Buku





SETIAP zaman melahirkan rezim kekuasaan  dengan ketakutannya sendiri. Namun ada sebuah zaman di mana kekuasaan demikian terlihat nyinyir dan kehilangan kepercayaan akan dirinya sendiri. Seolah gemetar melihat bayangannya , kekuasan seperti ini tumbuh dalam dunianya yang serba penuh kecurigaan. Di zaman dengan rezim kekuasaan yang tak mampu lagi membaca gerak batin rakyatnya, segala apa pun akan terliat demikian mengancam. Di sana, kekuasaan tiba-tiba tak pernah lagi tertidur. Senantiasa meperlihatkan wajah yang melotot dan curiga dengan segala apa pun yang dianggap akan meruntuhkan kekuasaanya. Zaman dengan rezim seperti ini, segalanya memang menjadi sebuah dunia dengan paranoia yang berlebihan.

Di negeri kita ini, kekuasan pernah berwujud seperti itu. Sebuah rezim yang berdiri dengan tangan yang bertolak pinggang.  Lalu hitungan “korban” pun seperti deretan panjang hitungan yang senantiasa terus bertambah. Di rezim kekuasaan dengan  corak seperti ini, “korban” yang pertama adalah pikiran kita. Seperti mendirikan sebuah pagar kawat berduri, kekuasaan memasukkan pikiran kita di sana dan “menggembalakan”nya agar terlihat “jinak di mata kekuasaan.  Memang sebentuk keseragaman berpikir  adalah hal yang tak dapat ditawar-tawar  dalam iklim sebuah rezim seperti ini. Sebuah dunia di mana pengusa seakan menempel dan terus mengawasi segala apa yang kita pikirkan.

Lalu kita pun bisa bercerita banyak tentang rezim seperti itu. Seperti ketika sebuah buku tiba-tiba demikian  membuat kekuasaan bergidik ngeri. Maka buku-buku pun menjadi terlihat begitu “subversif”.   Berbagai jenis buku pun kemudian dilarang beredar dan bahkan dianggap sebagai aib. Barangkali kita tak habis pikir, mengapa sebuah kekuasaan mampu berperilaku sekonyol itu, namun pengalaman memang senantiasa menyajikan cerita serupa. Tentang sebuah kekuasaan yang menganggap “kata-kata lebih menakutkan dari 1000 pasukan tank”

Namun, agaknya “pikiran” yang tertuang dari sebuah buku memang tak mampu di musnahkan begitu saja. Barangkali, di tengah “kawat berduri” tersebut, pikiran dari sebuah buku terus saja membelah dirinya. Lewat peredaran yang terbatas dan bersifat klandenstin, sebuah buku kemudian beranak pinak dan terus mempublikasikan dirinya. Lewat bisik-bisik “bawah tanah”, percakapan tentang sebuah buku justru semakin mencorong dan menggempa batin perlawanan seseorang.  Di sana, sebuah buku, bukan lagi berhenti hanya sebagai sebentuk dialog intelektual semata, namun telah bermetamorfosa menjadi  sebuah “idealisme” yang mampu menjadikan seseorang terlihat demikian menakutkan di hadapan sebuah kekuasaan.

Inilah barangkali, mengapa pada rezim otoriter Orde Baru lalu, buku menjadi sebuah “perlawanan”  yang demikian menggetarkan. Di zaman ini, sebuah buku bisa membawa penulis dan pembacanya digiring ke penjara.  Inilah zaman di mana sebuah perlawanan lewat sebuah buku demikian mampu meneror batin sang penguasa. Dan kita, yang pernah mengalami situasi seperti itu, menjadi paham bahwa  pikiran yang tertuang pada sebuah buku mampu mempunyai kekuatan yang demikian dahsyat. Dan peristiwa membaca sebuah buku yang saat itu dilarang, menjadi sebuah peristiwa “perlawanan” yang demikian membikin kita tergetar hebat.Memang sebuah buku pada sebuah rezim yang demikian takut pada pikiran yang “telanjang” tak akan pernah menjadi akur. Karena di sana, pada rezim kekuasaan seperti itu, akan terlihat keropos dan konyol ketika sebuah buku mampu “menelanjangi” realitas yang ada.***

Makassar, 2012
Diberdayakan oleh Blogger.