Berhelai-Helai Kuketuk Pintu Rindu



Berhelai-helai kuketuk pintu menjadi rindu. Menjadi kamu yang menjawab jatuhnya cuaca di pagi itu. Di langit taburan kerlip kecil dari gerimis mulai mempertemukan kita. Ada yang menjelma setahun di sana dalam jalan-jalan yang memetik luruh senyummu. Menebarkannya dalam benih musim yang selalu kita pasang di setiap ketukan pintu. Sepertinya suara itu adalah setahun dari sebuah puisi kecil yang engkau catatkan tepat di jantungku. Menjawab panggilan di setiap gelombang sunyi meletakkan ruang tamu itu menjadi rimbun taman.

Sepetak lantai di halaman adalah gemuruh yang menemuiku pagi itu. Angin yang telah banyak melacak musim penghujan sejenak berhenti di kerling matamu. Di sana, segalanya menjadi petikan lagu dari ribuan perjalanan di antara kota yang membentang dari sunyi hingga rindu. Di sudut-sudut ruang  merancang percakapan-percakapan kecil kita menjadi sebentuk senyum yang demikian sederhana. Di sana, aku berlayar di setiap alunan gerimis dan suaramu. Mencari ketukan di hatimu yang runduk dalam gelombang  rindu yang selalu membawaku padamu.

Berhelai-helai kuketuk pintu menjadi rindu. Musim-musim yang menarikku menemui kembali senyum itu. Sepasang kekasih yang menjelma setahun dalam gemuruh panjang kerinduan. Aku mengetuk pintu di sana dalam sorot matamu yang demikian menenggelamkan sunyi. Cuaca yang menggambar kota tempat kita menatapnya dari kaca. Pada perjalanan yang membawa kerinduan ini tak henti-hentinya mengetuk pintu dari pertemuan pagi itu. Di sana, engkau perlahan menitipkan senyum pada sebuah pintu yang akan kuketuk kembali bila kerinduan ini tak tertahan lagi.


Makassar, 2012
Diberdayakan oleh Blogger.