Dalam Beratus-ratus Mil kerinduan



Dan kita memasang kerling di sana menjadi beratus-ratus mil kerinduan dalam setiap pagi maupun petang. Daun-daun berjatuhan adalah tempat di mana cuaca memugar senyum yang kita tinggalkan  pada kursi-kursi , meja-meja dan lirih hujan di luar. Sepasang mata yang menjadi kolam selalu saja memantulkan cahaya bulan dari musim yang kita tanam pada  genggaman jemari. Lalu segalanya menjadi wangi sebuah taman dan pelukan-pelukan kecil. Suara tawa yang ringan di lekuk angin menerbangkan beratus-ratus mil kerinduan ini.

Barangkali, setiap hujan adalah nama kita yang turun di pucuk-pucuk daun pada halaman. Seperti malaikat kecil dari perjalanan beratus-ratus mil kerinduan. Sayapnya lirih memanggil dari pertemuan tempat kita menjadi segelas teh dan kue-kue kecil.  Di sana, kita senantiasa menjelma senyum yang  merindukan ketukan-ketukan pintu. Menjadi jendela yang terus menunggu langkah-langkah napas dari cuaca mendung di luar. Segala waktu memang berhenti dalam petikan-petikan  jalan yang pernah kita lalui. Rumah-rumah melambaikan tanganku yang tak mau juga melepasmu di sana.

Demikianlah kita tak bosan-bosannya menemui hujan dari pertemuan-pertemuan  di ruang tamu itu. Membacanya kembali lewat beratus-ratus mil kerinduan yang tak terperi. Memasang jendela yang suatu saat mendengar langkah dan ketukan pada pintu. Bernyanyi lirih di sana seperti harapan yang tak mau menyerah pada kematian.  Di sana, kita adalah lampu yang berkerlip di kejauhan yang begitu sunyi. Lalu menjadi sebuah puisi di setiap malam. Selalu berbinar pelan ketika bunga meletakkan  warna harumnya di sepanjang pagi dan petang.

Makassar 2012
Diberdayakan oleh Blogger.