Blusukan


Ada yang menarik dari ruang pengucapan politik kita akhir-akhir ini. Sebuah pengucapan yang hadir dalam tradisi panjang politik keIndonesiaan yang kerap dipenuhi dengan cerita-cerita tragedi. Bagi kita yang sedikit banyak tahu sejarah politik di negeri ini, pasti paham bila sejarah tersebut sering diselimuti warna muram. Apa boleh buat, sejarah negeri ini memang kerap membuat kita demikian bergidik ngeri.  Tak ada yang bisa menampik bila bercerita tentang keberadaan Republik ini, sama dan sebangun dengan bercerita tentang para elite kekuasaan. Kisah peta perpolitikan bangsa ini memang hanya dipenuhi peristiwa "perselingkuhan kekuasaan" di antara para  elite politiknya. Inilah realitas yang selalu hadir dalam gegap gempita kekuasaan dan politik di Republik ini.

Lalu rakyat ada di mana dalam tradisi politik kekuasaan seperti ini? Barangkali, pertanyaan ini bagi kebanyakan kita terasa seperti menohok jantung kita sendiri. Karena dalam kondisi serupa itu, rakyat benar-benar hanya sebuah "pajangan" dalam bingkai besar kekuasaan. Rakyat di sini, hanya sebuah efek psikologis untuk memberi ruang bagi potensi ambisi semata.  Kalimat "berjuang untuk rakyat" adalah obralan paling murah dan sangat sering meluncur dari mulut kekuasaan di negeri ini. Rakyat hanyalah lapisan luar untuk membungkus niat kekuasaan semata. Rakyat dan kekuasaan seperti bumi dan langit dalam horison politik kita. Terasa sangat dekat namun tak mampu benar-benar bertemu.

Lalu muncullah pengucapan yang sedikit janggal dalam ruang realitas politik kita; blusukan. Kata ini seperti semacam "kerinduan" panjang orang-orang kecil dalam memandang pemimpinnya. Ketiadaan jarak serta menjadi sebuah cermin utuh yang memang benar-benar menggambarkan "bersatunya antara pemimpin dan yang dipimpinnya". 

Setelah cerita panjang para tokoh bangsa yang demikian menggetarkan seperti Soekarno, Hatta yang lahir dalam rahim "rakyat" Republik ini, kita seperti menemukan kekosongan itu. Pertarungan politik dan kekuasaan seperti sebuah cerita yang tak punya daya gugah lagi. Lalu muncullah sosok sederhana yang mempesona itu. Namanya Joko Widodo, atau sangat karib disebut Jokowi. Sosok ini serupa air yang mengalir dan menghidupkan apa pun yang dilaluinya. Keakraban dan tak berjarak menjadikan sosok ini menjadi cermin rakyat dalam arti sesungguhnya. Masyarakat kita, terutama pada akar rumput seperti menemukan identitasnya kembali. Rakyat menjadi merasa benar-benar ada dan keberadaannya ditampilkan tepat di hadapan kekuasaan.

Barangkali sosok Jokowi  ini semacam sebuah antitesa dari corak kepemimpinan yang ada di negeri yang demikian murah melahirkan politisi, namun demikian kikir menghadirkan seorang pemimpin negarawan. Dengan demikian, kehadiran sosok Jokowi terasa seperti sebuah "anomali" politik kekuasaan di negeri ini. Blusukan yang dipopulerkan oleh media untuk menyebut cara Jokowi menghadirkan dirinya di tengah masyarakat seperti menjawab semua harapan negeri ini tentang pemimpin yang sederhana dan tidak mengambil jarak pada rakyatnya. Fenomena Jokowi dan blusukannya seperti sebuah "proklamasi" rakyat untuk menyatakan kedaulatannya kembali. "Dari Rakyat, oleh Rakyat dan untuk Rakyat".


Makassar, 2014



Diberdayakan oleh Blogger.