Revolusi Mental Menuju Kemandirian Ekonomi*


Berangkat dari Harapan

Indonesia yang diproklamasikan kemerdekaannya 17 Agustus 1945 adalah negara kebangsaan dengan sebuah cita-cita besar. Soekarno-Hatta, Bapak proklamator kita telah meletakkan dasar-dasar bernegara dan berkebangsaan itu secara bernas dengan Pancasila dan UUD 1945. Tak ada yang menafikkan bila Negara dengan keluasan wilayah serta keberagaman suku, agama dan bahasa ini merupakan negara yang kemerdekaannya diperoleh dengan perjuangan pengorbanan harta, air mata bahkan nyawa. Inilah yang membedakan kita dengan banyak negara lain yang memperoleh kemerdekaannya dari kompromi dan pemberian dari bangsa lain.

Cita-cita besar dari peletak dasar kemerdekaan bangsa kita adalah membawa bangsa dan rakyat Indonesia menuju kejayaan dan kemakmuran bagi seluruh rakyat. Inilah harapan yang tertuang dalam sendi-sendi berbangsa dan bernegara kita. Sebuah harapan yang diletakkan pada setiap jiwa para pejuang kemerdekaan kita, sehingga mereka demikian rela mengorbankan diri mereka dalam sebuah revolusi dengan satu tekad "Merdeka atau Mati". 

Dalam cita-cita dan harapan besar itulah, Indonesia "memasuki gerbang kemerdekaan". "Jembatan Emas" menuju kesejahteraan dan kemakmuran rakyat adalah hutang sejarah yang harus kita lunasi pada para pejuang kemerdekaan kita dahulu. Hasil perjuangan berupa kemerdekaan adalah sebuah amanah pertaruhan untuk kita emban menjadi sebuah tantangan besar mewujudkannya.

Setelah kurang lebih enam puluh sembilan tahun kemerdekaan itu kita peroleh, negara kebangsaan kita bisa dikatakan masih berjalan "tertatih dan lamban" dalam gerak pemenuhan harapan dan cita-cita besar itu. Berbagai kendala dan rintangan dalam meniti "jembatan emas" kemakmuran rakyat senantiasa menghadang dihadapan kita.  Berbagai rezim pemerintahan silih berganti dan kita seperti hanya berjalan melingkar dari masalah yang sama. Kita seakan berada dalam "lingkarang setan" yang demikian membelenggu gerak batin kita untuk bergerak setahap dalam transformasi menuju ide besar kejayaan berbangsa dan bertanah air.

Hal yang paling menonjol dari sengkarut permasalahan yang menghadang bangsa kita selama kurung waktu panjang setelah proklamasi kemerdekaan adalah ketidak mampuan kita dalam meletakkan sendi-sendi kemandirian ekonomi sebagai sebuah bangsa yang berdaulat. Segudang catatan panjang tentang bagaimana kita sebagai sebuah bangsa yang tak berdaulat dan sangat tergantung secara ekonomi dengan bangsa lain bisa kita paparkan. Dalam hampir segala sektor kehidupan ekonomi, ketergantungan itu demikian nampak. Di sektor pangan, kita adalah negara yang nampak tak berdaya karena menjadi negara pengimpor pangan. Ini merupakan ironi terbesar bangsa kita, mengingat negara ini merupakan negara agraris dengan tingkat kesuburan tanah yang demikian tinggi. 

Di sektor pertambangan, bangsa kita yang memiliki sumber daya tambang demikian besar itu, seakan tak mampu kita kelola sendiri demi kesejahteraan sebesar-besarnya rakyat Indonesia. Kita seakan menjadi "penonton" dalam gemuruh eksplorasi serta eksploitasi tambang di negara kita sendiri. Pertanyaan mendasar yang kerap hadir adalah apakah kita sebagai bangsa tidak mempunyai kemampuan mengelola semua potensi sumber daya alam tersebut? Jawaban untuk itu sangat jelas: Kita mampu dan sangat mempunyai kekuatan untuk mengelolanya secara mandiri. Yang menjadi persoalan selama ini adalah kurangnya kemauan dan tekad politik yang kuat dari Pemerintah untuk tegas dalam semua sektor tersebut.

Barangkali, keinginan dan kemauan dari Pemerintah kita ada, namun selalu terbentur pada keraguan serta mentalitas yang kurang percaya diri. Inilah yang merupakan hambatan terbesar dari upaya gerak transformasi kebangsaan kita untuk bergerak secara mandiri dan berdaulat penuh atas segala kekayaan Sumberdaya alam kita. Kekuatan dan kemandirian mental kita masih terkurung dalam khazanah mentalitas inferior dan tidak mempercayai kekuatan sendiri. Setelah revolusi fisik kemerdekaan yang kita lalui pada tahun 1945 dahulu, kita alpa untuk ikut merevolusi mentalitas kita sehingga menghadirkan sebuah kemerdekaan paripurna dan kemerdekaan lahir batin.

Pada Mulanya adalah Pendidikan

Dalam konteks revolusi mental itulah, kita perlu meletakkan kembali akar dari gerak tumbuhnya sebuah karakter. Sebuah pembangunan karakter bangsa yang mandiri dan berdaulat atas dirinya sendiri. Akar dari semua pembangunan karakter itu adalah pendidikan. Dalam pendidikan inilah seluruh anak bangsa memperoleh asupan tentang kemandirian, kedaulatan, martabat dan harga diri.

