Ideologi di Atas Daun Tembakau


Tak ada yang tahu persis apa yang ada dibenak Columbus ketika menyaksikan sekelompok suku pribumi Amerika (Indian), mengisap sebuah pipa panjang yang kemudian menyemburkan asap, ketika dia menjejakkan kaki pertama kali pada suatu pulau yang di namakan “Walting Island”  12 Oktober 1492.  Tapi sejak itulah sejarah mulai mengenal tembakau. Dan sejak itu pula dunia seperti  sebuah cerita panjang tentang penaklukan, kejatuhan dan deretan panjang kisah penghancuran sebuah suku-bangsa. Sebuah  sejarah yang meletakkan “jarak” demikian menganga  antara “kami” dan “mereka” dalam etalase menguasai dan dikuasai. Di sana eksistensi kemanusiaan  pun dibaca bersama peperangan darah dan air mata. Bukan karena baru kali itu peperangan dikenal manusia, namun  baru pada saat itu peperangan menjadi sebuah ideologi “pemusnahan” ras manusia secara sitematis dan dilakukan dengan strategi “pengetahuan modern”.

Lalu kisah penaklukan  atas sebuah bangsa menjadi sebuah pengulangan terus-menerus dalam peta perjalanan sejarah. Kolonialisme dan imperialisme menjadi bagian yang tak terpisahkan dari tegaknya dunia modern di atas pijakan tanah yang berlumuran darah dan hilangnya harga diri kemanusiaan.  Karena yang terjadi bukan hanya sekedar peperangan dalam arti yang tradisional, namun  sebuah  penaklukan yang secara tuntas meletakkan manusia lain dalam dimensi kehilangan segalanya, bahkan dirinya sendiri. Karena yang dikuasai bukan hanya sekedar fisik seperti yang terjadi pada “perbudakan” tradisional, namun telah sanggup “memusnahkan” pikiran dan batin manusia dalam ranah metafisika dan menggantinya dengan “ideologi” yang homogen.

Maka sejak saat itu, tembakau,seperti rempah-rempah dari belahan dunia timur kemudian menjadi semacam kompas penunjuk arah dari  sejarah penaklukan dan pemusnahan kemanusiaan paling tragis dari terbitnya dunia modern dengan kolonialisme  sebagai “nabi” penyebar ajarannya. Dalam pertarungan ini, tembakau adalah sebuah "bahasa" yang kemudian dilucuti habis-habisan untuk kemudian ditempatkan pada “sanatorium” untuk didisiplinkan. Meminjam bahasa Michael Foucault,  dunia modern kemudian menciptakan “bengkel” pendisiplinan tubuh manusia yang dianggap menyimpang. Mitos-mitos kesehatan modern yang menjadikan tembakau sebagai “iblis” yang dilaknat, kemudian menyebar dalam ruang-ruang sejarah tentang bagaimana sebuah ideologi mampu meluluh-lantakkan kemerdekaan dan keberagaman. Di sana, tembakau adalah kebudayaan yang ingin dimusnahkan, sama ketika suku Indian  diperlakukan dalam sejarah Amerika. Perlahan-lahan dilokalisir dan dibiarkan tak berdaya. Dicerabut dari akar semangat hidup dan dinistakan dalam perlakuan.

Tembakau adalah orang-orang Indian yang menjadi para perokok pada zaman ini. Mitos kesehatan yang akan "membunuhnya". Kolonisasi dan imprealisme  ideology maupun ekonomi  meletakkannya sebagai orang-orang sakit yang perlu disembuhkan dalam “penampungan-penampungan”. Aturan-aturan perdagangan  diperketat dan Industri Farmasi seperti dewa penolong. Semua itu terjadi dalam ruang pertarungan  ideologi untuk menaklukkan dan menguasai segalanya. Columbus adalah dunia modern yang tersenyum menyaksikan runtuhnya kebudayaan dan perdagangan pribumi.  Asap yang keluar dari tembakau dianggap lebih membunuh dari asap letusan senjatanya. Sebuah ironi yang memang memilukan.

Kisah ini ternyata masih saja berlanjut hingga sekarang. Pemerintah Republik Indonesia tiba-tiba semakin menjadi Columbus dengan rancangan peraturan pemerintahnya tentang  pengaturan tembakau. Disana, pemerintah tiba-tiba menjadi cowboy yang demikian bergairah ingin “menembak” para perokok, petani tembakau dan industri tembakau milik negerinya sendiri. Mungkin juga pemerintah bukanlah  Columbus, tapi   hanya sekedar “perajurit-perajurit” Columbus itu.***
Diberdayakan oleh Blogger.