Rembulan Turun di Vas Bunga



Rembulan turun di vas bunga serupa senyum  kecil cahaya membawa suara-suara malaikat. Hatinya separuh rindu separuh pedih.  Kaki-kakinya  yang lirih itu jatuh sedikit miring pada lantai tempat  di suatu malam seorang kekasih menjeritkan kerinduan kesumat. Tak ada yang menemaninya  turun selain  detak jantung sendiri yang berdebur dalam gelombang-gelombang di laut.  Memang, ini adalah keheningannya sendiri. Milik satu-satunya yang masih bisa menumbuhkan sayap tempat dia memasang nyanyian  kecil.

Sebuah ruang tamu terus membuka pintunya sendiri. Tak ada yang bisa terkatakan selain kisah yang selalu saja mengantarnya  pada gerimis tempat jalan-jalan memasang tirai pada kaca. Di sana, segalanya menjadi  genangan sayup pada kabut yang juga perlahan turun di matamu. Rimbun dan menunggu diantara rembulan tempat sebuah vas bunga terus saja mencatat keheningan dari cahaya yang turun di dadanya. Barangkali ini sebentuk ketidak berdayaan yang begitu manis. Ketika senyum itu selalu  menjadi bahasa yang memanggil lirih kekasihnya.

Rembulan turun di vas bunga di antara musim dan meja yang sepakat menjadi cahaya lirih di ruang tamu itu. Tak ada yang terkatakan selain getar yang memukul pelan angin di sudut-sudut senyumnya. Barangkali ini adalah sebentuk kerinduan yang selalu mengetuk kaca jendela dari tangkai keheningan dari puisi yang belum juga terselesaikan.  Menjadi hujan yang memecah dadanya dalam temaram dan gigil. Sebentuk tipis banyangan dari pertemuan yang turun bersama dingin dan pijar kecil telaga di cahaya mata kekasihnya. Cahanya yang turun bersama rembulan.


Makassar  2012
Diberdayakan oleh Blogger.