Transformasi Secangkir Kopi 27 Tahun



sekumpulan buku engkau sodorkan dan aku
menjadi 27 tahun di sana, pengalaman memaksa kita
meminum secangkir kopi, secangkir lagi, membayar diri
dengan sekumpulan esai tentang kecemasan, ah..
belilah aku lewat bahasamu sendiri . Puisi.

lalu engkau sodorkan dirimu tumbuh di dadaku.
menawarkan kota-kota lain, benteng  somba opu,
badik pada layar perahu dan segelas lainnya engkau minum
sambil masuk dalam kartu kuning depnaker*
ah, pengalaman ini 27 tahun hanya untuk  mengenal
bahasa secangkir kopi dan kolonialisme.

tetapi kota-kota yang kita goreng bersama
kota-kota lain mengajarkan aku menyebut lagi
sambal terasi, coto Makassar dan sebuah masjid
itu sudah cukup untuk sarapan pagi
sisanya kita ketik untuk redaksi Koran, puisi.


*departemen tenaga kerja



Makassar, Januari 1996
Diberdayakan oleh Blogger.