Catatan Secangkir Kopi



Pernah suatu ketika, saya bertemu dengan seorang kawan lama di sebuah warung kopi (warkop) di sudut malam kota Makassar. Tak ada yang istimewa dari pertemuan itu, kecuali kami dipertemukan kembali dalam secangkir kopi dan cerita-cerita masa lalu yang kini terdengar naïf. 

Kawan saya itu memang sedari dulu sangat lekat dengan minuman berkafein ini.  Sejak mahasiswa dan menjadi “anak rembulan”, kami memang kerap menyusuri pojok-pojok malam Makassar untuk sekedar menyeruput secangkir kopi. Saat itu, kami adalah pemuda tanggung yang menjadikan idealisme sebagai makananan sehari-hari. Segalanya kami lihat dalam  “kaca mata” kuda seorang pemuda yang lagi “dimabuk” dengan segala macam passion untuk memberontaki keadaan. 

Kesempurnaan realitas adalah mimpi besar kami. Dunia, saat itu di mata kami lebih menyerupai sebuah “ruang” sempit yang disesaki oleh ketidak adilan. Di sana, kami, malam dan secangkir kopi menjadi  sebuah cerita tentang “kecerewetan” anak muda yang tak puas oleh sistem yang ada.

Sekitar 25 tahun kami kemudian dipertemukan lagi. Uban di rambut kami menjadi bayangan betapa waktu telah mengikis semangat itu barangkali. Saat ini, kawan saya itu telah tumbuh dalam sosok seorang politisi kawakan. Saya membayangkan, digenggaman tangan kawan saya itu, beribu-ribu bahkan berjuta-juta harapan rakyat di kunyahnya dengan ringan. 

Sejak 25 tahun perpisahan kami, sosok kawan saya itu hanya terjejak pada tayangan-tayangan berita televisi.  Saya mengikutinya dan terus terkagum dengan kiprah politiknya yang meliuk-liuk bagai belut di panggung kekuasaan negeri ini. 25 tahun menjadi waktu yang pelan-pelan memisahkan kami.

Malam itu, kami dipertemukan lagi. Tak ada yang istimewa selain secangkir kopi dan cerita masa lalu yang jauh. Kawan saya itu tersenyum lebar. Saya tersenyum lebar. Di sebuah Warung Kopi di sudut malam Kota Makassar, dia menepuk bahu saya seperti seorang bapak menepuk lembut bahu anaknya. Sambil berbisik lirih, kawan saya itu menyatakan bila selama ini ia sangat lelah memakai “topeng”. 

Politik yang dulu dianggapnya sebagai medan perjuangan, ternyata seperti “hutan belantara” yang dipenuhi binatang buas. Saling menyikut diantara kawan. Saling menggali kubur kawan sendiri dan setiap hari “bertengkar” denga nurani sendiri. Kawan saya itu menyatakan sangat capek. Namun telah “terperangkap” dalam jeratan yang semakin lama semakin kuat.  Kawan saya sadar, ternyata politik ala negeri ini adalah politik saling “menyandera”. Saling memberi peluang, namun mengintip untuk menjatuhkan. Inilah wajah politik yang menjadikan kekuasaan hanya demi kekuasaan semata. Rakyat di sana hanyalah pajangan semata. Lembar-lembar KTP yang siap untuk dimanipulasi.

Di malam itu, secangkir kopi yang mempertemukan kami terasa pahit di mulut saya. Kawan saya itu mendadak terlihat sangat tua dan lelah. Segala gambaran tentangnya yang demikian sumringah, ramah dan sangat merakyat itu ternyata hanya “polesan” yang dikhususkan untuk sebuah pencitraan semata. 

Politik telah menjadikan kawan saya itu kehilangan kesegaran nuraninya sendiri. Barangkali yang tersisa dari masa lalu kami hanyalah secangkir kopi. Mimpi tentang sebuah negeri yang meletakkan rakyat serta hati nurani sebagai tujuan seluruh perjuangan. Malam itu, kami menyeruput kembali secangkir kopi dan masa lalu yang jauh itu. 

Barangkali kawan saya itu telah berubah. Barangkali saya pun telah banyak berubah. Namun kami dipertemukan di suatu pojok malam dalam secangkir kopi. Di sana kita belajar kembali meneguhkan kemanusiaan kami. Merekatkan kembali cerai-berai mimpi yang telah lama diporak-porandakan oleh realitas hidup. Saya, kawan saya dan secangkir kopi belajar kembali menjadi manusia. Manusia yang bermartabat.***



Makassar 2013   
Diberdayakan oleh Blogger.