Warung Kopi dan Postmodernisme



Dalam setiap kebudayaan, atmosfir prilaku serta cara pandang suatu masyarakat terhadap dunia realitasnya tercermin pada tradisi di mana masyarakat tersebut menjalin relasi dan interaksi satu sama lain. Corak persentuhan ini merupakan sebuah modal sosial dari suatu kebudayaan yang mampu menjelaskan bagaimana masyarakat kebudayaan tersebut bereaksi terhadap dunia yang mereka hadapi. Ini juga menjelaskan bahwa pola-pola interaksi tersebut senantiasa bertumbuh dalam relatifitasnya, namun tetap menyisakan dimensi “batiniah” yang merupakan “cetak biru” kebudayaan masyarakat tersebut. 


Dalam bingkai inilah kita bisa sedikit “membaca” gerak tradisi yang sangat mewarnai ruang-ruang interaksi masyarakat kota Makassar. Dalam kultur kolektifitas yang memang menjadi bagian sangat kental dalam kebudayaan timur, masyarakat kota Makassar tumbuh dalam dinamika persentuhan sosial yang demikian rekat dalam “budaya lisan”. Di sini “budaya lisan” tidak kita perlawankan berhadap-hadapan dengan “budaya tulis” sebagaimana dilakukan oleh para pemikir kebudayaan orientalis.  Dalam konteks ini, “budaya lisan” yang bertumbuh dalam pola interaksi sosial masyarakat Makassar menyimpan keunikan tersendiri. “Budaya lisan” dalam kultur dinamik masyarakat Makassar lebih terasa sebagai sebuah “intellectualism paradigma”. Di sana, dalam pola interaksi tersebut, transformasi merupakan sebuah kata kunci.

Dengan demikian, tak heran bila dalam membingkai tradisi seperti itu, masyarakat Makassar senantiasa “bergerak” dalam nucleus-nucleus yang membentuk spekturm persentuhannya dalam lingkaran-lingkaran di antara “warung-warung kopi”. Memang, kota Makassar merupakan surganya Warung-Kopi. Bisa dikatakan, hampir dalam setiap jalan dan sudut-sudut kota, terdapat tempat di mana masyarakat Makassar  bertemu dalam ruang-ruang tradisi tersebut. Barangkali, inilah tempat yang demikian guyup dalam pola interaksi yang sangan intens. 

Terus terang, saya tidak tahu mengapa Warung Kopi dijadikan sebuah “media” dari dinamikan persentuhan sosial masyarakat Kota Makassar. Saya pun tak tahu bagaimana sejarah terbentuknya “media” tersebut dalam bingkai tradisi “minum kopi sambil membangun wacana” dalam interaksi antar masyarakat di kota ini. Yang bisa saya “baca” dari corak persentuhan sosial-kultural  ini adalah munculnya fenomena dinamika pertukaran informasi dan wacana serta bergeraknya sebuah tradisi yang bersifat transformatif. Ini adalah sebuah tradisi yang cukup unik mengingat bahwa dalam “ruang-ruang pertemuan” itu, kota Makassar menjadi demikian berwarna dalam pemikiran dan persfektif. 

Bahkan pada takaran tertentu, Warung Kopi bisa kita jadikan sebagai “peta” untuk melihat bagaimana suasana kebatinan masyarakat Makassar. Di Warung Kopi inilah kita bisa “membaca” masa depan kota Makassar dalam sudut-sudut politik, sosial, budaya dan filsafat.  Tidak heran bila seorang kawan pernah mengatakan bahwa kebijakan-kebijakan penting yang menyangkut hidup orang banyak di Makassar tercetus di Warung Kopi. Barangkali, di Indonesia, hanya Makassar dan beberapa kota lain semisal Aceh yang para pejabat politik, budayawan, penulis, entrepreneur, filosof sampai eksekutif professional bertemu di “media” ini dalam semangat egalitarian yang sangat intens. Di Warung Kopi inilah, segala pemikiran dan wacana dibenturkan tanpa sekat-sekat stratafikasi apa pun. Dengan demikian Warung Kopi bisa kita sebut sebagai “media” sosial-kultural yang mampu mendekonstruksi sebuah hegemonic mainstream yang biasanya mendominasi setiap wacana politik, sosial dan kebudayaan suatu daerah.

Dengan persfektif itulah, bisa dikatakan bahwa Warung Kopi merupakan fenomena postmodernisme yang terbangun dalam tradisi kota Makassar yang muncul tanpa “tarik urat leher perdebatan” seperti di belahan dunia barat. Warung Kopi adalah sebuah corak realitas hidup postmodern  yang di dataran Eropa masih saja terperangkap di ruang-ruang akademis. Di Warung Kopi inilah paradigma Pusat-Pinggiran dibongkar habis-habisan. Karena setiap Warung Kopi di Makassar membangun pusatnya sendiri dan bergerak dalam lingkaran pusat-pusat yang lain.***


Makassar 2012
Diberdayakan oleh Blogger.