dalam wajah yang dipenuhi “kemarahan, kecurigaan, sikap permusuhan, saling mendominasi” dan lain-lain. Peradaban dunia modern dengan segala mitosnya telah menjadikan dunia seperti sebuah “kuburan” bagi kemanusiaan itu sendiri.***
Diberdayakan oleh Blogger.