Dongeng Kopi dan Kebudayaan


Ada yang selalu menarik ketika kita bercerita tentang kopi. Dalam tataran tertentu kopi memang tidak lagi hanya berhenti pada sejenis minuman ringan semata. Kopi adalah sebuah tradisi dan life style. Sebuah gaya hidup yang terbangun dalam ruang panjang “perbenturan” peradaban. Dengan demikian,  sejarah kopi adalah juga sejarah pemikiran. Sejarah yang senantiasa berada dibelakang layar dari gemuruh perubahan --baik dalam dimensi kebudayaan, filsafat mau pun politik-- yang hadir dalam ruang-ruang dialektika setiap zaman.

Di Eropa abad 19, kopi hadir dalam dimensinya yang paling gemerlap. Di café-café , para pemikir dan filosof dari berbagai mazhab mengepulkan pemikirannya diantara rokok dan kopi. Inilah ruang di mana peradaban dan pemikiran menjadi sebuah adukan yang demikian dinamis. Pada tradisi seperti inilah secangkir kopi mampu “membumikan” pemikiran filsafat yang paling mengawang sekali pun. Kehadiran kopi, di antara lingkaran-lingkaran pusat pemikiran menjadi berputar pada porosnya. Seperti semesta, kopi merupakan perekat dalam berbagai “benturan besar (big bang)” yang  kemudian menjadi penentu gerak masa depan manusia.

Gerak kebudayaan yang lahir bersama secangkir kopi memang memiliki romantikanya sendiri. Dalam setiap zaman, kopi membuka berbagai kemungkinan apa pun tentang bagaimana peradaban dan pemikiran dibentuk. Barangkali inilah menjadikan kopi sebagai sebuah sejarah yang demikian unik serta menyimpang dari jenis minuman yang lain. Semuanya seperti bergerak dalam porosnya. Lingkaran yang terlahir dan kemudian dipertemukan dalam adukannya .

Kopi memang sebuah cerita yang demikian menarik ketika “bahasa kebudayaan” menjadi ruang pertemuan yang paling bisa menerjemahkan isi kepala dan batin manusia. Kekuatan yang terkandung dalam zat kopi seperti tak habis-habisnya mampu “membongkar” kemapanan yang telah jumud. Secangkir kopi seperti mampu meletakkan hal yang paling irasional sekali pun ke dalam ruang-ruang kemungkinan kemanusiaan kita. Bahasa kebudayaan  kopi adalah bahasa egalitarian yang demikian alergi pada dimensi yang mematikan ruang-ruang dirkursus pemikiran.

Inilah yang menjadikan bahasa kebudayaan yang hadir bersama kopi seperti menyimpan bahasa yang demikian universal. Serupa dengan musik, bahasa yang diperagakannya mampu dinikmati oleh batin manusia.Setiap kebudayaan, barangkali memiliki keunikannya sendiri, namun seperti musik,  bahasa kebudayaan yang dibawa dalam tradisi kopi mampu dicerna dalam perut pemikiran pada kebudayaan apa pun. Dengan demikian, dalam ranah kebudayaan apa pun, kopi mampu meletakkan dirinya tepat pada inti kebudayaan tersebut. Sebagaimana zat kafien yang terkandung dalam dirinya, kopi mampu menjadi “katalisator” serta “dinamisator” yang demikian inheren dalam tumbuh kembangnya pemikiran kebudayaan. Seluruh racikan dan adukan yang melingkupinya menjadi sebuah “bayang-bayang” ke mana peradaban dan pemikiran kemanusiaan kita menuju.

Barangkali inilah dongeng yang paling “bombastis” tentang bagaimana kopi mampu hadir dalam dimensi kebudayaan dan pemikiran manusia. Namun bagaimana pun, kita sama sekali tak mampu mengelakkan keberadaannya dalam seluruh dimensi itu. Kopi hadir dalam keseharian kita dan di sana, kopi telah menjadi sebuah tradisi panjang. Sejarah yang melingkupinya juga menceritakan bagaimana minuman ini mampu merasuki segala kebudayaan manusia dan bertahta di puncak gaya hidupnya. Dengan kata lain, minuman ini merupakan “raja” disegenap kebudayaan manusia. “Raja” yang tak ingin mengakui dirinya sebagai “Raja”.***


Makassar, 2012
Diberdayakan oleh Blogger.