Ketika Tubuh Menolak Pulang



Ada yang selalu menjadi petang dalam tubuh kita di sini
seperti jalan-jalan panjang menuju kota dengan runtuhan sepi
di sana, kita tak menemui siapa pun kecuali retakan bahasa
tempat dahulu kita berumah dan mengaliri darah dengan hati
menjelma laut dengan tiang layar meniti gelombang

Tapi kali ini tubuh kita menolak pulang menjadi hilang
menahan setiap musim yang jatuh bersama kabut dan rasa cemas
barangkali, kita memang telah menyimpan semacam kecemburuan
pada kelopak bunga yang tak peduli kapan mekar kapan redup
kemudian menjadi angin yang tak pernah mengenal kata pulang

Lalu sepanjang arak-arakan yang memaksa tubuh kita untuk pamit
tak hentinya nama-nama keluarga menjeritkan  gema kenangan
dinding-dinding rumah yang memantulkan suara ibu dalam tubuh
menjadi kepiluan-kepiluan yang jatuh pada selembar potret tua
di sana, mungkin telah turun beribu-ribu sorot mata dari tubuh
tempat  di mana kita menemukan cinta dan kerinduan

Ada yang selalu menjadi petang dalam tubuh kita di sini
seperti selembar daun yang jatuh dari musim penghabisan
tak ada kesepian yang demikian megah dari kepulangan tubuh
yang tak mau melepas cinta dan kerinduan di sungai-sungainya
tapi tubuh tetap akan pulang dan kita demikian hilang di sana



Makassar 2004
Diberdayakan oleh Blogger.