DNA dari Gender dan Jenis Kelamin


Agaknya, sebuah zaman selalu tumbuh dengan  membawa ruang-ruang paradigmanya sendiri. Setiap zaman hadir dengan kerekatan budaya sebagai cara penghayatan suatu masyarakat menafsirkan realitas hidup dan kesehariannya. Cara pandang dunia dan penghayatan hidup inilah yang menjadikan sebuah realitas terkadang dianggap sebagai sesuatu yang terberi (given) dan sangat established. Di sana, dunia kemudian membangun sebuah “sekat ajaib” di mana interaksi manusia diatur dalam ruang-ruang budaya dengan merekatkannya pada “wilayah-wilayah” yang kemudian dikenal sebagai gender.

Sejatinya, gender merupakan sebuah sebutan yang “netral”. Dia tak menunjuk apapun selain mencoba meletakkan “wilayah-wilayah” interaksi budaya suatu masyarakat dalam cara pandang kebudayaan. Di sana, gender hanya “cara pandang fenomenologis” kebudayaan ketika memberi “rujukan” untuk suatu pola interaksi dalam kebudayaan tersebut. Sekat-sekat yang terbentuk pada pola interaksi tersebut tidak lebih hanyalah sebuah “indeks” untuk menunjuk bagaimana sebuah sistem interaksi suatu kebudayaan mengatur aktifitas kehidupannya. Ivan Illich, menjelaskan hal itu secara panjang lebar dalam bukunya, “Gender”.  Kritikus budaya ini mencoba menjernihkan kembali pemahaman kita tentang “salah kaprah” intelektual dan flosofis dalam meletakkan istilah gender.

Salah kaprah intelektual dan filosofis ini justru banyak terjadi pada pejuang dan kelompok feminist yang mengobarkan nilai-nilai perjuangannya dengan meletakkan kutub yang saling berhadapan dan bermusuhan antara perempuan dan laki-laki. Kutub ini memang semakin mengeras karena suatu kebudayaan senantiasa diasumsikan sangat bersifat patriarchal. Inilah yang menjadikan wilayah-wilayah persentuhan antara perempuan dan laki-laki dalam ruang budaya menjadi sarat dengan kecurigaan dan tuduhan. “Perang” seperti inilah yang kemudian membawa kutub semakin melebarkan dan dirkursus yang berkembang senantiasa berada dalam “zona kalah atau menang”.

Bagaimana pun gender adalah sebuah realitas yang tumbuh bersama kebudayaan disuatu masyarakat. Dia bukanlah sesuatu yang terberi (given). Dengan demikian relativitas dan temporalitas merupakan hal yang inheren di dalamnya. Yang menjadi masalah adalah ketika ideologi modern kemudian membajaknya dan mereduksi realitas budaya ini dalam ruang yang sangat sempit. Dunia modern mengelupas nilai-nilai gender dan memamerkannya di ruang publik dengan sebutan seksis (jenis kelamin). Di sinilah ideologi modernitas demikian terlihat bernafsu “menghapus” perbedaaan seksis tersebut. Dengan kata lain, ide besar dari dunia modern adalah menciptakan “kuburan” bagi jenis kelamin.

Celakanya, kebanyakan dari para pejuang feminist kita kemudian terperangkap pada “permainan” ideologi modernitas itu. Pada umumnya mereka menganggap nilai-nilai perjuangan gender sama dan sebangun dengan “penghapusan seksis” Padahal nilai nilai ideologis yang menjadi daya gerak “penghapusan seksis” ini adalah sebuah nafsu hegemonik dan keseragaman pada tata nilai dan cara pandang. Di sana, manusia benar-benar di redusir menjadi hanya sekadar instrument dalam “mesin besar” sistem modernitas.  Manusia yang tanpa “jenis kelamin” yang seragam yang telah meruntuhkan nilai-nilai kebudayaannya yang unik yang biasanya merekat pada gender.

Namun barangkali, “salah kaprah” intelektual dan filosofis ini semakin mampu disadari oleh para pejuang feminist kita. Dekonstruksi filsafat modern semakin menjadi sebuah rujukan untuk membangun basis nilai perjuangan mereka. Inilah yang saat ini semakin mewarnai gerakan-gerakan kaum pejuang ini, di mana mereka telah mulai membuka pintu untuk sebuah dialog lintas budaya serta meletakkan garis perjuangannya “melawan hegemonik dan penyeragaman” yang diusung ideologi modern tersebut***

Makassar, 2012
Diberdayakan oleh Blogger.