"Saya Siap Digantung di Monas"


Bahwa sebuah kalimat yang diucapkan seseorang, mempunyai berbagai macam kemungkinan untuk diinterpretasikan oleh pendengarnya.  Pola yang terbentuk dalam sebuah kalimat pun bahkan  menyimpan ruang-ruang  pijakan yang begitu kenyal  dari struktur budaya yang menjadi medan “gravitasinya”. Dengan demikian, setiap kalimat yang keluar dari mulut seseorang adalah juga sejenis  model dialektika dari relasi-relasi budaya orang tersebut  dengan lingkungan sekitarnya, serta bagaimana seseorang itu mengandaikan dirinya ketika berhadapan dengan dunia yang ingin dimaknainya.

Ini pula yang terjadi ketika seorang Anas Urbaningrum, seorang ketua umum sebuah partai yang berkuasa  di republik ini ketika menanggapi “vonis media dan publik” tentang  keterlibatannya  pada sebuah kasus korupsi. “Saya siap digantung di Monas, bila satu rupiah pun saya korupsi dari Hambalang”, ujarnya ketika ditanya media.  Raut wajahnya  terlihat demikian “tenang dan tak berwarna”. Sebuah senyum mengembang “netral”  dengan garis-garis mata yang juga terlihat kukuh tergambar  di sana. Tak ada yang bisa menebak apa yang melintas dibenaknya ketika ucapan tersebut terlontar.

Namun di sini, kita tidak sedang mencoba membaca raut wajah  serta mengalisa ujaran seorang Anas yang berkaitan dengan apakah dia sedang berbohong atau jujur.  “Mulutmu adalah harimaumu”, demikian orang-orang tua kita dahulu memberi aksentuasi yang demikian kuat pada nilai-nilai “sakral” dari apa yang kita ucapkan. Sebuah tata nilai yang meletakkan keterkaitan dan kesinambungan antara ucapan, pikiran dan tindakan kita. Dengan rantai nilai itulah moralitas dan etika dibangun . Jadi berkaitan dengan kebohongan dan kejujuran yang ada pada kalimat tersebut,  biarlah menjadi santapan “harimau nurani” yang akan menjadi pengadil paling adil dalam ruang pergumulan batinnya sendiri.

Di sini, kita hanya ingin meletakkan ucapan “Saya siap digantung di Monas” itu dalam sebuah bingkai rujukan budaya  antropologis semata. Setelah Anas  mengucapkan kalimat tersebut, reaksi masyarakat,  para pengamat politik  serta hukum sangat beragam. Namun pada intinya atmosfir  opini yang berhamburan di udara bersepakat bila ucapan Anas tersebut sangat tendensius, provokatif serta tidak mencerminkan realitas masyarakat karena di luar nalar hukum positif kita yang tak memberlakukan hukuman gantung.  Agaknya, para pengamat ini sedikit keliru dalam “menerjemahkan” bahasa sang ketua  umum Partai Demokrat ini. Tinjauan yang mereka lakukan berdimensi sosiologi hukum, padahal saat itu Anas melontarkan bahasa berdimensi antropologi- politik-kultural.

Ketika mengucapkan bahasa ini, Anas sadar betul bahwa hukum positif di negeri ini tak mengenal jenis hukuman gantung.  Di sana, ia juga sangat sadar bahwa ucapan ini pasti akan menimbulkan riak. Namun pada saat yang sama pula, ia juga menyadari bahwa  saat ini dia sedang dalam sebuah “panggung  besar” yang bernama “teater politik Indonesia”.  Clifford Greertz,  seorang antropolog ternama dunia,  memang pernah mengidentifikasi bahwa  Indonesia (baca: Nusantara)  ini merupakan sebuah “Negara Teater”.  Sebuah Negara yang relasi-relasinya kultural-politiknya  dibangun dengan kekentalan atmosfir “pertunjukan”. Dengan begitu, ekspolarasi kemungkinan-kemungkinan pengucapan yang mampu “menyihir” dan menggugah batin manusia  menjadi anutan umum.

Dalam konstalasi kultural seperti itu, daya magnet yang sangat menonjol adalah bagaimana kita mampu mengelola relasi-relasi kultural tersebut menjadi sebuah “tokoh” dalam panggung  drama pertunjukan. Di sana, dunia adalah “sorotan lampu” kamera di mana seseorang mengimkan pesan-pesan.  Selama masa “pertujukan” tersebut, kebenaran dan kepalsuan menjadi lebur dalam satu dan tertunda dalam penilaian . Karenanya, setiap situasi teatrikal yang menjadi lanskap dari relasi-relasi kultural itu dibangun dengan penekanan pada “daya gugah” serta keinginan “membangun simpati” pada  peran yang dimainkan oleh  setiap “tokoh”.

Dengan begitu, “saya siap digantung di Monas” adalah bahasa “pertunjukan” yang ingin dibangun oleh Anas untuk merujukkan dirinya pada kebenaran. Di sana Anas memainkan peranan antropologis-kulturalnya sebagai seorang “kesatria” yang tak ingin lari dari medan palagan( pertempuran), sekaligus sebagai seorang “brahma” yang sarat menyimpan nilai-nilai kejujuran . Di sana,  Anas berhasil melakoni perannya tersebut dalam ucapan “saya siap digantung di Monas”. Dan kita pada umumnya, laiknya penonton sebuah pertunjukan, memberinya “makna” yang berbeda-beda, tapi dalam satu bingkai “greget” yang sama, yakni: “semakin suka atau semakin benci”. Terlepas dari persfektif moralitas  apakah dia jujur atau tidak.***
Diberdayakan oleh Blogger.