JOKOWI: Di Antara Partai dan Rakyat


Mengapa seorang yang bernama Joko Widodo atau karib disapa Jokowi ini demikian menjulang melampaui sekian ribu politisi Indonesia yang sejak dahulu telah menyusun "batu-bata" karirnya dengan berbagai "panggung" untuk menampilkan dirinya? Mengapa Jokowi, dengan kesan yang demikian apa adanya itu, mendadak demikian digemari oleh media dan menjadi episentrum sorotan kamera dari para jurnalis?

Sebutan tentang fenomena  tersebut bermacam-macam: Ada yang menyebutnya sebagai "effect Jokowi", ada yang nyaman dengan menamainya sebagai "media darling" dan sebagian mengistilahkannya "bola salju" Jokowi. Namun apa pun namanya, realitas dan persepsi telah terbangun bahwa Jokowi, dengan balutan tubuh yang tiris serta gaya percakapan yang bersahaja itu telah berhasil menyedot perhatian media.

Dalam psikologi media massa, sebuah berita adalah ramuan antara keunikan, ketokohan, entertainment. Keunikan menjadi pintu masuk media massa untuk tertarik dalam memberitakan sesuatu. Keunikan adalah sesuatu yang berada di luar arus mainstream. Seperti seseorang yang memakai baju merah di antara ribuan massa yang memakai baju putih. Ketokohan adalah sebuah karakter yang telah dipersepsikan memiliki sifat di atas rata-rata kebanyakan orang. Sedang entertainment adalah sifat bawaan media yang senantiasa mengandung unsur drama dalam pemberitaannya.

Di sinilah barangkali kita bisa sedikit memahami bagaimana proses yang memunculkan sosok Jokowi dalam pusaran pemberitaan media massa. Keunikan, ketokohan dan sifat entertainment yang dibutuhkan media kemudian bertemu dalam arus stilye Jokowi dalam kiprah politik dan kesehariannya. Pertemuan inilah yang kemudian membetuk persepsi yang kemudian menyebar bagai virus dalam bangunan realitas masyarakat. Memang tak ada yang menafikkan bila media merupakan pembentuk realitas yang paling mumpuni.

Lalu bagaimana kita menarik benang merah di antara Jokowi,  media massa dan rakyat? Pertalian di antara ketiga unsur ini demikian padu. Jokowi dengan segenap kelebihan dan kekurangannya menjadikan media menangkap pemenuhan kriteria layak "tampil", dan rakyat yang memang demikian "haus" akan munculnya sosok tokoh yang menjadi "cermin" mereka. Merakyat, sederhana, dan sangat biasa-biasa saja merupakan selling paling ampuh memikat hati rakyat untuk saat ini, dan Jokowi mampu menghadirkannya.

Rakyat kemudian jatuh hati pada sosok ini dan secara simbiosis, media memetik keuntungan berita dan ratingnya. Lalu di mana posisi parpol dan para politisi pada bingkai ini? Parpol dan politisi adalah pemain figuran yang juga ikut merasakan dampaknya. Bukan karena parpol dan politisi merupakan bagian yang demikian diperlukan, tapi karena adanya keharusan dalam undang-undang yang mensyaratkan keberadaannya. Dengan kata lain, parpol dan politisi hanya merupakan variabel dalam realitas Jokowi, media massa dan rakyat.

Namun yang paling menarik dalam lingkup ini adalah adanya kenyataan bahwa realitas itu kadang mampu di jungkir balikkan. Persepsi bisa tiba-tiba "dibajak" untuk sebuah kepentingan. Agaknya Indonesia sering mengalami peristiwanya serupa ini. "Lain yang berjuang, lain yang tampil sebagai pahlawannya". Apa boleh buat. Dan para politisi yang bercokol di rumah-rumah partai itu sangat piawai memainkan hal ini. Jadi marilah kita menunggu bagaimana para pahlawan kesiangan dari berbagai unsur ini tampil mengambil manfaat dari efect Jokowi.


Makassar, 2014


Diberdayakan oleh Blogger.