Baudrillard



Jean Baudrillard, filsuf Prancis itu pernah ngomong  bahwa sejarah telah mati dan kemudian bangkit kembali dalam sebuah kemasan simulacra. Sebuah realitas yang dibentuk dari replika-replika simulasi dan terus-menerus melakukan reproduksi terhadap dirinya sendiri. Dalam realitas sejenis ini, “keaslian” menjadi hal yang tak pantas lagi dibicarakan. Bukan karena “keaslian” telah kehilangan daya gugahnya, namun lebih karena ia tak mampu lagi kita letakkan berhadap-hadapan dengan yang “palsu”. Dengan kata lain, realitas yang menjadi dimensi tempat manusia bereksistensi, telah mengalami semacam reduplikasi terus-menerus melalui ruang-ruang “media” di mana manusia terperangkap di dalam realitas artificial yang diciptakan “media” tersebut. 

Barangkali pemikir post-modernis ini agak terlalu emosional “bersetubuh” dengan pesimisme gerbang  senja kala peradaban. Barangkali setiap getar dari permenungannya berangkat dari sebuah dunia yang kita kenal memang secara perlahan telah mengalami sejenis malaise. Paradaban dari dunia yang demikian mengangungkan rasionalistik dan menganggap modernitas merupakan resep mujarab untuk mencapai puncak dari “surga dunia”. Dengan kata lain, bisa dikatakan bahwa segala “sensasi” pikiran yang muncul dari kesan “main-main” seorang Baudrillard, sebenarnya adalah lirih kepedihan dari wajah zaman yang diwakilkannya. Sebuah wajah zaman yang telah mengalami kegagalan besar dalam membawa kemungkinan manusia untuk hidup dalam dunia yang lebih baik dan manusiawi.

Baudrillard, pada tataran tertentu, di  pojok “jalan buntu” sebuah zaman yang terlihat perlahan runtuh ini, bisa jadi  adalah seorang “anak zamannya yang memberontak”. Seorang “nabi” yang berkhotbah tepat di depan gerbang millennium untuk sekedar memutar ulang kembali “film muram”peradaban yang mengisahkan, bahwa di sana kita suatu saat akan menjadi “zombie-zombie” yang hiperaktif memuja kuburan-kuburan kemanusiaan kita yang coba untuk dihidupkan kembali. Di dalam dunia seperti itulah, --walau terkesan main-main--Baudrilard mencoba membuka kembali “luka” kita sehingga keperihan manusiawi kita kembali terasakan. Dengan membuka “luka” itu, kita bisa menemukan kembali diri kesejatian kita yang telah lama hilang.

Namun apa pun yang ada dalam spectrum “sensasi” pemikiran seorang Baudrillard, dia telah membawa kita pada “kegagapan” baru ketika berhadapan dengan realitas hidup. “Kebenaran adalah hal yang patut ditertawakan”, tulisnya suatu ketika. Saya seperti membayangkan, dia nyengir dan mungkin tertawa terbahak ketika menuliskan kalimat tersebut. Tapi dia tidak sedang bercanda dengan apa yang dia katakan. Di sana, dia hanya mencoba meletakkan kita pada aras baru dari “tahayul” kebenaran yang selama ini jadikan sebagai sebuah paradigma berpikir dan bertindak. Sejenis pemujaan terhadap realitas dunia modern dan segala turunan filsafat yang mengiringinya. Sebuah “kebenaran” yang justru semakin lama semakin memerosotkan kita menjadi “zombie” yang melata di bumi, namun tanpa memiliki “hati nurani” lagi.

Pada dimensi inilah, Baudrillard kita bisa bayangkan sedang menggali kubur kemanusiaan kita dengan cara  membunuhnya terlebih dahulu. Karena bagaimana pun, lapisan lumpur modernitas dengan segala kebenaran artificial  yang menyelimuti zaman ini demikian tebal. Baudrilard membuka “luka” itu lagi. Meronrong kita dari zona “pingsan” (tak sadar) agar mampu merasakan perihnya sebuah peradaban yang begitu lama “menipu” kita dengan iming-iming pembawa kebahagian yang senantiasa didengungkannya.Tapi apakah sensasi pemikiran Baudrilard bisa menyadarkan kita atau tidak? Saya bayangkan, Baudrillard sedang nyengir di sana.***

Makassar 2012
Diberdayakan oleh Blogger.