Setan dalam Mata Budaya Kita


Setiap kebudayaan memproduksi setannya sendiri.  Agaknya, tumbuh kembangnya  sebuah budaya memang seperti “mewajibkan” kehadiran makhluk-makhluk menyeramkan dan bersosok di luar kelaziman ini. Sejujurnya, saya tidak tahu persis bagaimana historiologi munculnya “sub kultur” setan dalam setiap kebudayaan. Pada umunmya, kita hanya mengambil rujukan agama tentang konsep setan yang digambarkan sebagai “sang perayu” ulung karena mampu menawarkan kenikmatan dunia yang menyesatkan. Namum kebudayaan yang muncul dalam sebuah tempat menjadikan setan demikian bervariasi serta “terspesialisasi” dan selalu digambarkan sebagai makhluk mengerikan yang sama sekali jauh dari konotasi “sang perayu”.

Barangkali memang dalam sebuah penghayatan kebudayaan, dunia “persetanan” dengan segala nama dan wujudnya itu merupakan  sejarah rangkaian panjang nilai-nilai yang menjadi titik tumpuh eksistensi kebudayaan tersebut. Mitos-mitos tentang asal usul terciptanya “manusia pertama” dalam kebudayaan pra sejarah, memang senantiasa menjadikan “dunia” terdiri dari beberapa lapis eksistensi, seperti “dunia atas”; tempat para dewa bertahta, “dunia tengah”; tempat alam berwujud serta “dunia bawah”; tempat segala rupa  kekelaman (baca: kejahatan) dan chaos bereksistensi.

Dalam kebanyakan mitologi, “dunia tengah” adalah medan bertarungnya “dunia atas” dan “dunia bawah” itu. Di “dunia tengah” inilah pertempuran antara keburukan, keteraturan dan kekacauan yang terwakili dalam dua dunia itu memperoleh eksistensinya dalam wujud manusia. Dengan begitu, inilah barangkali mengapa, setan yang mewakili “dunia bawah” selalu dipersepsikan dengan gambaran yang demikian mengerikan; sebuah dunia yang mewakili kegelapan dan keburukan.

Lalu mengapa dalam setiap kebudayaan, “sistem produksi dan reproduksi” setannya demikian beragam dan bervariasi? Bahkan dalam perspektif kebudayaan tertentu, “daur ulang” dunia persetanan demikian produktif dalam melahirkan setan-setan baru? Berderet panjang jajajaran nama dan wujud setan bisa muncul dalam satu kebudayaan. Indonesia, barangkali adalah sebuah negeri yang kebudayaannya sangat “antusias” memproduksi setan. Ini tidak terlepas dari memang beragamnya budaya yang memanyungi masyarakat yang bersatu dalam bangsa yang di sebut Indonesia ini.

Namun terlepas dari itu, kebudayaan kita memang sangat “rajin” menciptakan aneka macam setan. Sebuatlah mulai dari genderuwo, pocong, kuntilanak, sundel bolong yang bisa disebut “angkatan tua”,sampai pada angkatan mutakhir semisal gadis manis jembatan ancol, kolor ijo dan sederet nama-nama setan lainnya. Rangkaian “produksi” setan ini seperti sebuah gerbong panjang  yang menjelaskan bahwa dialetika “dunia atas, dunia tengah dan dunia bawah” senantiasa masih “keras berbicara” dalam untaian  khazanah kebudayaan kita.

Namun mengapa itu terjadi? Meminjam istilah psikoanalisa kenamaan C. Gustav Jung, Kebudayaan kita memang senantiasa menyimpan “memori kolektif” tentang dunia tersebut. Barangkali ini bisa saja muncul dari sebuah kebudayaan yang senantiasa demikian “cemas” akan berkuasanya “kejahatan, keburukan dan kekacauan”. Sejarah keberadaan masyarakat kita memang penuh digerogoti oleh kecenderungan “chaos”. Berbagai macam sejarah penindasan dan penganiayaan dalam masyarakat kita memang menjadi sebuah cerita panjang serta memilukan. Dengan kata lain, dalam situasi masyarakat yang senantiasa merasa “tidak aman” tersebut, dunia bawah sadar “memori kolektif” masyarakat yang tak berdaya itu kemudian “meluap” dalam memproduksi setan. Di sini, setan adalah “tanda”.Sejenis “simbol” dari bawah sadar ketidak berdayaan tersebut. Ketakutan, kecemasan dan rasa tidak aman dalam realitas sehari-hari itulah yang kemudian terakumulasi dalam “ruang bawah sadar” masyarakat yang kemudian memproduksi beragam setan. Maka pocong, sundel bolong, kuntilanak dan kolor ijo pun menjadi ruang pengucapan budaya kita sehari-hari. Yang kemudian sangat "sukses" diekplorasi oleh dunia kapital modern lewat film-film ***

Diberdayakan oleh Blogger.