Ciuman


Apa yang kita tahu tentang sejarah ciuman? Terus terang, saya benar-benar "buta" tentang riwayat yang satu ini. Saya hanya bisa membayangkan di suatu ketika --entah di zaman apa-- sepasang kekasih, atau seorang ibu atau seorang ayah perlahan merekatkan bibirnya kekapada kekasihnya atau anaknya.Dan kita pun menyimpannya sebagai sebuah adegan kemesraan. Sebuah pertautan kasih yang dibahasakan dengan demikain sederhana namun sangat menggetarkan.

Barangkali, dunia memang tak membutuhkan sejarah yang menceritakan "peristiwa" dramatis ini. Yang kita tahu, sejak kecil, kita menyaksikan dan belajar sejenis kasih sayang yang kemudian dibahasakan dengan ciuman. Hanya itulah yang kemudian menjadi "perangkat" kita dalam memaknai sebuah adegan yang bernama ciuman.


Namun yang menjadi ketakjuban saya adalah bahwa sebuah zaman yang demikian bergerak dengan dimensi perubahannya yang dahsyat itu, adegan saling merekatkan bibir, atau antara bibir dan pipi, antara bibir dan dahi masih tetap menjadi semacam "bahasa" kasih yang tak tergoyahkan. Ciuman seperti sebuah "pertistiwa suci" yang tetap dijaga oleh alam kemanusiaan kita. Disana, waktu seperti dibekukan. Tak berubah dan abadi dengan sendirinya.

Inilah barangkali, mengapa adegan ini diabadikan oleh sebuah dongeng. "Putri Salju", di mana sang putri yang tertidur pulas karena sebuah kutukan hanya bisa dibangungkan oleh ciuman seorang pangerang. Kita tahu, bahwa sebuah dongeng bukan hanya berhenti sebagai cerita imajiner untuk mengantar tidur kita di masa kanak-kanak. Sebuah dongeng dalam konteks hermeneutika merupakan "artefak" sejarah batin serta riwayat kebudayaan yang paling murni menceritakan keberadaan manusia dengan segala misterinya itu.

Dan sampai saat ini, dongeng tentang "Putri Salju" pun menjadi ruang interpretasi kita tentang bagaimana ciuman menjadi demikian penting dalam sejarah kasih sayang umat manusia yang bisa menjelaskan keberadaannya. Memang ada sebuah zaman di mana ciuman menjadi ruang-ruang tabu dalam pergaulan interaksi manusia, Di Eropa, pada masa Victorian, segala macam adegan yang berbau "persentuhan" ini dianggap "cabul". Moralitas Victorian kemudian "menyembunyikan" ekspresi kemanusiaan ini dalam bingkai paling "tertutup". Di sana, masyarakat seperti sebuah "topeng" yang berjalan dalam kesemuan dan ketertutupan dengan "pagar" moralitas yang keras dan kaku.

Namun bagaimana pun, ciuman adalah sebuah bahasa yang hanya bisa dilarang tapi tidak bisa dimusnahkan. Memusnahkan ciuman berarti memusnahkan kemanusiaan itu sendiri, Dan ketika zaman berganti, ciuman pun akan tumbuh kembali bersama detak hidup kemanusiaan kita.Maka di suatu waktu, di tempat apa pun, kita kerap demikian terharu ketika menyaksikan seorang ibu atau ayah mencium buah hatinya. Sepasang kekasih merekatkan dua kehidupannya yang berbeda dengan sentuhan kasih sayang itu. 

Tapi bagaimana dengan adegan ciuman yang "panas"? Sejatinya, itu pun merupakan "bahasa" yang sangat manusiawi tentang sebuah "perekatan hubungan".Namun di sini saya tidak ingin menginterpretasikan ruang-ruang pemaknaannya. Mungkin di cerita dan tulisan yang lain.***


Makassar 2013
Diberdayakan oleh Blogger.