Cendekiawan


Dulu, dalam keremajaan wawasan dan pikiran, pernah saya demikian "bernafsu" dengan gagasan "kecendikiaan". Setiap kali mendengar kata itu di sebut, saya seperti diamuk oleh kegairahan yang menggelembung dahsyat. Dibenak saya, kata itu bagaikan mantra yang menyihir segenap saraf-saraf idealisme saya untuk "terbakar". Ketika sebuah koran menyebut seseorang itu cendekiawan, tidak disangsikan, saya pasti memandang takjub penuh pesona kepada orang tersebut.

Entahlah, mengapa saya sedemikian terpesona dengan itu semua. Mungkin karena "ruang" latihan berpikir saya masih sempit. Mungkin karena "idealisme" pemuda tanggung masih "mencandu" dalam batok kepala saya. Atau mungkin, karena bacaan-bacaan saya tentang kecendekiaan terlalu "bombastis" menggambarkannya. Tapi yang pasti, saya kerap "mengharu-biru" bila kata itu disebut.

Lalu bagaimana saat ini saya bereaksi terhadap kata-kata itu? Bagaimana saat ini saya meletakkan konsep kecendikiaan dalam kontekstual kekinian? Apalagi ketika paradigma dunia telah bergeser dalam memaknai apa yang telah kita mitoskan sebagai pasca modern?

Barangkali, kita memang sudah tidak bisa lagi mengadopsi pemahaman "Julian Benda" dalam membedah pengertian tentang apa itu cendekiawan. Persoalannya terletak pada bergeraknya paradigma dan cara pandang kita dalam membentuk nilai-nilai hidup

Cendekiawan bukan lagi sejenis makhluk dengan segala jenis atribut-atribut "To Manurung"nya. Sejenis manusia "pembawa suara moral" di depan pintu gerbang peradaban yang telah rusak. Seorang anak manusia yang telah "mewakaf"kan semesta pikiran dan pegabdiannya untuk tegaknya "umbul-umbul" kemanusiaan disepanjang garis peradaban. Seorang yang dengan tanpa prentensi apa-apa sanggup berkata TIDAK pada zaman yang perlahan busuk.

Saat ini,barangkali cendekiawan tidak lebih dari sekadar "katalis-katalis" yang hanya berfungsi sebagai "pemicu" yang aktif bagi dialektika kemanusiaan kita. Cendekiawan saat ini, adalah manusia yang bertindak tidak lebih sebatas "polisi lalu-lintas" pemikiran.

Makanya, kita tidak lagi kaget ketika ada seorang yang kita anggap cendekiawan dan demikian "lantang" menyampaikan sikap dan pemikirannya yang kritis ketika berada diluar sistem, menjadi melempem dan cenderung sangat defensif ketika kekuasaan telah menyihir dan membiusnya. Tapi itu sah-sah saja. Tak ada yang luar biasa di sana.

Julian Benda, mungkin bakal "marah" besar.Tapi untuk zaman sekompleks dan separadoks seperti sekarang ini, dimana pemikiran demikian gampang menjadi usang, seperti lagu pop yang "meledak" dan kemudian redup, Cendekiawan menjadi sebuah hal yang aneh. Dengan demikian, barangkali cendekiawan kita harus "nikmati" seperti kita menikmati sebuah lagu nostalgia saja. Enak, merdu membangkitkan kenangan manis, tapi tetap saja nostalgia.

Haruskan demikian? Entahlah. Kecuali ada yang berani mengatakan tidak.


Makassar, 2003
Diberdayakan oleh Blogger.