Palestina



Barangkali, tak ada pembicaraan tentang sebuah daerah yang begitu  menyedihkan  selain Palestina. Sebuah tempat di mana darah, air mata dan lirih kematian  bercampur dendam demikian bersenyawa dengan udara keseharian yang kita hirup. Memang, sepertinya tak ada lagi bahasa kemanusiaan yang bisa menjelaskan mengapa di tanah ini, nyawa menjadi terlalu murah dan hidup menjadi sedemikian “tidak normal” lagi. Namun, orang-orang berkata; itulah Palestina. Sebuah tempat yang menjadikan sejarah selalu terlihat demikian  muram. Di mana manusia dan segala nilai-nilai kebaikan yang ada dalam dirinya dipertaruhkan habis-habisan. 

Berbicara tentang Palestina, seperti berbicara tentang sebuah kisah panjang peperangan yang tak juga terselesaikan. Di tempat  inilah kisah tentang orang-orang yang terusir dari tanah yang menghidupinya   senantiasa terus berulang-ulang. Semuanya terlihat bagaikan episode drama kemanusiaan yang tak lagi mampu menegakkan apa yang kita biasa namakan “akal sehat hati nurani”. Di Palestina, ruang-ruang dialog dan persaudaraan umat manusia bagai telah menutup pintunya.

Cerita muram tentang tanah yang di pojok-pojoknya pernah “melahirkan” kekuatan spiritual dari agama-agama besar dunia, seperti tak henti-hentinya “merintihkan” kematian dan pertumpahan darah. Saya tak tahu pasti, mengapa pada tanah yang demikian “kudus” ini, orang-orang demikian beringas memperebutkannya. Alasan tentang kepemilikan asli dari tanah ini seperti sebuah cerita yang membingungkan bagi sebuah “akal sehat dan hati nurani” kemanusiaan kita. Karena dalam dimensi spiritual keagamaan mana pun, bumi ini ada sebagai tempat untuk menegakkan nilai-nilai dasar manusia yang “dipinjamkan” Sang Pencipta untuk kemaslahatan segenap kebaikan manusia.

Tapi orang-orang berkata; itulah Palestina. Sebuah tempat di mana pertaruhan kemanusiaan dan nilai-nilai spiritual yang sejatinya lahir dengan gema “kedamaian” menjadi terlihat demikian ironis.  Semuanya terlihat seperti drama tragedy dalam panggung sejarah perjalanan manusia ketika berhadapan dengan nilai spritualitas serta kesucian Ilahiah. Di sana, di tanah Palestina, kita bagai kehilangan kemampuan untuk merumuskan “indahnya kedamaian” itu. Di sana, prasangka, ketak percayaan dan belitan kepentingan internasional serta keserakahan dunia mempertontonkan dirinya secara kasat mata. Di Palestina inilah, “tangan-tangan kotor” kepentingan dunia internasional dan keegoisan manusia tumbuh demikian subur.

Memang, untuk bercerita tentang Palestina, lidah kita selalu saja menjadi demikian terasa pahit. Namun bagaimana pun kita harus membicarakannya. Senantiasa menjadikannya sebagai ruang untuk meletakkan harapan bahwa kedamaian adalah puncak dari kemampuan manusia dalam segala potensi kebaikannya. Barangkali, di suatu saat, Palestina menemukan nilai-nilai tersebut dalam pojok-pojok bangunan yang runtuh karena bombamdir senjata.  Bagaimana pun kita selalu berharap di suatu pagi dengan cuaca yang renyah, orang-orang Palestina menemukan senyum yang mungkin tak pernah lagi mereka lakukan.

Cerita tentang Palestina dan ironi-ironi yang mengiringinya mungkin masih akan kita saksikan. Deru pesawat Israel yang memborbardir gedung-gedung dan jeritan kematian warga Palestina , barangkali masih akan kita bawa dalam cerita-cerita sedih keseharian kita. Mungkin, sebagian besar dari kita tak lagi menaruh harapan akan adanya damai di sana. Dendam dan pembalasan adalah jalan buntu yang banyak kita rasakan. Tapi kata orang-orang; itulah Palestina. Tempat di mana doa demikian dekat dengan Tuhan. Doa yang menandakan kita masih punya harapan.***

Makassar 2011
Diberdayakan oleh Blogger.