Harapan



Barangkali, dunia tak semanis yang kita duga. Dalam denyut kesehariaanya, dunia bahkan kerap mempertunjukkan wajahnya yang garang dan kejam. Cerita-cerita tentang hidup kemanusiaan kita yang memilukan itu kadang membuat kita bergidik ngeri.  Seorang ibu demikian tega membunuh bayinya hanya karena takut tak mampu memberinya makan. Seseorang terlihat demikian gampangnya  mencabut nyawa orang lain hanya karena persoalan seribu perak. Seorang ayah bahkan mampu mencabuli anak kandungnya dan menyebarkan penyakit kelamin sehingga anak tersebut meregang nyawa.

Memang, dunia sepertinya tak seindah yang kita duga. Kepiluan demi kepiluan seperti sebuah cerita bersambung dalam ritual keseharian kita. Semuanya seperti tak diundang. Mengerubungi kita dalam ruang keseharian. Tidak mengherankan bila beberapa filsuf kontemporer semisal Schopenhuer melihat dunia dengan kengerian yang tinggi. Pesimisme adalah kata kunci dari jiwa yang tak lagi punya “harapan”. Melihat sebuah “dunia” dengan mata yang memicing ngeri dan bertahan hidup untuk menyaksikan demikian banyak penderitaan di sekitarnya.

Namum barangkali, dunia bukan hanya tempat bagi kengerian dan kepiluan. Pada episode-episode tertertentu, kita juga bisa “bertemu” dengan getar-getar mengharukan dari sebuah keindahan. Pada momen tertentu sebuah harapan bisa saja menjadikan kita mampu “bertahan” di tengah situasi dunia yang “berlumpur” kepiluan itu. Inilah momen hidup yang menjadikan kita tetap utuh senagai manusia beserta segenap kemanusiaan kita.

Orang-orang mungkin menamakan itu cinta, kasih atau apa pun. Namun getar itulah yang kerap membuhul dan menjadikan hidup layak untuk dihidupi. Membuat kita mampu sedikit menaruh senyum setiap kilatan tajam  kepiluan menghujam.  Inilah hidup. Inilah perjuangan itu yang tak pernah habis-habis itu.  Inilah harapan.

Mungkin, ada diantara kita yang meletakkan harapan sebagai sebuah “ilusi yang memabukkan”. Barangkali, ada yang melihatnya sebagai sejenis “pelarian” jiwa untuk tetap bermimpi. Apa pun itu, harapan adalah ruang di mana kita mampu meletakkan kemanusiaan kita untuk tetap terjaga utuh.  Ruang yang menyimpan “semangat” untuk tak gampang menyerah dan patah arang terhadap kegerian yang dipertontonkan hidup ini. Sebuah  “sayap” yang bisa mempertemukan kita dengan arti keberadaan kita di dunia ini.



Makassar, 2013
Diberdayakan oleh Blogger.