Perempuan Cantik di Pusaran Korupsi




Barangkali, tak ada yang bisa menjelaskan bagaimana sejarah terlihat demikian “gagap” dengan makhluk yang bernama; perempuan. Kisah-kisah sejarah tentang jatuh bangunnya sebuah peradaban  --bila dikuliti lebih dalam—adalah juga kisah tentang bagaimana makhluk yang bernama perempuan itu hadir di sana dan menjadi “penentu”.

Barangkali, kita hanya bisa membaca sejarah hadirinya perempuan dalam segala lingkaran yang dianggap sebagai “ruang laki-laki”, ketika kita tahu bahwa “ruang laki-laki” itu pun adalah hasil dari desain seorang perempuan. Para lelaki mungkin tak menyadarinya atau setidaknya dibuat tidak menyadari, bahwa “ruang permainan” yang menjadi wilayahnya adalah semuanya “atas restu perempuan”. Kisah intrik politik dan kekuasaan dalam berbagai cerita sejarah merupakan bagian yang jelas banyak mengisyaratkan kehadiran sosok perempuan di dalamnya.

Namun cerita tentang hal itu bukanlah menjadi “catatan” para sejarawan. Cerita tentang perempuan dalam lingkarang “goro-goro” kekuasaan, tahta dan pergolakan seperti disembuyikan dengan rapi dalam lipatan “konco wiking” hanya sebagai “teman seiring sejalan”. Maskulinisme sejarah menjadikan para perempuan berada dalam tapal batas antara ada dan tiada.

Sejarah, dalam perspektif tertentu memang adalah milik pemenang, dan pemenangnya adalah kaum laki-laki. Namun dalah takaran tertertu, justru cerita kemenangan itu menjadi terlihat “gagap” ketika sejarah berhadapan langsung dengan sosok perempuan ini. Dan seperti kisah dongeng tentang putri salju yang tertidur pulas, sejarah mencatatnya sebagai “ketidak berdayaan”, namun dalam tradisi penafsiran nya, justru sang putrilah yang memegang “narasi besar”-nya.

Inilah yang juga menjadi tali panjang yang menyambungkan banyak kisah tentang bagaimana perempuan dalam lingkaran-lingkaran  “permainan laki-laki”. Seperti akhir-akhir ini, di Indonesia, ketika kita dibuat terkaget-kaget dengan perempuan-perempuan cantik yang berada di pusaran korupsi. Mungkin tak ada yang aneh ketika peristiwa ini hanya menyajikan sekelumit kisah tentang “perempuan cantik” yang ketiban “rezeki” diberi uang dan benda yang berasal dari hasil perbuatan korupsi. 

Tapi yang meledakkan kisah ini adalah begitu banyak perempuan yang berada dalam lingkaran peristiwa itu. Bahkan terlalu banyak untuk membayangkannya sekali pun. Pertanyaannya barangkali, apakah perempuan-perempuan cantik itu hanyalah “korban” dan sekedar “pemain piguran” dalam bingkai besar yang bernama kejahatan korupsi dan pencucian uang? 

Kita tak tahu pasti. Namun dalam kadar tertentu, semua kisah ini tak nampak sama dengan tampilan kulitnya semata. Seperti  kisah putri salju yang tertidur pulas itu, perempuan-perempuan cantik ini adalah putri yang memasang ketidak berdayaannya. Pangeran menciumnya dan abrakadabra, pangeranpun ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Lalu siapa sebenarnya yang menjadi “narasi besar” dalam kisah ini?***



Makassar  2013
Diberdayakan oleh Blogger.