Filsafat dari Warung Kopi



Banyak yang bisa kita ceritakan tentang sejarah bagaimana sebuah sistem pemikiran (filsafat) mampu membentuk dunia tradisi dan cara pandang sebuah kaum.  Sebuah tempat misalnya, adalah bagian yang paling menentukan bagaimana sistem pemikiran tersebut tersemai dalam lahan interaksi kebudayaan kelompok tersebut. Tidak mengherankan bila “peta” sejarah filsafat dunia mampu kita tarik dari berbagai sudut, namun senantiasa berakar dalam “tanah” kebudayaan yang sangat bersifat kontekstual.

Di sinilah sebuah sistem pemikiran, apalagi yang disebut filsafat itu tidak dapat menjawab sebuah dinamika Kebenaran secara universal. Bagaimana pun sebuah filsafat hadir dalam dinamika “mata rantai” yang hanya bisa diterjemahkan dalam sebuah konteks tertentu dan dalam bahasa zaman tertentu. “kebenaran” yang menjadi tujuan akhir dari sistem pemikiran filsafat ini menjadi kebenaran yang selalu “diragukan”.

Dalam konstalasi itulah kita bisa melihat bagaimana sebuah kaum membangun sistem pemikiran serta tradisi filsafatnya sendiri. Ini juga bisa menjelaskan bagaimana sebuah sistem pemikiran, bukanlah lahir dari “tumpukan buku di sudut-sudut rak perpustakaan” yang sepi dengan seorang berambut acak-acakan,  berjenggot ubanan dan bersifat asosial. Sebuah tradisi pemikiran lahir dari “riuh rendah” lintasan dinamika interaksi sekelompok manusia. 

Barangkali, memang seorang yang berjanggut dan berambut ubanan itu mempunyai kontribusi dalam menyusun sistematisasi serta  memperkenalkan tradisi pemikiran tersebut sebagai sebuah “ilmu pengetahuan”, namun sejatinya, bukanlah dia yang “membenih” pemikiran tersebut. Di sini, Filsuf hanya sebagai “bidan” yang membantu proses kelahiran sebuah sitem pemikiran.

Di setiap zaman, memang selalu ada tempat yang menjadi “kursi pelaminan” serta “ranjang malam pertama” dari benih-benih pemikiran yang akan bakal lahir. Di zaman Yunani, tradisi itu lahir di tempat-tempat tertentu. Perdebatan dan diskusi menjadi bagian yang sangat menarik dalam tradisi tersebut. Inilah awal di mana Kebenaran menjadi realitas yang dibicarakan sambil diuji terus menerus.

Pada zaman berkuasanya tradisi “gereja”, dinamika itu mulai dipagari secara ketat dan rahasia.  Filsafat dan ilmu-ilmu pengetahuan menjadi sangat eksklusif dan dibaluri daya-daya misteri yang kuat. Di zaman ini, filsafat menjadi “menu mewah” untuk disantap segelintir “orang-orang yang terpilih”.  Masyarakat pun yang dianggap bodoh serta bebal tak berhak membicarakannya.

Di zaman modern, hal tersebut berlanjut namun dengan “wajah” yang lain. Tradisi “sekolah modern” menjadi ruangan “pertapaan” untuk kaum-kaum eksklusif yang terpilih itu. Orang-orang awam dan bodoh tak mampu menjangkaunya bila tak mempunyai bekal modal untuk memasukinya. Inilah tradisi panjang bagaimana filsafat “dikebiri” dalam ruang-ruang mutilasi yang khusus dan dijadikan bagian dari “gengsi” sosial.

Namun tak ada tradisi yang tak menimbulkan sebentuk anomaly serta perlawanan.  Bagaimana pun ilmu dan sistem itu dieksklusifkan, selalu saja memunculkan “anak-anak haram”nya. Di warung kopi, “sekolah” itu memulai dirinya dengan sebuah tradisi lain. Bersifat egaliter serta mampu dinikmati oleh siapa pun. Di universitas warung kopi, sejarah filsafat sangat dinamis dan meledak-ledak dalam api antusiamenya. Filsuf-filsuf “warung kopi” adalah filsuf yang mencoba mengembalikan tradisi panjang pemikiran yang lahir dalam nuansa kontekstualitasnya.  Kebenaran-kebenaran di warung kopi adalah kebenaran yang kembali selalu harus diverifikasi, bukan oleh “nabi” yang memproklamirkan dirinya sebagai filsuf, tetapi diuji oleh kehidupan itu sendiri.***


Makassar 2013
Diberdayakan oleh Blogger.