Zaman dan Reduplikasi Cinta


Jean budrillard, seorang pemikir terkemuka pascamodern, pernah dengan pesimis menulis; “Tuhan telah lenyap. Ia tidak mati, tetapi menghilang”. Dan millennium ini dengan serempak seperti kembali “mencari” Tuhan yang telah lenyap tersebut. Tak ada yang tahu persis bagaimana sebuah peradaban mampu bertahan dengan “lenyapnya” Tuhan dari kehidupan kita sehari-hari.  Namun yang pasti seberkas cahaya yang senantiasa menjadi “lintasan” keberadaanNya juga dengan sendirinya akan menguap. “Lintasan” itu biasa kita namakan: Cinta.

Agaknya, filsuf mutakhir Prancis ini sedang mengalami romantisme “kehilangan” yang demikian menyakitkan. Zaman muncul dihadapannya sebagai sebentuk “permainan” yang tak lagi mampu membedakan antara realitas dan ilusi. Keserempakan cara penghadiran antara realitas dan ilusi seperti ini memang demikian menggoyahkan. Dunia terbolak-balik jumpalitan dalam sebuah gerak yang melebihi kecepatan cahaya. Di sana, manusia benar-benar tak berdaya dalam mencoba menerjemahkan kembali diri, lingkungan dan hubungannya dengan sesuatu.

Lalu segalanya memang nampak hanya sebagai “gerak” terus menerus  yang meraba-raba. Bukan karena zaman terbenam dalam kegelapan. Justru sebaliknya, cahaya  yang tumpah demikian menyilaukan. Retina mata keyakinan yang dahulu kita pakai dalam memasang garis demarkasi antara kebenaran dan dusta tak lagi berada dalam gelombang yang seimbang. Kekacauan frekuensi ini menyebabkan signal yang tertangkap hanyalah “bunyi-bunyi” kebenaran yang demikian dangkal dan artifisial. Dengan kata lain, yang tertangkap hanya sebuah persangkaan tentang kebenaran.

Di mana “lintasan” cahayaNya yang bernama Cinta dalam centang-perenang peradaban seperti saat ini? Orang-orang memang seperti “sibuk” mencarinya. Para ulama, pemikir, seniman, pengusaha, tehnokrat, politisi dan terutama para motivator beramai-ramai membuat “peta” untuk membawa kita bermigrasi ke sana. Namun ironisnya, “peta” itu sendiri barulah sebuah persangkaan semata. Seperti orang yang belum pernah menginjak “surga”, lantas dengan bergairah  melukiskan betapa indahnya “surga” tersebut.

Dengan demikian, orang-orang pun menjadikan Cinta sebagai bahasa pembenarannya sendiri. Inilah zaman di mana dusta dan kejahatan dinyatakan “telah punah”. Telah menjadi situs yang hanya dibacakan dalam dalam tradisi tapi telah kehilangan makna. Ketika Cinta menghilang, maka Kejahatan dan dusta pun akan lenyap dengan sendirinya. Kemudian yang menjadi rujukan ketika dunia telah kehilangan semua itu adalah kekuatan dan kekuasaan. Pada situasi seperti ini, hegemoni kekuatan dan kekuasaanlah yang kemudian mengambil alih seluruh klaim kebenaran tentang Cinta. Kekuatan dan kekuasaanlah yang kemudian menerjemahkan “peta” batin kita tentang apa hidup, kebahagiaan dan penderitaan itu.

Dalam keadaan itu, Cinta memang telah menghilang. Karena bagaimana pun, kita telah menggantinya dengan “berhala-berhala” yang kita namakan juga cinta. Di sana kita seakan telah menghidupkan Cinta kembali dengan segala “ketergantungan” kita kepadanya. Candu yang memang sangat melenakan, karena realitas dan ilusi telah menyatu dalam persangkaan kita tentangnya. Pada area ini, rasa nyaman adalah sebuah keniscayaan. Sebuah zona yang telah dengan sempurna berhasil melucuti “penderitaan”  yang dahulu diyakini sebagai jalan menuju Cinta.

Tiba-tiba saya teringat sepenggal tulisan Albert Camus ketika dengan sedih menyaksikan betapa “anehnya” arah sejarah peradaban ini; “seandainya cinta tak ada, mungkin hidup akan terasa lebih nyaman dan mudah”. Dan di zaman ini, kita dengan sempurna melaksanakan kata-kata filsuf sastrawan Prancis itu. Tapi saat ini kita tidak lagi merasakan kesedihan itu seperti Camus dan Baudrillar. Karena barangkali, di zaman ini, kita tak merasa pedihnya “rasa kehilangan” itu. Kepedihan yang kita rasakan saat ini mungkin hanya sejenis kepedihan yang menunjuk pada penderitaan "diri sendiri".Kemalangan akan keadaan diri. Dan bukan karena "kehilangan" sesuatu yang di luar itu. Sesuatu yang lebih "suci dan murni"***
Diberdayakan oleh Blogger.