Kami adalah Rumah yang Kehilangan Rumah


Kami memasang sebuah rumah dalam lekuk aliran darah di mana kepergian adalah juga kepulangan. Di sana, berlapis-lapis musim senantiasa menemui kami dalam hujan. Kisah-kisah tentang bangsa yang mencari rumahnya kembali di ujung tangisan. Barangkali, kepiluan adalah batu-batu yang dirawat oleh sejarah tempat  kebanggaan menjadi masa lalu. Sebuah bangsa yang hilang dalam kolonialisme dan tak berbahasa lagi. Di sini rumah kami pun berangkat  dalam pengembaraan panjang di antara pekuburan tanpa jeda. Begitu panjang dan melirih.

Namun kami masih saja mempercayai sebuah rumah tetap mengalir dalam mimpi panjang sebuah bangsa yang terus terusir. Tanah-tanah yang memasang pijaran lampu di mana kanak-kanak menatapnya dalam gairah. Nyanyian pohon dalam barisan pesta-pesta panen tempat senja turun di antara ranjang berkelambu dan bisik-bisik sepasang kekasih yang merancang rindunya. Barangkali, rumah yang terus saja terbit setiap pagi menjatuhkan kabut itu tak menemukan tanahnya lagi. Hikayat-hikayat telah menerbangkannya dalam berlembar-lembar puisi yang tak pernah terbaca.

Aku memasang sebuah rumah dalam lekukan aliran darah di mana tangisan adalah juga ketakberdayaan. Pada kelokan di mana  kehilangan bertemu dengan cahaya bulan yang penuh tumpahan darah itu rumah menjadi demikian jauh di pelupuk mata. Lalu kami mungkin sedang berjalan ke pemakaman kami sendiri.  Menjadikannya kisah tertinggal disetiap jejak kematian antara luka dan dendam. Di sana, rumah adalah kami yang kehilangan rumah. Senantiasa saling mencari di antara kabut dan peperangan. Diantara keserakahan dan kebuasan yang bernama manusia.


*Untuk Palestina dan siapa pun yang terusir dari tanah dan rumahnya


Makassar 2012
Diberdayakan oleh Blogger.