Nol Derajat dari Tubuhmu


Tak ada yang mengucapkan perpisahan-perpisahan pada nol derajat dari tubuhmu itu. Ketika irigan pemakaman yang engkau sangka akan mengetuk pintu telah terdengar nyaring di nadimu jauh sebelum jam dinding berhenti berdetak. Lalu engkau memasang guguran daun pada orang-orang lain setiap bertemu . Di sana karangan-karangan bunga dan doa-doa menjadi jalan setapak yang engkau lalui setiap senja. Menunggu di setiap persimpangan tempat kecemasan bergetar bersama rimbun hujan.

Barangkali telah engkau saksikan tubuh-tubuh berjatuhan dari potret tua di dinding keluargamu. Mengenangnya adalah sebuah senja yang jauh ketika engkau memanggilnya lirih sekali. Ini memang saat di mana nol derajat dari tubuhmu pun telah jatuh bersama mereka. Tapi tetap saja tak ada ucapan perpisahan. Di sana,  engkau mengenakan waktu dalam kerudung panjang hitam dan melepasnya tanpa air mata yang selalu engkau tampung dari embun setiap pagi.

Lalu berpuluh-puluh tahun usiamu menjadi jalan menuju nol derajat dari tubuhmu itu. Seorang kanak-kanak dengan tali kepang dua senantiasa menjulurkan kepalanya dari tubuhmu di sana. Bermain di beranda yang engkau pasangkan gambar-gambar senja dan cuaca basah sehabis hujan. Keriangan adalah tali kepang dua ketika ibumu tertawa melihat engkau menyelipkan setangkai bunga melati di pemakamannya. Tapi tak ada perpisahan yang dulu begitu engkau cemaskan ketika tubuhmu juga sampai pada nol derajat seperti itu.  

Makassar 2012
Diberdayakan oleh Blogger.