Lalu Sebuah Pantai Jatuh di Halaman

Lalu sebuah pantai jatuh di halaman tempat masa kecilku kehilangan perahu-perahunya di sana. Suara yang datang dari kematian-kematian keluargaku menjadi  badik tertancap pada serakan buku-buku tua di mana ayahku pernah berlayar di lautnya. Ini adalah semacam kerinduan  yang selalu saja menjadi petang di mana keluargaku saling menjenguk dalam hari-hari tanpa penanggalan. Membuat bingkisan dari siulan burung-burung pantai yang menggambar sejarahnya dari lontara dan pasir berkarang.

Memang segalanya hanya pantai di halaman ini. Tarian-tarian di ujung layar tempat keluargaku membangun rumah masa kecil kami. Di sana, langit begitu licin dan dekat dari jangkauan tangan kecil kami. Membuat petak-petak pohon kelapa  di sana,  tempat kami bermain mengejar angin. Ketika hari telah senja, keluargaku memasang kesunyian di kerlip lampu yang bergoyang di atas perahu. Di sana, keheningan adalah  sorot mata kami yang lirih mencari cahaya bulan tempat ikan-ikan bersarang.

Lalu sebuah pantai jatuh di halaman tempat masa kecilku pernah tertidur di pangkuan gelombang. Di sana, telah turun beratus-ratus nyanyian dan puisi pada malam ketika keluargaku demikian riuh menyantapnya bersama ikan bakar dan petikan kecapi. Ini adalah semacam kerinduan  dari demikian banyak kehilangan yang  tak tercatat pada penanggalan. Di sana, keluargaku tak henti-hentinya mencoba bertahan. Membuat api unggun di matanya agar tak terlihat meyerah dan mati.



Makassar  2003
Diberdayakan oleh Blogger.