Aku Menyebutmu pada Sebuah Kota Laut



Aku menyebutmu pada sebuah kota laut yang selalu membawaku kesana kembali. Jalan tempat segala waktu berkemurun di sisi kita. Kota ini selalu membangunkan aku dari angin dan gedung-gedung yang menjadikan kita sebentuk puisi kecil.  Barangkali kisah kita adalah derai-derai panjang yang tak akan selesai. Di sana, kulihat matamu bergelombang pada tepi laut itu. Ombak yang tak henti-hentinya mencatat debur jantung kita yang berlari di antara senyum dan pantai. Membangun rumah angin di sisi tangan kita yang bergandengan.

Aku menyebutmu pada sebuah kota laut yang kini menjadi sungai kecil dialiran darahku. Malam-malam yang larut dalam gurat wajahmu ditemaram lampu jalan. Kita adalah musim yang diam-diam memasang rindu di pojok-pojoknya tempat kita saling mengikat hati. Menanam  pada dinding-dindingnya kenangan yang  tumbuh pada rimbun pohonan tempat sepasang kekasih tersenyum membaca jejak kita. Sebuah kota yang kita bawa kemana pun kita pergi. Sepenggal puisi yang kita hirup dari udara tempat kita menghidupinya selalu.

Aku menyebutmu pada sebuah kota laut yang selalu membawaku kembali kesana. Di sana, petikan-petikan daun luruh menggambar langit sepanjang pantai dan senja pada pucuk-pucuk ombak yang melaju. Membungkus kita pada rindu dan tawa lepas di pasir yang berdesir. Pada ujung cakrawala di senyummu itu matahari membenamkan dirinya dalam pelukan bersahaja. Aku ingin tertidur di sana dalam laut dan kota yang demikian hening dalam nyanyian-nyanyian kecilmu. Memasang mimpi di sana dari kerinduan dan kerinduan yang tak pernah berkesudahan. Pada sebuah kota laut tempat kita saling menyebut nama masing-masing.




Makassar 2012
Diberdayakan oleh Blogger.