Gus Dur



Beberapa hari lalu kita memperingati 1000 hari meninggalnya seorang guru bangsa; Abdur Rahman Wahid yang demikian karib kita panggil Gus Dur. Saya tidak tahu persis, bagaimana kebanyakan dari kita meletakkannya dalam ruang perjalanan sejarah kehidupan, keagamaan dan kebangsaaan pada era mutakhir ini. Namun, yang bisa kita pastikan adalah jejak yang ia torehkan pada semesta pemikiran dan penyikapannya pada sesuatu yang ia yakini demikian membekas dalam.

Kalau pun kita kerap dihinggapi perasaan “perih” sepeninggal Abdurrahman Wahid (Gur Dur), lebih karena sosok guru bangsa ini mampu membuat daya pikir kita tidak terkotak dalam sekat “hitam-putih” semata.  Gus Dur, bagaimana pun adalah sebuah fenomena yang mampu melesat dan tak bisa dikerangkeng dalam wadah pemikiran tertentu. Sejarah yang dihamparkannya dalam perjalanan pemikiran  keagamaan dan kebangsaan tertoreh dengan dalam pada setiap jejak  yang ditinggalkan. Gus Dur adalah sebuah “tanda” dalam rangkaian “bahasa pluralisme” yang menjadi titik berangkatnya dalam memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan –terutama nilai Islam—agar terlihat lebih lembut dan merangkul. Bukan wajah Islam yang “beringas” dan demikian rigid dalam memandang kebudayaan serta realitas perbedaan hidup sehari-hari.

Barangkali berbicara tentang Gus Dur selalu saja meletakkan kita pada rangkaian pemikirannya yang cenderung banyak ditafsirkan sebagai pemikiran yang “kontroversial”. “Mendekati ruang semesta pemikirannya, memang  kita kerap banyak”tersandung” pada kelokan-kelokan tajam yang cukup mengejutkan. Mungkin di sinilah Gus Dur banyak disalah tafsirkan. Ruang dialektika pemikirannya seperti bola yang memantul pada sudut-sudut yang kerap membuat kita tercenung.

Pada sisi inilah Gus Dur adalah sebuah ruang yang demikian lapang dalam meletakkan sikap-sikap kemanusiaan. Bagi Gus Dur,jiwa  kemanusiaan adalah sikap religiusitas yang paling inti dalam nllai-nilai yang diemban oleh agama mana pun. Di sinilah Gus Dur kerap tampil dalam 1001 penafsiran dalam percikan pemikirannya. Pemihakannya terhadap minoritas menjadi perjuangan religiusitas-kemanusiaan yang ditegakkannya sejak dahulu. Dalam bingkai itulah Gus Dur  mengibarkan “bendera” pluralismenya dalam tataran kebangsaan kita.

Satu hal yang sangat menarik dari dialektika percaturan pemikiran dan gagasan seorang Gus Dur adalah bagaimana memandang umat Islam, khususnya umat Islam Indonesia dalam bingkai pluralisme itu. Baginya, kebanyakan umat Islam masih saja terkerangkap pada sikap dan mentalitas inferior. Gejala mentalitas seperti itu demikian gampang kita tangkap ketika kebanyakan dari kita, umat Islam, bereaksi terhadap perbenturan relasi-sosial yang kemudian “dipolitisasi” oleh sekelompok orang dengan membakar sentimen keagamaan. Pada ruang inilah, Gus Dur melakukan penyikapan yang demikian teguh untuk meletakkan dirinya sebagai “benteng” perlindungan bagi minoritas.

Dengan demikian, kalaupun kita kerap dihinggapi perasaan “perih” sepeninggal Gus Dur, lebih karena sosok “guru bangsa” ini tak lagi tergantikan. Kerinduan terbesar pada sosok Gus Dur adalah semacam kerinduan untuk tetap menjaga “akal sehat” kemanusiaan kita dari luapan emosi yang bersendikan wajah Islam yang kaku dan tak bersahabat. Kerinduan untuk mampu meletakkan kelapangan hati dan berbagi ruang dalam keragaman. Di sini, barangkali “suara” Gur Dur adalah juga “suara” lirih di tengah lautan sikap yang lebih dilumuri oleh sikap kecurigaan serta menempatkan  “yang lain” pada ranah seberang yang saling berhadap-hadapan. Kerinduan kita pada sosok Gus Dur adalah kerinduan dari wajah Islam yang ramah dan bersahabat.***          
Diberdayakan oleh Blogger.