Tertawa


Kapan pertama kali manusia tertawa? Sejarah kebudayaan barangkali luput mencatatnya. Barangkali,  kita pun tak terlalu memperdulikannya. Tapi saya selalu saja tergoda dengan pertanyaan “remeh” ini. Membayangkan manusia pertama, di suatu tempat di masa lalu yang demikian jauh itu,   tiba-tiba meledakkan tawanya. Namun barangkali memang fenomena tertawa bukanlah hal yang demikian penting bagi sebuah sejarah kebudayaan. Ia, barangkali hanya dianggap sebagai hal yang alamiah melekat pada manusia. Dan di sana, tertawa menjadi sedemikian “remeh temeh”.

Tapi benarkah tertawa adalah sesuatu yang tak begitu penting?  Agaknya sama sekali tidak. Aristoteles, filsuf kondang Yunani itu jelas menempatkannya dalam sebuah “ruang pemikiran”  yang demikian penting, bahkan dianggap mempunyai nilai-nilai “keluhuran”. Dalam Risalah keduanya tentang ‘Poetika’, Aristoteles seperti “memproklamirkan” nilai keluhuran dari tertawa ketika membahas tentang “Komedi”. Memang dalam tradisi Yunani, seni –utamanya seni pertunjukan—Komedi dan Tragedi menjadi ruang “pengucapan budaya” yang demikian penting.

Berawal dari Aristoteles ini, sederetan panjang filsuf lain kemudian menjadikan tertawa sebagai bagian dari “penjelajahannya” mencari kebenaran. Sebutlah antara lain;  Plato, Immanuel Kant, Thomas Hobbes, Henri Bergson, dan yang paling mutakhir adalah Umberto Eco. Dengan demikian, tertawa, yang menjadikan Komedi sebagai “pemicunya” adalah sesuatu yang demikian mempesonakan bagi para filsuf ini. Dunia tertawa adalah dunia yang mampu mengantarkan manusia pada dasar-dasar  terdalam dari eksistensinya. Inilah yang bisa menjawab bagaimana manusia meletakkan diri dalam relasinya dengan manusia lain dan lingkungan sekitarnya.

Namun mengapa sejarah seperti luput mengangkatnya dan memberinya semacam  aksentuasi dalam perjalanan kehidupan manusia? Saya kurang tahu akan hal itu. Tapi agaknya memang dalam nilai-nilai yang terkandung dalam paradigma ilmu sejarah kita sangat sarat dikuasai oleh sebentuk paradigma “kerahiban”.  Semacam nilai-nilai “sakral” yang mengindentifikasi bahwa sejarah dan kebenaran adalah hal yang “serius”. Umberto Eco secara parodik dam “nakal” pernah mengangkatnya dalam  roman terkenalnya, “Il nome della rosa”. Di sana, dia mengangkat komedi dan tertawa sebai ide cerita. Tokoh utama roman tersebut, William dari Baskerville, seorang biarawan fransiskan, ditugaskan oleh kepausan untuk menyelidiki kematian yang tak wajar dari beberapa biarawan di sebuah kloster benedictin yang terletak diperbatasan Italia dan Prancis. Ia menemukan penyebab kematian yang beruntung itu  karena dibunuh ketika berusaha mendapatkan buku “Poetika” yang kedua karya Aristoteles yang membahas filosofi komedi.

Para biarawan tersebut dalam usahanya untuk mendapatkan buku itu, harus berhadapan dengan seorang “Bibliothekar” tua dan buta yang sangat licik sekaligus cerdas; Jorge dari Burgos. Burgos menggunakan cairan arsen untuk melapisi lembar demi lembar buku Poetika dengan dosis yang tepat untuk membunuh seseorang, tepat ketika orang yang sedang membaca buku tersebut akan membuka halaman yang membahas tentang komedi dan tertawa. Motif yang membuat Burgos melakukan hal itu sangat sederhana; ia hanya ingin menjaga moral para biarawan dan kaum terpelajar gereja karena menganggap bahwa tertawa merupakan “tanda kekurangan” manusia sebagai pendosa. Tertawa adalah kelemahan  dan “kebusukan” daging manusia yang hanya berguna bagi rakyat jelata yang tidak diberkati untuk melindungi dirinya dari kesia-siaan hidup. Dengan kata lain, Burgos sebenarnya hanya “terperangkap” pada sebuah paradigma bahwa “kebenaran” dan “kesucian” tidak pernah mentolerir tertawa.

Inilah barangkali yang mempertegas mengapa tertawa terlihat jauh dari nilai-nilai luhur dan sakral dalam dunia sejarah  risalah-risalah tentang “kesucian”, terutama pada ranah keagamaan. Namun Aristoteles sejak dini membantah itu semua.  Dalam kisah-kisah sufi dalam tradisi Islam pun kita mengenal  sosok Abu Nawas dan Nazaruddin Hoja yang demikian “nakal” menggelitik tawa kita dengan kisah-kisah pencerahannya. Di sana, saya selalu saja membayangkan bahwa Tuhan pun demikian gemar “Tertawa”.***



Makassar, 2012
Diberdayakan oleh Blogger.