Dunia di antara Belahan Ideologi



Pada akhirnya, kita mungkin harus sepakat bahwa hidup adalah rangkaian gagasan yang dihidupi. Senang tidak senang, suka tidak suka,  seluruh jejak kita berada dalam mata rantai tersebut. Pada sekitar abad 13 SM, di negeri Yunani, seorang filsuf memulai jejak pemikiran seperti ini. Plato, murid filsuf besar Sokrates ini seperti ingin “menjawab” keresahannya terhadap peristiwa di sekitar “adegan” memilukan ketika Sokrates, sang guru dengan cara yang cukup dramatis meminum racun. Ini bukan peristiwa bunuh diri  melainkan sebuah hukuman mati yang dijatuhkan oleh “lembaga peradilan” Yunani waktu itu.

Sokrates di hukum mati dan racun yang membunuhnya itu adalah sebuah “stempel” untuk mengingatkan betapa berbahayanya sebuah gagasan. Sokrates harus mati karena gagasan yang dihidupinya bertentangan dengan paradigma konvensional yang menjadi anutan hidup orang-orang Yunani kala itu.

Maka sejak saat itu, ruang-ruang pemikiran menjadi medan pertarungan gagasan tentang hidup. Orang-orang menjadi demikian rela mati demi sebuah gagasan yang diyakininya. Filsafat yang kemudian melahirkan ideologi kemudian mendominasi segenap jatuh-bangunnya peradaban manusia. Kapitalisme, Humanisme, Marxisme, Sosialisme sampai pada paham Neo Liberalisme, Spiritualisme berenang-renang dalam realitas kehidupan manusia. Semuanya  diyakini oleh para pengusungnya  sebagai “tiket” untuk jalur cepat menuju pada kesejahteraan dan kebahagiaan umat manusia.

Segala macam ideologi tersebut menjadi tonggok bagaimana manusia dan seluruh sejarahnya dibelah dalam sebuah dunia gagasan. Peperangan, kehancuran, air mata serta kematian pun seperti diangkut hanya dalam dunia gagasan tersebut.  “Kematian satu orang adalah memulukan, tapi kematian beribu-ribu orang adalah statistik”, kata Stalin. Dan kita pun menjadi sekedar hitungan statisti semata dalam segenap pertarungan gagasan ideologi tersebut.

Tapi agaknya, zaman memang terus bergerak tanpa menunggu kita untuk sekedar menyadari kekeliruan. Korban-korban rakyat tak berdosa berjatuhan mungkin hanya membikin kita kebal terhadap derita orang lain. Apa boleh buat. Dunia memang adalah gambaran paling vulgar dari ketakberdayaan kita untuk sekedar menjadi manusia dalam arti sederhana. Yakni menjadi seorang manusia yang pada fitrahnya adalah “kembali pada diri yang sejati”. Manusia yang punya nurani dan martabat yang mengharuskan dia menghormati hidup, baik hidupnya maupun hidup orang lain.

Pada milenium ke 3 ini, kita pun masih saja ada dalam rangkaian gagasan dan pertarungan gagasan tersebut. Banyak ahli mengatakan ideologi telah mati. Barangkali memang ada benarnya, namun yang mengerikan adalah kematian ideologi ini kemudian disertai “kebangkitannya” dalam wujud “zombie” idieologi. Semua itu ditandai dengan “jatuh”nya realitas manusia dalam dunia buatannya sendiri. Sebuah dunia “hiperrealitas”. Dunia yang tak lagi punya sekat  dimensi antara rasional dan irrasional, baik atau buruk, imaginer atau real. Semuanya campur aduk dalam kepayahan kita untuk sekedar bertahan sebagai manusia.

Dalam konteks itulah, tiba-tiba banyak dari kita merindukan kembali sebuah keutuhan, kemurnian dalam bentuk apa pun. Orang-orang banyak berbondong-bondong “melarikan diri” untuk tenggelam kembali dalam gagasan dan ideologi lama. Kita menjadi demikian ekstrim dan intoleran terhadap yang di luar komunitas kita. Dan teror pun di mulai di sana.***



Makassar 2013  
Diberdayakan oleh Blogger.