Memimpin dengan Hati


Tak ada yang meragukan bila Republik dengan penduduk sekitar 240 juta ini adalah Republik dengan sejarah panjang perjuangan. Tak ada yang menafikan bila perjalanan perjuangan bangsa ini banyak ditandai dengan cerita-cerita bisu tentang ke tersingkirkan masyarakat kaum pinggiran. Barangkali bila kita sedikit jernih membuka sejarah itu, cerita pilu adalah tema besar di antara darah dan air mata. 

Republik Indonesia, adalah sebuah etalase yang berdiri di antara puing-puing teriakan "Merdeka atau Mati" daripada pejuang kemerdekaan kita dulu. Sebuah cerita romantisme heroik perjuangan yang benar-benar mampu menggetarkan nilai kebangsaan kita. Namun, agaknya cerita perjuangan dengan ketulusan yang menggempa ini seperti berhenti di sana.  Episode berganti, dan kebanyakan rakyat kita tiba-tiba menemukan dirinya hanya bertindak sebagai "penonton" dalam gegap gempita politik dan pembangunan.

Dalam setiap orde zaman dan pemerintahan, rakyat seperti dibekukan dalam kaca antik kepatuhan semu. 32 tahun zaman orde baru, rakyat adalah sebuah cerita tentang kegagapan itu sendiri. Partisipasi, terutama pada ranah politik diisolasi dalam tabung kedap suara yang hanya bisa muncul setelah memperoleh restu dari sang penguasa. Rakyat menjadi sekadar massa mengambang dalam arti yang paling memilukan di sana. Pada zaman orde baru ini, rayuan "nina bobok" demikian intens memasuki ruang-ruang pribadi kita. Namun yang paling membuat kita kerap bergidik adalah bagaimana suara yang tidak seirama dengan "dendang" penguasa kemudian dimatikan dengan todongan senjata serta "pembunuhan hak-hak warga negara". Pada zaman ini, jalan keberadaan Indonesia benar-benar seragam dan datar.

Setelah penggulingan rezim Soeharto, Indonesia berbinar walau hanya untuk sekejap saja. Harapan untuk sesuatu yang lebih baik berpendar dalam suasana hiruk pikuk kebebasan kita. Namun ternyata cerita itu seperti cerita pendek yang demikian ringkas dalam sekali baca. Kebebasan itu memang tetap ada, namun di zaman yang kita sebut reformasi ini, bandul pendulang seperti berbalik 360 derajat. Di sana kita benar-benar seperti telah kehilangan arah berbangsa. Nama Indonesia hanyalah "komoditi" untuk berbagai kepentingan golongan dan pribadi semata. Kekerasan yang berunsur SARA, korupsi dan adegan pencitraan demikian mendominasi perilaku kita sehari-hari. yang sangat menyedihkan di zaman ini adalah, punahnya kembali harapan yang sempat berpendar di saat awal reformasi. Saat ini kita sepert memasuki sebuah kawasan rimba dengan plang besar di gerbang ya yang bertuliskan : Anda memasuki Kawasan Tirani Mayoritas".

Lalu tahun 2014 datang pada kita. Tahun ini adalah tahun pertaruhan kita kembali dalam memberi arah dan memaknai kembali sejarah keberadaan serta perjuangan para founding fathers kita dahulu. Sebuah semangat untuk menjadikan segenap rakyat bukan menjadi penonton dan "indekost" di rumah sendiri. Pada tahun politik ini, rakyat seperti menemukan kembali jejak semangat harapan itu. Sebuah kepemimpinan yang digerakkan oleh hati serta keteladanan dalam perilaku sehari-hari. Rakyat menemukan cermin mereka pada sosok sederhana ini. Namanya Joko Widodo atau karib disapa Jokowi. Harapan itu kembali membuncah. Pada sosok ini, kita menjadi sedikit paham bahwa Republik ini masi menyisakan harapan untuk sebuah masa depan yang lebih baik. Politik partisipasi yang berangkat dari sebuah kerja nyata dan menyentuh dari sosok ini menjadikan kita merasakan kembali rasa keIndonesiaan serta rasa memiliki bangsa ini. Lewat kepemimpinan dari hati inilah kita meletakkan kembali harapan itu.***






Diberdayakan oleh Blogger.