Zombie Politik



"Kebenaran adalah hal yang patut ditertawakan", Baudrillard, filsuf posmo Prancis itu pernah mengatakan hal ini dan dia tidak sedang bercanda. Dalam dunia simulacra --dunia di mana realitas faktual dan dunia imajinasi bercampur aduk-- segala penghadiran "kebenaran" telah menjadi  dan mengalami semacam reduplikasi kemiripan semata. Di sana, dunia hanya lapis-lapis simulasi yang sangat rapuh serta dihadirkan dengan kecepatan dan keserempakan yang demikian dahsyat. 


Dalam dunia semacam ini, konstruksi realitas kebenaran hanya menjadi "iklan" yang terus berputar seperti billboard reklame di tepi jalan dan di layar tontonan televisi. Berkelap-kelip memperebutkan dan berusaha menarik perhatian apa pun dan siapapun. Di sana, kita hadir dan dihadirkan tidak lagi dengan persentuhan manusiawi dalam konsep filsafat ontologis lama, namun tak lebih hanya sebagai "perpanjangan" dari  simulasi-simulasi realitas yang terus diproduksi dan direproduksi. 

Dengan demikian, persentuhan kita pun dengan realitas kebenaran hanyalah bagian dari terus berputarnya relasi-relasi yang demikian cepat berlalu, rapuh dan kemudian hanya meninggalkan "jejak". Suasana seperti ini bisa dengan jitu digambarkan dengan bait puisi Amir Hamzah ; "tangkap dan lepas". Semuanya berada dalam zona keserempakan dan kecepatan yang tidak "tunggal nada". Dengan bahasa lain, dalam dunia semacam ini, kebenaran substansial adalah sebuah "kemewahan" yang percuma untuk dibicarakan.

Pada bingkai semacam ini, dunia politik menjadi dunia yang paling mengalami "turbulensi" akibat "runtuhnya" realitas ontologis kebenaran model abad "pencerahan" dulu. Dalam konstelasi politik sebagaimana pemahaman abad pencerahan dulu adalah bagian dari sebuah "cara meraih dan mengelola kekuasaan untuk kepentingan publik". Di sana, eksistensi  politik dan pekerja politik hadir bersama lahirnya dunia modern di mana "kebenaran" yang dikristalisasikan pada wujud ideologi menjadi ruang pengucapan yang kental. Kerja politik adalah kerja untuk "kemaslahatan bersama". kekuasaan di sini hanyalah sebuah instrumen untuk "membangun, memperbaiki dan merawat kemaslahatan publik". Pekerja politik adalah para "ksatria" yang seluruh nilai dan kontribusi hidupnya dimulai dan diakhiri pada "perbaikan mutu hidup masyarakat".

Namun agaknya nilai-nilai dan kerja semacam itu telah "runtuh" dalam dunia simulacra Baudrillard. Runtuhnya nilai politik jatuh bersama "matinya" nilai-nilai kebenaran dari sebuah ideologi. Di dunia ini, politik dan pekerja telah  "mati dan dikubur", namun kemudian bangkit kembali dalam "duplikasi-duplikasi" yang tanpa "subtansi" lagi. Politik kini telah menjadi "zombie" yang eksistensinya hanya "bergerak dan berputar" pada ruang "hampa" serta tak lagi punya keterkaitan langsung pada publik. Pekerja politik bukan lagi para "ksatria" yang menegakkan panji nilai kebenaran namun "jatuh" sebagai "tukang iklan sekaligus iklan" itu sendiri.

Dengan begitu, politik dan pekerja politik adalah satu "ornamen reklame" yang terus berputar pada porosnya dengan kecepatan dan keserempakan yang dahsyat. Berganti dan tak meninggalkan apa-apa selain jejak yang kabur. Karena "nyawa" politik dan pekerja politik ini adalah nilai kebenaran yang menghubungkannya dengan publik, maka dengan runtuhnya nilai itu maka persentuhannya dengan esensinya sendiri terputus. Kini, politik dan pekerja politik ini hanyalah semaca "suara bising yang sibuk dengan suaranya sendiri". Hanya "pajangan" iklan yang berputar tanpa punya nilai kebenaran selain "kekuasaan" yang disangka masih milik mereka.***

Makassar, 2014







Diberdayakan oleh Blogger.