Tempat dan Puisi



Dalam takaran tertentu, sebuah puisi setidaknya mengidentifikasi sebuah tempat. Apa pun yang kita maksud dengan “tempat” tersebut. Barangkali, ia bisa saja adalah sebuah metafora atau sebuah “penglihatan batin” dari seorang penyair. Namun bisa jadi, tempat tersebut memang ada dalam realitas yang menjadi pengalaman kehidupan yang demikian mengispirasi sang penyair. Dengan demikian, apa pun “wujud” dari realitas tempat tersebut, sebuah puisi senantiasa berbicara tentang sebuah “tempat”. Inilah yang menjadikan sebuah puisi senantiasa memiliki “kontekstualitas” tertentu. Sebuah tempat pijakan dan akar, agar tidak mengambang dalam pengucapan serta bahasa yang diungkapkannya.

Lalu bagaimana kita menyimak perkembangan puisi-puisi mutakhir Indonesia dalam kontekstualisasi tempat yang menjadi akar pijakan pengucapannya? Setidaknya kita bisa membagi dalam beberapa tradisi pengucapan puisi yang menjadi genre sejak puisi modern diperkenalkan dalam literasi Indonesia. Pertama, pada era yang menjadi cikal bakal puisi modern yakni era Pujangga Baru, tempat menjadi sebuah kekuatan yang cukup menonjol di sana. Semua itu tidak terlepas dari sebuah semangat (passion) yang menandai tumbuhnya kesadaran tentang nasion (kebangsaan). Inilah yang menjadikan puisi-puisi pada zaman ini demikian karib dengan pengucapan yang meletakkan kecintaan terhadap tanah-air  serta romantisme alam yang memukau. Amir Hamzah, Sanusi Pane, Muh Yamin dan S.T Alisyahbanah merupakan penyair-penyair yang menjadikan tanah air kebangsaan yang masih embrio itu sebagai tempat pijakan pengucapan-pengucapan puitiknya.

Kedua, pada era angkatan 45 yang dipelopori oleh Chairil Anwar, Sitor Situmorang dan Asrul Sani, tempat menjadi sebuah kesadaran baru yang demikian menguat pada gairah yang melatarbelakangi sebuah puisi. Bahkan pada era ini, penyair-penyair yang menjadi penyanggahnya sangat intens menggerakkan sebuah “filosofi” baru tentang apa yang menjadi pijakan tempat mereka berkarya. “Surat Pernyataan Gelanggang”, merupakan manifesto filsafat karya para penyair era ini. Di sana, mereka memproklamirkan diri sebagai anak zamannya yang meletakkan dunia masa depan sebagai tempat pijakan. “Mengelus-elus” kejayaan masa lalu adalah sebuah aib dan cerminan ketidakberdayaan.  Dengan demikian, pengucapan puitik yang tumbuh dalam ruang-ruang karya puisi pada era ini sangat ditandai oleh gerak eksistensialisme. Dunia, terutama dunia Barat menjadi “napas” baru dalam meletakkan pijakan dan tempat pada pengucapan puitik para penyair era ini.

Ketiga, memasuki babakan baru dalam genre modern Indonesia di tahun 70-an, suasana tempat menjadi nampak lain. Penyair-penyair pelopor dari era ini semisal Rendra, Goenawan Mohamad, Abdul Hadi MW meletakkan tempat pijakannya kembali pada semangat “lokalitas”. Di sini, para penyair tersebut kembali mengggali ruang-ruang kemungkinan puitiknya pada cerita mitologi lokal dalam masyarakat yang mereka karibi. Tempat di sini menjadi demikian “membumi” kembali. Seperti kita mampu mendengar sendiri detak jantung dan tarikan napas dari setiap tempat yang mereka ungkapkan.

Keempat, setelah lepas dari suasana tempat yang menjadi pijakan para penyair era 70-an, kita kemudian memasuki ruang yang sedikit “memberontaki” ruang dan tempat yang telah demikian mapan di era 70-an dan sesudahnya. Di era 90-an, bersamaan dengan munculnya gerakan pemikiran post modernism, para penyair seperti Afrizal Malna, Radhar Panca Dahana dan lain-lain, bergerak pada tataran yang menjadikan tempat menjadi demikian “detail”. Di sini, kita sangat gampang mendapatkan “nama-nama” sebuah tempat dengan benda-benda yang melingkupinya yang di zaman sebelumnya dianggap “tabu” untuk disebutkan pada sebuah puisi karena demikian terlihat profan dan sangat sepele. Kata-kata ember, kertas tissue, mesin foto copy adalah sedikit contoh bagaimana kata-kata dan tempat menjadi demikian detail dibahasakan dalam sebuah puisi.

Memang, barangkali setiap zaman dalam sebuah ruang pengucapan puisi, tempat merupakan bagian yang tidak bisa terlepas dari semangat (passion) dari filosofi yang melatar belakangi para penyairnya.  Namun terlepas dari itu, tempat pada sebuah puisi merupakan “tiang penyanggah” yang bisa menjelaskan keberadaan karya tersebut. Dengan kata lain, tempat pada puisi adalah bahasa yang berusaha “dibumikan” oleh para penyairnya agar puisi tidak kehilangan pijakan manusiawi dan hanya terjebak pada bahasa “pepesan kosong” semata.***



Makassar, 2012
Diberdayakan oleh Blogger.