Lanskap Toraja 24 Jam


Pegunungan menjadi lembing-lembing yang terus menancap di dadamu. Toraja menunggu kematian untuk diarak dari orang lain ke orang lain. Ada uap dupa dari pagi yang kehilangan leluhurnya. Bernyanyi dan menari  dalam putaran paket wisata  di tebing-tebing  yang menjatuhkan lengking kepiluan. Di sana, kabut yang turun adalah roh dari riwayat kepergian demi kepergian. Tubuh-tubuh yang berjalan ke pemakamannya sendiri.  Lalu diangkut dalam migrasi panjang  persawahan menuju kota yang bakal membunuhnya kembali.

Jalan-jalan setapak tanah adalah Toraja mengigil di pucuk-pucuk dataran tinggi.  Ada orang-orangan  dalam sarung yang mendamaikan dirinya sendiri.  Di sana, langit diputar dalam pesta-pesta yang dikirim lewat iklan-iklan di biro perjalanan.  Menjadi Toraja yang terus saja dilahirkan bagai bayi prematur dalam mulut dan potret.  Senja di tanah ini selalu jatuh setengah menangis setengah tersenyum.  Keheningan telah lama disembunyikan  dalam  lirih seruling tipis yang mengendap di udara. Menjadi luka didesir malam jauh di sana.

Barangkali,  sepotong kecemasan selalu terbit pada Toraja 24 jam itu. Dalam pakaian hitam hari-hari  menemuinya dalam lengkingan kehilangan demi kehilangan. Suara-suara gaib yang terperangkap pada kartu-kartu pos di emperan jalan. Di sana, rumah-rumah  mengirim dirinya dalam kotak kaca cendera mata . Lalu Tojara pun di atas meja entah pada mata siapa dia menjadi pajangan. Terus bermigrasi membawa kecemasan dari hilangnya suara leluhur . Menjadi riwayat yang bersanding dengan shampoo, sabun dan sikat gigi.


Makassar, 2012
Diberdayakan oleh Blogger.