Ledakan Bom di Boston


Barangkali, pagi itu bisa menjadi pagi yang begitu muram. Di Boston, Amerika Serikat, sebuah pagi dengan langit yang cerah. Orang-orang berkerumun dalam sebuah perlombaan lari Marathon. Ratusan bahkan mungkin ribuan orang-orang menyeruak pagi dengan senyum. Namun tiba-tiba bom itu meledak. Asapnya membumbung dalam jeritan pilu dan tangisan. Ada yang tumbang dan mengerang nyawa di pagi itu. Darah tercecer di tepi jalan.

Pagi itu bukan saja negeri Paman Sam yang bersedih. Seluruh nilai-nilai kemanusiaan kita kemudian runtuh dalam kesedihan. Bom itu meladak lagi bersama semakin rapuhnya nilai kemanusiaan kita. Kepercayaan pada sesama manusia dibantai habis-habisan di sana. Dunia menjadi sebuah medan kecurigaan yang semakin lama semakin menjadi raksasa kebencian.

Di Boston, kepiluan itu menjadi bingkai besar dalam sejarah kemanusiaan kita yang tak henti-hentinya mempertontonkan wajah beringasnya. Sejarah panjang tentang luka dan keputus-asaan dalam mencoba menjadikan hidup untuk semesta alam. Inilah dunia yang dilapisi dengan kabut teror yang ironisnya senantiasa lahir dari rasa terpojok dan kemudian menumpahkan kebenciannya untuk sekadar ingin “membahasakan” rasa tak berdaya yang dimiliki.

Pagi itu, Boston meledak dalam cerita-cerita pilu tentang rasa permusuhan yang dijawab dengan kekerasan yang mengorbankan orang tak berdosa. Bonton adalah peta yang suasananya ada dalam rintihan wilayah-wilayah lain di belahan dunia ini. Boston adalah ledakan amarah dari ketidak berdayaan yang membabi buta. 

Barangkali, kita tak akan pernah dapat memahami, mengapa ada seorang atau sekelompok orang yang di suatu pagi yang cerah, menenteng tas ransel di punggungnya. Dia tampak begitu tenang berjalan dalam kerumunan orang yang sedang menikmati lomba lari marathon. Dan kemudia dia meletakkan ransel bawaannya yang kemudian meledak. Kita mungkin tak akan pernah memahami apa yang ada dibenak orang tersebut. Bagaimana dia mampu tertidur pulas setelah kejadian tersebut atau bagaimana dia mampu menatap mata orang-orang yang akan ditemuinya di sepanjang perjalanan hidupnya.

Dalam sepersekian ledakan bom yang membawa kepiluan itu, tak ada orang menyangka di tempat tersebut dunia akan runtuh dalam titik nadir kemanusiaan. Sejarah berulang kembali dalam tangisan ketidak mengertian. Di sepersekian detik sebelum ledakan di Boston, tak ada yang menyangka, nyawa sedemikian murah untuk dijadikan “ajang” eksistensi kemarahan.

Lalu jeritan kepiluan kemudian menggenapkan ledakan tersebut. Boston seperti kepingan kemansiaan kita yang telah hangus dalam mencoba memahami apa yang kita sebut “persaudaraan semesta”. Bahwa kita adalah manusia dank arena itu kita adalah saudara. Pada ledakan Boston itu, kita hanya mampu meletakkan ketidakmengertian kita tentang betapa porak-porandanya nasib persaudaraan kemanusiaan kita.

Di suatu pagi di belahan dunia yang bernama Boston itu, seluruh cerita kepiluan seperti meledak kembali. Dan kita seperti tak berdaya dalam cengkraman kemarahan-kemarahan. Luka kemanusiaan yang tak pernah sembuh oleh amukan kebencian. Di Boston, kita hanya menjadi setitik noktah dikeluasan kemarahan dan kebencian.***
Diberdayakan oleh Blogger.