Jokowi


Sosoknya sedikit ringkih. Orang-orang mengenalnya sebagai Jenderal Sudirman, panglima perang gerilya sewaktu Republik ini masih seumur jagung. Sama seperti Sang Jenderal, tubuh yang "tipis" itu terlihat demikian rapuh. Namun sejarah selalu memiliki logika sendiri dalam melahirkan harapan. Suasana republik, saat itu, benar-benar diujung tanduk. Belanda yang membonceng NICA seperti tak rela melepas negeri ini dalam alam kemerdekaan. Maka ribuan serdadu Belanda dalam bendera NICA itu merangsek masuk. Para founding father kita, Sukarno dan Hatta diciduk dan diasingkan. Republik yang masih bayi ini benar-benar dalam posisi di tubir jurang. 

Dengan ditangkapnya para founding father, negeri ini seperti kehilangan "corong" untuk eksistensinya. Seperti melipat buku yang selesai di baca, negeri ini terlihat telah tamat dalam sekejap. Namun sejarah memang selalu memiliki logika yang "aneh" dalam meletakkan alurnya kisahnya. Dalam harapan yang semakin redup itu, panglima perang RI saat itu, memutuskan tak menyerah. Dalam kondisi kesehatan yang perih, Sang Jenderal memutuskan melawan. Dia pun masuk hutan dan melancarkan perang gerilya. 

Dunia seperti terhenyak kala itu. Pemerintahan Belanda menjadi "gagap" melihat realitas ini. Barangkali dalam benak dan strategi perang  mereka, di sebuah negeri dengan culture paternalistik yang masih demikian kental, cara gampang untuk membuat Republik ini bertekuk lutut adalah dengan membungkam "harapan" yang ada. Dan bagi mereka harapan itu dipersonifikasikan pada sosok Soekarno dan Hatta. Tangkaplah Soekarno dan Hatta maka dengan sendirinya harapan itu akan rontok.

Tapi sejarah memang punya logika sendiri. Harapan yang memang nyaris pupus itu seperti virus yang membelah. Dia tak mampu dibungkam. Sang Jenderal tampil dalam kelam harapan. Dia masuk hutan dan tak ada yang mampu menghentikannya. Dan Republik ini kemudian menyimpan rapi kisah heroiknya.

Tahun 2014, dalam balutan tubuh yang ringkih, sosok harapan itu seperti hadir kembali. Terus terang saya selalu membayangkan sang Jenderal Sudirman ketika melihat sosok ini. Namanya Joko Widodo, tapi sangat karib disapa Jokowi. Dia hadir seperti sejarah menghendaki kehadirannya. Di tengah suasana negeri ini yang mempertontonkan dengan vulgar nilai-nilai manusiawi yang semakin terdegradasi, dia tampil dengan binar harapan itu. 

Apa boleh buat, negeri ini seakan terus meluncur dalam jurang yang tak terkendali lagi. Keserakahan dan kekerasan seperti wajah yang terus tampil dalam keseharian kita. Di sana, politik hanya muncul dalam sebuah episode yang bertema; haus kekuasaan . Semuanya menjadi muram dalam hingar-bingar mengejar keserakahan dan menyuplai kekerasan.

Tapi sosok ringkih yang bernama Jokowi ini hadir. Tak seperti Soekarno yang bergelagar dalam membangkitkan semangat, sosok ini terlihat kalem dalam jejak terjangnya. Sama seperti Jenderal Sudirman, dia tampil dalam kebersahajaan. Namun sama seperti Soekarno, Hatta dan para pendiri bangsa ini, dalam sosok yang ringkih itu, binar harapan seakan bersinar kembali. Sebuah harapan yang sekian lama nyaris terpendam dalam "mimpi" berjuta rakyat negeri ini. Harapan yang tak akan mampu lagi dibendung hanya dengan uang, kebohongan dan kekerasan.


Makassar 2014


Diberdayakan oleh Blogger.