Munir



Lelaki itu terlihat demikian rapuh. Tubuhnya tipis dan ringkih. Namun di balik balutan tubuh itu, tersimpan semangat dan kekuatan  kemanusiaan yang demikian besar. Namanya Munir.  Orang-orang mengenalnya sebagai seorang pejuang kemanusiaan yang begitu  gigih.  Di suatu pagi dengan langit yang terlihat ramah, delapan tahun yang lalu, dia berangkat ke Amsterdam buat memperdalam ilmunya di negeri Kincir Angin itu. Namun rupanya, perjalanan itu merupakan perjalanan terakhir. Di pesawat yang ditumpanginya, Munir mengerang nyawa dan akhirnya tewas. Pejuang hak-hak orang-orang yang teraniaya ini tak pernah lagi pulang.

Sebuah kematian, bagaimana pun adalah sebuah peristiwa yang selalu saja membuat kita gagap menghadapinya. Namun itulah yang akan terjadi pada setiap manusia.  Akan tetapi yang sangat menggemparkan dari peristiwa kematian seorang Munir adalah kematian yang merenggutnya bukanlah sebuah peristiwa alamiah. Kematiannya dalah sebuah “cara paksa” untuk menghilangkannya dari kehidupan ini. Munir di bunuh dengan cara diracuni.

Saya tak tahu pasti mengapa lelaki dengan tubuh yang demikian rapuh ini demikian ditakuti sehingga jalan untuk membungkamnya adalah kematian itu sendiri. Barangkali seluruh “nurani kemanusiaan” kita tak akan mampu meletakkan peristiwa ini dengan  sebuah “akal sehat”. Namun Munir memang telah dibunuh –dengan alasan apa pun itu, oleh sebuah kekuatan yang sepertinya tak lagi mengindahkan “nurani dan akal sehat”.  Semacam sisi gelap dari apa yang biasa muncul dari sebuah kekuasaan yang telah “menghalalkan segala cara” demi kekuasaan itu sendiri.

Di sebuah negeri yang kekuasan demikian gampang menghilangkan nyawa warganya yang bersikap kritis, merupakan negeri yang mampu membesarkan seekor “monster”. Sebuah negeri di mana kekuasaan sama dan sebangun dengan kekayaan, kemasyuran dan privelese memang  demikian menerbitkan “syahwat” untuk tetap mempertahankannya. Dengan kata lain,dalam sebuah negeri yang menjadikan kekuasaan sebagai “mahkota” dunia hanya mampu terlihat dalam dua warna semata; hitam dam putih,  kalah dan menang, di bunuh atau membunuh.

Barangkali dalam konstalasi “busuk”nya nilai-nilai kekuasaan tersebutlah, Munir datang dengan jeritan kemanusiaannya. Pikiran-pikirannya kemudian menjadi “teror” yang demikian menakutkan di hadapan kekuasaan yang memang tak lagi punya hati. Di sana, keberadaan seorang Munir menempatkannya seperti “corong” kemanusiaan itu sendiri. Munir, dalam gerak pikiran dan nyali yang luar biasa itu, bagai sebentuk oase dari sebagian besar dari kita yang terbungkam dalam trauma ketakutan sejarah yang menempatkan kekuasaan sebagai sejenis makhluk yang demikian menakutkan. Dalam penjara trauma sejarah itulah Munir menjadi sebuah ikon perlawanan. Menjadi “wakil nurani” kemanusiaan kita.

Namun di sebuah pesawat yang mengantarkannya ke negeri Belanda, Munir menemui kematiaanya. Dan dalam peristiwa ini,kita seperti menemui beribu-ribu pertanyaan yang tergantung di sudut-sudut negeri ini. Mengapa ada kekuatan –orang dan institusi— yang demikian tak lagi menghormati nilai-nilai kehidupan  dan melakukan pembunuhan? Barangkali kita tak punya jawaban yang tuntas untuk itu.  Barangkali bahwa memang “watak” kekuasaan telah demikian sejak dahulu kala. Namun yang pasti, kekuatan pikiran dan semangat tak akan mampu diberangus, bahkan oleh racun sekali pun.  Sokrates telah menunjukkan hal tersebut jauh di zaman lampau. Karena dalam kekuatan pikiran dan semangat itulah harapan senantiasa tumbuh.

Delapan tahun yang lalu, Munir menemui mautnya secara “paksa”. Dan kita di sini, senantiasa melawan untuk tidak melupakan peristiwa tragis itu. Senantiasa menjadikannya suluh kecil untuk memerangi segala bentuk penusnahan kemanusiaan atas nama apa pun.  Munir bagaimana pun tak akan pernah “mati”. Pada setiap peristiwa yang menghinakan dan menistakan  rasa kemanusiaan kita, dia ada di sana. Berjuang bersama orang-orang yang tertindas.*** 


Makassar 2012
Diberdayakan oleh Blogger.