Revolusi mental yang dimulai dari pendidikan ini menjadi pertaruhan kita dalam membangun kekuatan karakter bangsa. Hal ini dapat dilakukan bila sektor pendidikan kita juga mengalami revolusi dalam bidang pengajarannya. Selama ini, sektor pendidikan kita terlalu menekankan upaya pengajaran yang berbasis kemampuan otak dalam menganalisa. Pendidikan kita adalah pendidikan berbasis "otak kiri", dan mengabaikan "otak kanan". 

Hasilnya kemudian gampang ditebak. Sumberdaya manusia yang dihasilkan oleh pendidikan ini adalah sumberdaya manusia yang pintar namun kering akan integritas apalagi kreatifitas. Tidak mengherankan bila dalam kondisi pendidikan seperti itu, kita kerap terkejut oleh realitas di mana ada manusia yang secara akademik demikian tinggi namun dengan gampangnya melakukan tindak pidana korupsi dan menjarah uang rakyat.

Revolusi mental yang berawal dari dunia pendidikan inilah yang menjadi awal dari semua derap revolusi mental dalam segala sendi kehidupan kita berbangsa. Pendidikan yang berbasis pada pembangunan karakter serta rasa percaya diri sebuah bangsa. Dari dunia pendidikan ini pula kita bisa memulai membangun basis kemandirian ekonomi dengan berlandaskan kedaulatan serta kemampuan kita untuk berdiri di atas kaki sendiri.

Derap revolusi mental ini bukanlah pekerjaan mudah. Sekian puluh tahun kita seperti terlena dalam usaha membangun karakter bangsa menjadikan kita merasa nyaman dalam suasana seperti itu. Bisa dikatakan, mentalitas yang terbangun selama ini nyaris membuat kita hanya selalu berorientasi pada hasil yang instan. Mentalitas kita tidak tahan banting dan selalu ingin sesuatu yang mudah diraih tanpa ingin bekerja keras. Tidak mengherankan bila korupsi dan tidak mau bersusah payah adalah karakter yang dominan dalam keseharian kita.

Untuk membongkar mentalitas seperti itu, diperlukan sebuah upaya besar dan massif dari seluruh eksponen kebangsaan kita. Sebuah kerja besar yang harus didahului oleh Ketauladanan seorang Pemimpin Nasional. Karena dari pucuk tertinggi kekuasaan itulah semangat dan inspirasi akan mengalir ke bawah dan mampu menggerakkan seluruh kekuatan yang dimiliki bangsa ini.

Menuju Kemandirian Ekonomi

Berangkat dari upaya besar merevolusi mentalitas kita itu, harapan akan munculnya kekuatan ekonomi dalam sebuah kedaulatan dan kemandirian akan segera terwujud. Kemandirian ekonomi dalam hal ini bukanlah sebuah kemandirian yang menafikkan kerja sama dengan bangsa lain. Kemandirian ekonomi di sini adalah kemampuan kita untuk berdaulat dan menentukan arah serta penguasaan ekonomi kita untuk kepentingan dan kesejahteraan segenap rakyat Indonesia. 

Kemandirian ekonomi yang sejak proklamasi kemerdekaan telah diletakkan dengan tegas dalam pembukaan dan batang tubuh UUD 1945. "Bumi, air dan segala kekayaan yang terkandung di dalamnya dikelola dan dipergunakan untuk sepenuhnya kemakmuran rakyat", adalah tujuan besar dari segala bentuk kemandirian ekonomi kita sebagai sebuah bangsa.

Dalam konteks itulah, revolusi mental menuju kemandirian ekonomi menjadi sangat penting dalam tataran membangun keIndonesiaan kita ke depan. Sebuah era di mana negara kebangsaan ini menjadi sebuah negara yang mampu meletakkan diri sejajar dan diperhitungkan oleh bangsa-bangsa lain di dunia. Kemandirian ekonomi yang tidak memusuhi bangsa lain tapi kemandirian ekonomi yang menjadikan negara lain sebagai mitra sejajar dalam percaturan ekonomi dunia.

Semua itu mampu kita lakukan bila tekad kita sebagai bangsa telah bulat. Dan di atas segalanya, revolusi mental untuk sebuah kemandirian ekonomi akan bisa bergerak cepat bila kepemimpinan nasional yang terbentuk adalah kepemimpinan nasional yang mau dan bertekad mewujudkan dengan kerja dan segenap pertaruhan komitmen yang dimiliki. Kepemimpinan yang menginspirasi, mau mengambil resiko dan memberi contoh lewat keteladanan.

Bagaimana pun bangsa besar ini akan mampu bergerak bila seluruh komponen bangsa bergerak dengan panutan yang kuat dari seorang pemimpin nasional yang mau bekerja dan berkomitmen penuh. Sejarah kita telah mencontohkan, bagaimana bangsa dan rakyat kita mampu menjadi sebuah kekuatan besar dengan hadirnya pemimpin besar pada zamannya seperti Soekarno-Hatta. Hal ini juga bisa kita wujudkan kembali dalam era sebuah kepemimpinan yang memberi contoh dan mau turun langsung memimpin sebuah revolusi mentalitas bangsa menuju sebuah tatanan ekonomi yang mandiri, berdaulat dan mempunyai kepribadian yang berbudaya.***


*Artikel ini telah dipublikasi di rubrik opini Harian Fajar Makassar 







Diberdayakan oleh Blogger.