Yang Lain


Ada begitu banyak yang bisa kita ceritakan tentang  bagaimana pertemuan-pertemuan dengan “yang lain” kemudian membawa kita pada sebuah pemahaman. Semacan sebentuk “dialog” sederhana yang membawa  sebuah nilai –apapun yang berwujud dari nilai tersebut.  Barangkali inilah yang oleh Emmanuel Levinas, seorang filsuf Prancis, pernah meletakkan “wajah orang lain” dalam ruang permenungannya tentang eksistensi manusia.  Memang, dalam pertemuan dengan “wajah yang lain” itulah segala eksistensi kemanusiaan kita menemui dirinya dan kemudian menentukan cara kita “memperlakukan” sesuatu di luar kita. Meminjan bahasa Levinas bahwa dengan “wajah orang lain” itulah kita memulai sebuah “tindak etis”

Pertemuan-pertemuan dengan “yang lain” bagaimana pun juga senantiasa memunculkan semacam “persentuhan” yang tak pernah terangkum dalam kesimpulan yang paripurna.  Di sana, selalu saja ada yang tak selesai.  Ini barangkali mengisyaratkan bahwa kita memang tak mampu bisa memahami “yang lain” secara tuntas. Dan di sana pula, kita sedikit banyak paham bahwa “yang lain” itu tak akan bisa kita kendalikan apalagi menguasainya. Selalu saja ada yang melesat luput dari jangkauan pemahaman kita. Seperti ketika penyair Amir Hamzah, dengan pedih namun sumringah menerima ketakterjangkauan “yang lain” itu dengan mengatakan, engkau kemudian “tertangkap dan lepas”.

Namun barangkali bukan dalam “kepedihan” seorang Amir Hamzalah kita kemudian begitu prihatin dengan nilai-nilai kemanusiaan kita kepada “yang lain” itu. Karena bagaimana pun, ketidak mampuan kita memahami, mengendalikan dan menguasai “yang lain” memang berangkat dari keterbatasan yang tak bisa kita elakkan. Yang menjadi keprihatinan kita adalah ketika dunia menggiring segala “persentuhan” dengan “yang lain itu menjadi sebuah medan pertarungan “pengendalian dan penguasaan”. Di sana, kita kemudian memperlakukan “yang lain” dengan  sebentuk prasangka dan lumuran kecurigaan.  Kita tak ingin “yang lain” itu memiliki perbedaan karena perbedaan demikian membikin kita merasa tak nyaman. Dengan kata lain, kita ingin menguasai dan mengendalikan segenap kemungkinan eksistensi “yang lain” tersebut.

Dalam konteks inilah, kita  bisa menjelaskan mengapa ruang relasi-relasi kemanusiaan kita terlihat demikian penuh dengan “pemaksaan kehendak”. Ini pula yang bisa menjelaskan mengapa “yang lain” itu tiba-tiba kita labeli dengan berbagai macam atribut yang  merendahkan dan menghinakan. Kita pun menyebut mereka :kafir, komunis, kapitalis atau apa pun sebutan yang menempatkan “yang lain” itu sebagai “yang bukan manusia”.

Tak mengherankan bila kekerasan dalam pemaksaan kehendak untuk mengendalikan dan menguasai menjadi sebuah pembenaran dan kebenaran. Atas nama prasangka dan kecurigaan, “yang lain” itu haruslah tunduk pada kemauan kita.  Di sana, Tuhan, ideology dan etnis menjadi “alat jualan” kita untuk mengendalikan dan menguasai “yang lain”. Kekarasan dalam pola seperti ini barangkali merupakan sebentuk “kegagalan” kita dalam memaknai eksistensi “yang lain”.  Cerita keseharian tentang kekerasan, pemaksaan kehendak bahkan pemusnahan menjadi sebuah cerita yang terus-menerus  mempersaksikan “kegagalan” kemanusiaan kita. Dan di sana kita menganggap bahwa “kebenaran” adalah milik kita sendiri.

Di Indonesia, di sebuah negeri yang berdiri di atas pondasi keberagaman, kedewasaan nilai-nilai kemanusiaan kita kerap dipertahuhkan. Karena bila kita menempatkan “yang lain” sebagai sebuah ancaman yang harus kita taklukkan, kendalikan dan kuasai , maka kekerasan yang berlabel agama, ideology dan etnis  menjadi medan paling gampang buat disulut. Dan disaat itulah nilai-nilai  kemanusiaan kita jatuh demikian merosot.***   

Makassar 2012
Diberdayakan oleh Blogger.