Batman,Colorado dan Runtuhnya Realitas


Colorado, sebuah kota di negara bagian Amerika Serikat, bisa jadi merupakan tempat di mana realitas dan Imajinasi “bertemu” dalam ledakan catastrophe yang cukup memilukan. Seorang neurolog tiba-tiba memuntahkan berondongan peluru dari senjata di hadapan penonton yang sedang menyaksikan “tayangan perdana” sekuel flim Batman.  Korban jiwa berjatuhan, namun kita sama sekali tak mengerti apa dan mengapa semua ini dapat terjadi. Konon pelaku  demikian terobsesi pada sosok Joker –tokoh imajiner yang menjadi musuh abadi sang super hero Batman. Tak ada yang bisa memahami di sana, bagaimana sebuah “dunia imajiner” mampu menerobos masuk dalam hidup keseharian kita dan kemudian menumpahkan darah serta menjadikan  kematian benar-benar menghadirkan dirinya pada sebuah bioskop di mana di sana tontonan kematian, darah dan penderitaan dianggap tidak “nyata” dan sekedar ilusi.

Namun itulah yang terjadi di Colorado, 21 Juli 2012 lalu. Sebuah hiperrealitas  dunia dalam arti yang paling  “vulgar”. Sebentuk peristiwa yang demikian telanjang “membahasakan” tentang runtuhnya dinding pemisah antara dunia imajiner dan realitas kehidupan. Di Colorado, kita seperti menyaksikan hancurnya dunia yang pernah demikian kokoh di tegakkan sejak  dunia modern dengan Descartes  sebagai tokoh yang menancapkan “bendera” pemikiran di puncak peradaban modern ini. Dengan kata lain, pada peristiwa Colorado, kita benar-benar bertambah yakin bila kita telah berada pada sebuah dimensi lain dunia, di mana realitas dan imajinasi telah “luruh dan berbaur” satu sama lain. Di sana tak ada lagi sekat yang menjadi batas pemisahnya.  Karena yang ada adalah sebuah  “realitas baru” yang terasa lebih nyata dari warna aslinya.  Sebuah jagad di mana orientasi demikian “tumpang-tindih” satu dan lainnya.

Inilah  barangkali yang sedikit bisa menjawab mengapa tokoh super hero imajiner bersama musuh bebuyutannya Joker  dalam sebuah flim bisa mengacau-balaukan dimensi-dimensi realitas kita  serta membuat orientasi kita jumpalitan sehingga antara alam nyata dan alam imajiner tak mampu lagi dipisahkan oleh akal sehat.  Zaman inilah yang oleh pemikir-pemikir kontemporer semisal Jean Baudrillard kemudian diidentifikasi sabagai jagat simulacra. Sebuah zaman di mana realitas dalam pemahaman modernitas telah runtuh dan digantikan oleh sebuah jagad yang tak lagi mampu membedakan antara realitas dan ilusi.

Lalu tiba-tiba kita menyaksikan joker dalam diri seorang neurolog muda di depan tayangan film Batman dan memuntahkan peluru ke penonton. Di sana dunia benar-benar menjadi tumpang-tindih antara yang asli dan ilusi. Segalanya menjadi sebuah ruang yang saling memperebutkan “identitas” masing-masing untuk menghadirkan dirinya. Dengan demikian, dalam jagat seperti ini, tak ada lagi yang asli atau palsu dalam perspektif bagaimana orang melihat realitas. Maka Batman yang diyakini sebagai sang penolong, kemudian menjadi demikian tak berdaya dalam sebuah peristiwa “memilukan” ketika Joker yang selalu menjadi pihak yang kalah dalam tiba-tiba menerobos dan menumpahkan darah dan kematian.

Di Colorado, tiba-tiba kita tak lagi mengetahui pada situasi bagaimana kelak dunia membawa kecenderungan seperti ini. Sebuah zaman di mana wilayah akal sehat dan otonomi manusia memang telah dihancurkan dalam bentuk yang tak terbayangkan sebelumnya. Dalam kondisi seperti ini, dunia memang telah tercerabut dari akar kemanusiaan. Semuanya dikendalikan oleh kekuatan “pasar” yang mampu mensimulasikan segala realitas menjadi lebih realitas dari aslinya. Di dunia simulasi dan hiperrelitas seperti itulah kita hidup saat ini. Di sana, nilai-nilai mengalami distorsi yang sangat tajam dan kita tak lagi tahu apakah yang kita sedang berada dalam realitas atau alam ilusi. Seperti ketika seorang yang tertidur dan bermimpi menjadi kupu-kupu dan setelah bangun, berpikir apakan dia adalah seekor kupu-kupu yang sedang bermimpi menjadi manusia atau sebaliknya. Atau seperti Neo, tokoh dalam film Matrix yang tak tahu mana realitas mana alam mimpi.  Namun yang pasti, di Colorado, Joker yang di anggap memiliki “penyakit jiwa” itu menerobos alam imajiner kita dan membunuh di sana. Benar-benar membunuh.*** 
Diberdayakan oleh Blogger.