Jokowi dan Negeri Bertabur Fitnah


Barangkali para peletak dasar negara kita tak ada yang pernah bermimpi tentang Indonesia hari ini. Di suatu pagi yang jernih di bulan Agustus 1945 dulu, Ketika Soekarno-Hatta berdiri di fodium sederhana dan membacakan teks Proklamasi, kedua Bapak Bangsa kita ini membayangkan sebuah "jembatan emas" masa depan dengan gemah ripah loh jinawi-nya. Setiap kita mendengar langsung getar suara Bung Karno di pagi Bulan Ramadhan itu, kita seakan hadir di sana, memandang tegak sebuah bangunan rumah besar Indonesia dengan demikian optimis. Sebuah rumah bangsa yang menjadi milik bersama.

Barangkali dalam bayangan para perintis kemerdekaan kita, setelah pintu gerbang kemerdekaan kita lalui dan pekik "Merdeka atau Mati" perlahan telah sayup tenggelam dalam gemuruh pembangunan, "jembatan emas" kemakmuran seluruh rakyat perlahan terpenuhi. Optimisme ini memang terasa demikian mengharu biru. Namun bukan tidak mungkin terjadi. Para perintis kemerdekaan kita hidup pada sebuah zaman yang demikian heroik serta romantik. Pada zaman itu, seseorang yang demikian ikhlas mewakafkan diri serta seluruh harta dan nyawanya buat Republik ini terlihat demikian wajar. Semangat gotong royong bukanlah sekedar pemanis bibir atau tulisan indah yang tercatat indah pada pembukaan sebuah buku. Semangat itu hadir dan terasa sangat wajar.

Zaman memang memiliki saat di mana kita terlihat demikian optimis atau pesimis. Dan dalam kurun perjalanan sejarah, optimisme kita kerap dikhianati oleh realitas yang ada. Pasca Orde Baru, getar optimisme itu hadir kembali dalam pekik para mahasiswa kita. Mundurnya rezim Soeharto yang bercokol 32 tahun seperti momen ketika bendera merah Putih pertama kali dikerek naik di suatu pagi di Pagangsaan Timur di tahun 1945.

Namun akhirnya kita kembali merasakan detak optimisme itu semakin meredup. Reformasi kemudian berlari kesurupan tak tentu arah. Korupsi, kekerasan dan runtuhnya sikap kebanggaan terhadap tanah air merajalela di sudut-sudut rasa perih kita. Saat ini tak ada yang tersisa dari mimpi para perintis kemerdekaan kita dulu. Bahkan di dunia luar, bangsa kita terlihat seperti merangkak dalam pandangan sedikit merendah dari bangsa lain. Martabat dan kehebatan Indonesia benar-benar berada pada titik nadir yang parah.

Lalu muncullah kembali harapan itu. Perlahan tapi pasti getar itu terasa dan membuhuk di tengah gersang ya kepemimpinan nasional yang menginspirasi. Sosok itu muncul pada seorang Jokowi. Kita merasakan, dalam balutan badannya yang terlihat ringkih dan tipis itu, ada harapan yang menggelayut besar. Semuanya seperti hadir sebagai kehendak sejarah. Optimisme yang dikerek kembali serta harapan yang diletakkan kembali dibenak kita rakyat Indonesia. Kebersahajaan, kerja keras, dan kedekatannya dengan hati rakyat mampu menghipnotis partisipasi rakyat untuk ikut peduli dan berpartisipasi. Kita seperti memekikkan kembali "Merdeka atau Mati" dalam semangat harapan dan optimisme itu.

Namun, barangkali zaman memang selalu meletakkan kita pada sebuah realitas yang tak indah. Di tengah rasa optimisme itu, selalu saja hadir orang-orang yang melihat negeri ini sebagai komoditi "sapi perahan" dan rasa dengki yang menggunung. Di zaman awal kemerdekaan kita pun mulai merasakan suasana seperti itu. Cerpen-cerpen sastrawan Idrus dengan baik melukiskan bagaimana di zaman penuh heroik ini, ada saja manusia yang menjadi "busuk" karena pengkhianatannya. Semuanya seperti hadir kembali di saat ini dalam rupa dan bentuk yang lain: semangat untuk memfitnah dan menyebar kebohongan.

Saat ini, ketika kita dekat kembali pada pemilihan pemimpin nasional, negeri ini seperti demikian ditaburi fitnah serta cerita bohong. Rasa sesak oleh hujan fitnah itu memenuhi udara komunikasi politik kita akhir-akhir ini. Apa boleh buat. Namun harapan tak gampang disumpal oleh segala hujatan dan fitnahan itu. Rakyat bukalah sejenis "wadah mati" yang demikian mudah dimanipulasi oleh sejuta kebohongan. Rakyat sangatlah paham bahwa fitnah dan hujatan hanya sebuah sikap yang lahir dari jiwa yang tak memiliki harapan dan rasa percaya diri yang kurang.Kali ini rakyat tak ingin mengubur harapan yang telah muncul kembali bersama munculnya Jokowi. Rakyat ada bersama harapan itu.(*)






Diberdayakan oleh Blogger.