Rasa Pilu di Dunia Islam


Sebuah film dengan durasi ringkas kemudian begitu menyulut kemarahan kita, umat Muslim. Film “Innocence  of Muslims” seperti  bahan bakar minyak yang meledakkan rasa “tak bedaya” dari kebanyakan kaum Muslim  menjadi sebentuk “amukan”  yang terus menjalar dihampir segenap belahan dunia.  Gelombang protes atas flim yang dianggap mengolok-ngolok Nabi Muhammad SAW itu bahkan telah merenggut korban seorang duta besar dan staf konsulat Amerika Serikat di Libya. Dunia kembali membelah sebuah kutub yang  sepertinya  senantiasa berulang-ulang. Kutub yang menghadap-hadapkan dirinya di antara sejarah panjang sebuah kolonialisme dan “retakan peradaban” dari sebentuk “rasa terpojok”  serta harga diri yang terus terlecehkan.

Agaknya, cerita tentang “api kemarahan” yang senantiasa terus bergema dalam ruang-ruang sejarah di kalangan umat Muslim bukan hanya sebuah luapan dari emosi  semata. Api yang terus membara dalam sekam itu adalah sebentuk “rasa pilu” yang panjang dari sejarah ketidakadilan dan rasa terlecehkan . Luka yang menganga dalam rongga sejarah ini menjadi sebentuk “rasa terpojok”  yang akan terus meletup ketika dunia barat masih meletakkan dirinya dengan penuh prasangka dan kecurigaan.

Kemarahan yang meledak dari umat Muslim, bagaimana pun tidaklah berdiri sendiri. Kemarahan ini adalah “rasa gelisah” tentang sebuah zaman yang demikian meletakkan umat Muslim sebagai “pesakitan” dalam panggung peradaban global. Media yang didominasi oleh penguasaan Kapital Barat telah berhasil membangun “wajah” Islam yang keras dan bermusuhan. Radikalisme kemudian diidentikan dengan kaum Muslim. Di sana Huntington dalam bukunya “Clash Civilization” menjadi sebuah “corong” untuk membenarkannya secara ilmiah.

Lalu film “Innocence of Muslims” pun menjadi minyak yang kembali membakar rasa terpojok itu. Produser film ini pasti menyadari bila Nabi yang sangat dicintai umatnya ini diperolok-olok, maka reaksi kemarahan akan timbul. Catatan tentang kemarahan tersebut sudah panjang dalam dinamika hubungan umat Islam dengan dunia barat. Dengan begitu, film ini memang dibuat untuk memancing kembali rasa luka tersebut. Kepiluan yang akan membakar kembali bangunan dari hubungan yang demikian rapuh diantara kutub yang telah menanam kebencian dan prasangka di alam bawah sadar mereka.

Barangkali, motif dibalik film ini hanya sebuah motif politik yang dangkal dan picisan. Namun ia mampu dengan telak menghujani “pisau” tepat di dada kaum Muslim. Penghinaan terhadap Nabi Muhammad, bagi umat Islam adalah sebentuk “pernyataan perang”. Inilah lahan  yang demikian gampang digarap oleh sekelompok orang  --dengan motif apa pun—untuk membakar “api dalam sekam” tersebut. Ruang-ruang psikologi umat Islam yang senantiasa “menuntut” keadilan dari dunia yang selalu membangun rasa curiga dan prasangka terhadap kaum Muslim.

Memang, dunia bukanlah sebentuk pola yang ajeg dan tak berubah. Dalam pola interaksi manusia, dunia pun bergerak dalam dinamika perubahannya. Intensitas dan revolusi tehnologi informasi  menjadikan dunia berada dalam “kegoyahan” terus menerus. Nilai-nilai menjadi demikian cepat usang. Inilah zaman di mana beberapa ahli menyebutnya sebagai era budaya popular di mana semuanya seperti “kertas tissue” yang sekali pakai kemudian dibuang. Pada dunia seperti inilah umat berusaha untuk tetap berada dalam semesta religiusitasnya. Benturan yang terjadi adalah benturan untuk bisa saling meletakkan ruang penghargaan  dan perilaku yang menjunjung keadilan. Namun dalam tataran inilah Umat Muslim senantiasa diperhadapkan pada “rasa pilu” itu. Rasa yang demikian menohok  dalam keterpojokan dan harga diri yang terlecehkan. Pada dimensi inilah Umat Muslim “berteriak” untuk sekedar meletakkan sebentuk pernyataan bahwa bumi ini hanya satu dan milik kita semua umat manusia.***


Makassar, 2012
Diberdayakan oleh Blogger.