Jendela

Kebanyakan berbentuk kotak. Kubus atau persegi panjang. Sebuah tekstur yang agak kaku dan kadang tak menarik. Orang-orang kemudian menamakannya jendela. Namun ketika kita melewatinya, perhatian kita selalu saja tersedot di sana. Barangkali bukan karena bentuknya, namun lebih karena pada “wilayah” itulah kita bisa menghibungkan diri pada sebentuk ruang lain. Sebuah ruang yang diletakkan pada dimensi privasi. Dimensi dalam yang tak semua orang diharapkan melihatnya.


Orang-orang menamakannya jendela. Sebuah jembatan yang menjadi “celah” tempat segalanya berhenti pada dugaan. Kita hanya bisa menangkapnya dalam sudut yang demikian terbatas. Saat kita melewatinya, kita kerap membangun persepsi kita sendiri atas apa yang ada di dalam. Kadang di sana, kita hanya menangkap sebuah kelebat bayangan. Siluet dalam garis-garis tipis yang bergerak perlahan dan kemudian menghilang. Kita tahu dia masih ada di sana, namun semuanya hanya kembali terbentuk dalam pikiran  Dia menjadi ada dan tiada.

Suatu ketika, pada saat hari demikian terang dan matahari menumpahkan segenap cahayanya pada jendela yang kita lalui, sebuah sorot mata tepat menghubungkan kita pada saling bersitatap. Barangkali kita adalah orang asing baginya dan diapun asing bagi kita. Namun dalam sepersekian detik tatapan itu terpaut, sesuatu yang aneh kadang mendadak muncul. Inilah sebuah momen yang tak mampu dijelaskan dalam ruang-ruang rasional kita. Tatapan itu adalah semacam peneguhan kembali eksistensi kita. Kemanusian yang paling murni dalam dasar ruang batin kita. Mata dengan mata dalam bingkai sebuah jendela.



Makassar, 2003
Diberdayakan oleh Blogger.