Retakan Bahasa Pada Puisi


Bahasa dan puisi, barangkali bisa kita ibaratkan sebagai ibu dan anak. Sejarah puisi bagaimana pun tak akan terlepas dari bagaimana bahasa dipergunakan dalam media komunikasi manusia. Inilah yang menjadikan puisi sangat tergantung pada perkembangan bahasa di suatu daerah. Dan sebaliknya, puisi juga dapat sangat mempengaruhi ruang-ruang pembentukan bahasa tersebut. Dialektika seperti ini menarik untuk kita cermati mengingat bahasa merupakan bagian dari kebudayaan yang demikian “dinamik”.  Dengan kata lain, sebuah bahasa lebih kurang menyerupai organisme yang bisa tumbuh dan sekaligus dapat mati dan punah.

Dalam konteks ini, realitas kebahasaan yang sedang bertumbuh dalam sebuah kebudayaan dapat dijadikan “peta” untuk membaca suanana kebatinan masyarakat kita. Di sana kita juga bisa menelisik perkembangan bahasa puisi dan bagaimana pengucapan puistis yang mendominasi khasanah perpuisian bila ditautkan cara pandang sebuah kebudayaan dalam melihat realitas dunianya. Dengan demikian, tidak berlebihan bila dikatakan bahwa tautan antara bahasa, puisi dan cara pandang sebuah masyarakat sangatlah erat terjalin.

Sejarah bahasa dalam bingkai sebuah kebudayaan adalah sebuah “cermin besar” yang dapat menunjukkan bagaimana jagad psikologis masyarakat yang menghidupi dan terhidupi oleh bahasa yang mereka pergunakan. “Cermin besar” ini semakin nampak bila kita mampu menangkapnya dalam bingkai pengucapan puisi yang bisa kita letakkan sebagai “dunia psikologis” dari sebuah kebudayaan. Dinamika keterkaitan ini menjadi demikian menarik,  mengingat sejarah realitas dan cara pandang dunia dari sebuah kebudayaan yang tumbuh senantiasa ditandai dengan berbagai “gempa kultural dan psikologis” di setiap pergantian zaman.

Zaman modern merupakan suatu era di mana seluruh dimensi hidup dan cara pandang kultural psikologis masyarakat mengalami “goncangan” hebat. Di zaman ini, manusia dan alam menjadi berhadap-hadapan. Manusia menjadikan dirinya sebagai “pusat” dan memandang alam sekitarnya lewat kaca mata eksplorasi dan eksploitasi. Di sana, lingkungan sekeliling manusia diperlakukan sebagai obyek dan senantiasa diarahkan untuk kepentingan manusia itu sendiri. Dengan cara pandang yang demikian ini, realitas psikologis manusia pun menjadi retak. Kepribadian manusia modern mengalami sebuah ketercerabutan dengan akar eksistensinya. Semua itu ditandai dengan munculnya rasa keterasingan dan kesendirian yang hampir tak tertahankan. Manusia modern menjadi sebuah pribadi yang retak dan terasing.

Keretakan dan keterasingan manusia modern itu demikian terlihat dalam bahasa, terutama dalam pengucapan-pengucapan puitis yang kemudian terlahir. Bila pada masa pra modern, puisi-puisi yang tercipta lebih kepada corak epos serta jenis mantra, di mana penyair tidak menonjol dan terkesan hilang dalam karyanya. Maka pada zaman modern, puisi-puisi lirik yang menjadikan penyair demikian menonjol dalam memaknai ruang pengucapan puisi, merupakan tema besar dalam setiap penciptaan karya sastra. Tema lirik ini memang sangat menunjang rasa “guncangan kultural dan psikologis” yang ditangkap dalam instuisi penyair.

Keretakan pribadi dan rasa keterasingan pada dunia memang merupakan bagian yang mendominasi pengucapan dan tema puisi modern. Tonggak-tonggak perpuisian yang dijadikan ukuran puisi modern didominasi oleh rasa kesendirian dan keterasingan tersebut. Semua itu juga sangat menonjol dari retaknya bahasa yang dipergunakan. Inilah yang menjadikan bahasa pengucapan puisi modern dilputi oleh semacam “keterputusan” yang perih pada akar hidup. Dunia menjadi semacam “kerinduan” dari sebuah “cinta yang selalu bertepuk sebelah tangan”. Semacam rasa kesendirian yang senantiasa  terus mencari jalan pulang***
 

Makassar 2012
Diberdayakan oleh Blogger.