Risalah Makanan dan Ideologi


Barangkali kebudayaan tidaklah melulu tentang makanan. Seperti sebuah kalimat yang entah terbit dari mana; bahwa hidup ada diantara "perut dan sirkus”. Namun dalam tinjauan tertentu, kebudayaan demikian karib dengan dialektika yang mengkonstitusi wilayah makanan tersebut. Agaknya, corak dan tekstur batin setiap kebudayaan senantiasa memberinya “label penting” untuk memelihara tatanan serta eksistensi daya hidupnya di sana. Maka sejak peradaban semakin dinamis dan tumbuh dengan cabang serta ranting yang semakin rumit, dengan sendirinya makanan bukan berhenti hanya sekadar urusan perut belaka. Garis tegas yang memisahkan antara “perut dan sirkus”, kemudian meluber dalam sebuah pola yang saling tindih-menindih. Dengan bahasa lain, makan telah menjadi  sebuah ideologi.

Sejarah tentang metamorfosa perubahan ini demikian panjang. Seperti sebuah drama sinetron bersambung yang demikian banyak menyimpan tokoh protagonis dan antagonis di sana. Sejak api di temukan dan kemudian nenek moyang kita mulai menyantap hewan buruannya yang telah dipanggang itu, riwayat makanan mulai memasang benih ideologinya. Di sana  segala aktivitas kehidupan seakan mengalami transformasi ke arah yang lebih rumit. Barangkali, pada saat inilah “gender” yang menasbihkan adanya ruang-ruang kultural di mana pembagian “peran” antara laki-laki dan perempuan mulai bersemi. Namun yang pasti, sejak saat itulah, nenek moyang kita mulai menyandang sebuah orientasi di mana dunia mulai dilihat dengan cara pandang yang lain. Sebuah cara pandang yang dilihat secara kultural dan bukan alamiah lagi.

Lalu dunia modern pun kemudian hadir dalam rangkaian evolusi kehidupan ini. Revolusi industri yang ditandai dengan produk massal dalam bidang apa pun, menjadikan makanan mengalami wujud “mesin” dalam cara penghadirannya. Pada saat dunia masih bersandar pada ciri “kosmologi” makanan, tradisi yang ditimbulkannya demikian berwarna dalam cara penghadiran makanan. Di sana, makanan adalah sebuah “perayaan” yang menandai sebuah “perbedaan”. Di sinilah kita menyaksikan bagaimana kebudayaan lahir bersama makanannya. Segala aktivitas kebudayaan secara langsung bersentuhan dengan produksi makanan serta rangkaian “ritual” yang mengiringinya. Dengan kata lain, makanan merupakan sebuah “pengucapan” yang menjadi cara sebuah kebudayaan menghadirkan dirinya.


Di zaman makanan kemudian berwajah “mesin” seperti saat ini, kepunahan "varian" dan "spesies"  makanan yang menjadi “roh” dalam kebudayaan  bukan sekadar dongeng belaka lagi. Modernisasi yang membawa sifatnya;  kolonialisme dan imprealisme serta “anak bungsunya” yaitu globalisasi itu juga dengan sendirinya membawa makanannya sendiri. Di sana tradisi sama dan sebangun dengan “penyeragaman”. Dengan begitu, “perbedaan” kemudian akan dipandang dengan “aneh”. Ideologi yang demikian subur ini bahkan secara mulus memasuki ruang penghayatan batin kita yang kemudian hadir dalam gaya hidup itu sendiri.


Tidak mengherankan bila internasionalisasi makanan telah mampu mengubah cara penghayatan kita terhadap relasi-relasi lingkungan serta tradisi kultural kita. Perayaan “keseragaman” itu menjadi “pengucapan” kita saat ini. Simbol-simbol penyeragaman  seperti Kentucky Fred Chikend, Mc Donald, Pizza dan sederet yang lainnya adalah “jalan mulus” ke arah “kepunahan” keberagaman tersebut. Dunia seperti hanya menuju satu cita rasa (baca;ideologi). Sebuah “kolonisasi dan imprealisme” selera yang demikian mampu merasuk jauh dalam ruang gaya hidup kita.


Barangkali cara pandang ini agak berlebihan, namun ideologi makanan ini telah hadir dalam realitas keseharian kita. Perlawanan dan “rasa sakit kehilangan tempat berpijak” mungkin masih kita alami. Karena bagaimana pun “penyeragaman” adalah sebuah tanda kematian. Sebuah tanda yang demikian menyakitkan***       
Diberdayakan oleh Blogger.