Metafora Cinta Bersama Kematian


Sejak  peristiwa kematian (baca: bunuh diri) Romeo dan Juliet dalam menyelesaikan episode cinta mereka,  keberadaan “tubuh” tak lagi diperlukan. Di sana, cinta menjadi tak “bertubuh” lagi. Orang-orang dan sejarah  kemudian menyebutnya sebagai sebuah tragedi.  Semacam keperihan yang begitu manis untuk “memberontaki” segala bentuk kesementaraan. Agaknya, Romeo dan Juliet memang disiapkan untuk “mengorbankan diri” menjadi sebuah  metafora dari sebuah zaman yang meletakkan “keabadian” sebagai petunjuk untuk penghadiran dirinya.  Dengan kata lain, rahasia-rahasia cinta kemudian melebur bersama kematian  untuk selanjutnya mengalami “kebangkitan kembali”  menjadi metafora-metafora “keabadian”.

Sejak saat itu, cinta menjadi sebuah misteri yang hanya bisa dijawab ketika kita membuka “gerbang” kematian itu sendiri. Itulah mengapa dalam sebuah zaman tertentu,  orang yang mengalami prosesi cinta, sebenarnya demikian “dekat” dengan kematian.  Karena di sana, kebertubuhan adalah “penjara” yang menyesakkan dan menghalangi terbukanya “gerbang” tersebut. Di situlah,  Romeo dan Juliet kemudian menjawabnya dengan kematian. Penentangan  hubungan  dari keluarga besar  mereka kemudian bisa kita baca sebagai  rujukan paling absah dari bagaimana “tubuh”  hubungan mereka -- yang dalam bahasa Michael Foucault--  berusaha” didisiplinkan” diberontaki habis-habisan.

Kisah peristiwa cinta Romeo dan Juliet memang merupakan “ spiker” pemberontakan  yang lahir dari zaman Victorian, ketika cinta dibuat menjadi “ideologi” dan didesain untuk sebuah “kepentingan, baik itu bercorak kekuasaan, kekayaan dan kemurnian keturunan.  Foucoult dalam bukunya , La Volente de Savoir”, menyebut zaman ini sebagai zaman yang dibangun dengan norma-norma bercirikan; menahan diri, diam dan munafik. Dengan bahasa lain, bahwa zaman ini telah berhasil “membersihkan” anasir-anasir  “keliaran” dari ruang-ruang ekspresi batin  manusia di jalan-jalan publik. Dan cinta yang tumbuh “di jalan” pada Romeo dan Juliet merupakan sebuah peristiwa “cabul” pada zaman itu.

Di sinilah, cinta bersekutu dengan kematian untuk kemudian menjadi metafora keabadian.  Sejarah lantas senantiasa mencatat “tanda-tanda” tersebut. Di sana, Romeo dan Juliet senantiasa “disimulasikan” kembali untuk sebuah tonggak yang menjadi jantung metafora keabadian tersebut. Di sana, cinta dan kematian menjadi dua sisi mata koin yang sama, di mana seluruh pusaran sistem filsafat serta seni membangun mata rantainya dengan kehidupan.  Dalam bahasa Hermeneutika Paul Ricour, peristiwa ini adalah sebuah “miniatur puisi” yang mana seluruh atmosfir daya hidupnya disemangati oleh pengelakan-pengelakan terhadap tatanan yang membekukan. Semacam “pemberontakan” terhadap hegemoni dari sebuah otoritas  tunggal yang memaksakan kebenaran-kebenarannya sendiri.

Barangkali, cinta dan kematian memang ditasbihkan oleh sejarah senantiasa  berada dalam wilayah tragedi. Senantiasa tetap menyimpan misterinya sendiri. Ketika menjadi metafora, cinta adalah Romeo dan Juliet itu sendiri ketika cinta mereka dituntaskan dengan kematian. Dengan begitu, membayangkan Romeo dan Juliet  “akhirnya hidup bersama dan bahagia selamanya” seperti  pada film-film hollywood hanya meletakkan cinta dan kematian  serupa  buih-buih di lautan yang demikian cepat menguap dan  kehilangan daya pesona kemisteriannya.

Dunia modern memang selalu berada dalam antusiasme ingin melenyapkan daya pesona kemisterian tersebut. Logika, rasionalitas dan empirisme kemudian mencerabutkan cinta dan kematian dalam spektrum  aktivitas manusia yang hanya bercorak relasi-relasi yang bisa ditakar dan karenanya bisa direkayasa. Pada situasi ini, Romeo dan Juliet kemudian hanya diletakkan pada ruang-ruang psikologi sado-masokistik saja. Bahwa percintaan dan kematian  mereka hanya terjadi di ruang lamunan anak remaja yang lagi dimabuk asmara  semata.

Itulah sebabnya, dunia modern hanya meletakkan Romeo dan Juliet dalam bingkai komoditas yang perjual-belikan di pasar untuk memenuhi jenis kebutuhan  kita untuk “mengkhayalkan” sebuah cinta yang ideal. Menjadikannya hanya berhenti pada sebuah  tangisan haru atau mengubahnya menjadi “bingkisan” serupa bunga dan coklat tanpa daya gugah misterinya lagi. Romeo dan Juliet yang di masa Victorian merupakan “pemberontakan” yang subversif  terhadap tata nilai otoritarian, di zaman modern kemudian ditempatkan pada posisi idealisnya namun tanpa metafora kemisteriannya lagi. Cinta bersama kematian Romeo dan Juliet dipuja, namun  dalam kemasan dagang yang dijajakan di pasar publik . ***
Diberdayakan oleh Blogger.