Bahasa Hati 22 Penyair Perempuan: Sebuah Pembacaan Ringkas


Ketika sebuah buku diterbitkan, --apa lagi itu adalah buku kumpulan puisi—setidaknya bisa  memberi kita semacam signal bila ruang-ruang dealektika pemikiran dan pengucapan batin kebudayaan sebuah masyarakat (bangsa) masih menggeliat. Karena bagaimana pun, sebuah buku bukanlan hanya sekadar sehimpunan tulisan yang berisi pemikiran semata, namun merupakan “jiwa” yang menghidupi dimensi batin dari masyarakat-bangsa tersebut. Dengan kata lain, tidak berlebihan bila mengatakan bahwa ketika sebuah buku terpublikasikan, maka  kebudayaan kembali melangkah setapak untuk menyempurnakan dirinya.

Inilah yang pertama kali saya rasakan ketika pertama kali melakukan pembacaan terhadap sebuah buku Antologi Puisi 22 Perempuan Indonesia dengan judul yang unik dan menarik: “Hati Perempuan”. Hal pertama yang sampai pada benak saya adalah sejenis “kegembiraan” untuk tidak mengatakannya sebagai “keterpesonaan batin”. Keterpesonaan itu kurang lebih berangkat dari sebuah jejak sejarah cukup panjang ketika saya  diam-diam “meneropong” lapangan kesusastraan Indonesia, khususnya puisi.

Pada letakan sejarah tersebut, kesusastraan Indonesia –terutama puisi, senantiasa hadir dalam bayang-bayang  dominasi penyair pria. Di sana, dalam lingkaran dunia kepenyairan, perempuan hanya bagai setitik noktah kecil semata. Toeti Haerati, Rita Oetoro, Isma Sawitri adalah nama-nama penyair perempuan yang  sedikit itu. Dengan demikian, dunia perpuisian Indonesia selalu bergerak pada tataran “maskulinitas” serta “cara pandang” pria dalam pengolahan batin dan pengucapan puitik. Inilah sejarah yang meletakkan “perempuan” sebagai ruang untuk “diucapkan” dan bukan “mengucapkan”.

Barangkali, bermula pada tahun 2000-an –sejak era tehnologi jejaring sosial demikian bergemuruh dalam ruang-ruang komunikasi masyarakat, dunia kesusastraan, terutama puisi, benar-benar mengalami semacam “kelahiran kembali”. Jagad perpuisian Indonesia mengalami ekspansi yang demikian menggairahkan di sana. Bisa dikatakan lewat media maya tersebut, “kampus kehidupan” yang mampu memberi ruang yang sangat luas  bagi lahirnya penyair-penyair perempuan semakin terbentuk. Dan itu kemudian berdampak pada gairah perbukuan yang kemudian mengiringinya.

Pada buku antologi puisi 22 perempuan Indonesia: “Hati Perempuan”, dunia perpuisian Indonesia seperti  menjawab “kegairahan” tersebut. Dalam buku ini, kita seperti diperhadapkan pada sebuah “dunia” yang sebelum hanya mampu diserap secara lamat-lamat. Sebuah “dunia perempuan” dengan pengucapan “perempuan”. Ke 22 penyair perempuan dalam antologi ini memang berangkat  dengan  tema yang cukup beragam. Kekuatan pengucapan serta gaya pengungkapan puitiknya pun sangat bervariasi. Namun satu hal yang merekatkan mereka semua adalah daya pengungkapannya yang sangat bersahaja. Memasuki setiap puisi dalam buku ini, kita seperti diajak untuk “menyentuh bumi dengan hati”.  Semuanya seperti bergerak dalam “percakapan” lirih tentang detak hidup keseharian. Tak ada yang mengawang-awang di sana. Serupa hujan yang perlahan turun; sejuk dan menenangkan hati.

Barangkali di sinilah letak perbedaan besar ketika kita diperhadapkan pada bahasa puitik yang dominan pada penyair pria, terutama penyair pemula; sebuah sikap pengucapan yang cenderung “digelap-gelapkan” (obskurantisme). Kesalahan fatal dalam penyikapan puitik tersebut karena berangkat dari asumsi bahwa puisi itu haruslah “menyembunyikan makna” dirinya. Akibatnya adalah sebuah puisi yang dilahirkan diupayakan lebih mirip seperti “teka-teki silang”. Padahal dalam sebuah puisi yang telah melahirkan dirinya sendiri, kesederhanaan itulah yang akan muncul. Di sana, misteri kehidupan justru semakin terasa kental ketika sebuah pengucapan puitik lahir dari kebersahajaan itu.

Di sinilah, antologi penyair 22 perempuan Indonesia itu meletakkan dirinya. Dalam kebersahajaan pengucapan puitiknya, setiap sajak yang ada seperti sebuah “bahasa hati”. Bahasa yang hanya dibisa dipahami dan dimengerti ketika kita membacanya juga dengan hati. ***


Makassar, 2012
Diberdayakan oleh Blogger.