Jejak Kiprah Sang Pengabdi : Profil DR.Ir.H.Andi Amran Sulaiman MP




Sosoknya dikenal  cerdas, jujur serta sangat low profile. Prestasi akademiknya memang mencorong. Di Universitas Hasanuddin Fakultas Pertanian, baik gelar sarjana, magister serta gelar doktoral, dia lulus dengan IPK 4,0 serta predikat Cumlaude. Di bidang akademik ini pula dia berhasil melakukan berbagai macam penemuan yang sangat bernas seperti pembasmi hama racun tikus. Memang, dunia penelitian,  birokrat dan entrepreneur menjadi lahan pengabdiannya. Bahkan di bidang usaha, saat ini dia memiliki aset sekitar 1Triliun Rupiah dan omzet 500 Milyar per tahun. Maka dengan kehidupan yang sangat mapan itu, sosok ini memang benar-benar hanya menjadikan jabatan yang diembannya sebagai ladang amal dan medan pengabdian.


Dari Pondokan ke Kursi Menteri*

Kiprah hidup seseorang memang senantiasa menyiratkan segudang nilai-nilai hidup yang diperolehnya sejak masa kanak-kanak dan kemudian menjadi anutan hidup ketika orang tersebut melangkah dalam kedewasaan. Inilah yang ditunjukkan oleh DR.IR. H. Andi Amran Sulaiman, MP. atau akrab disapa Amran.

Kerja keras, tahan banting dan tidak mengenal kata menyerah memang menjadi bagian dari kepribadian yang ditanamkan orang tuanya sejak kecil. Berasal dari keluarga yang terbilang pas-pasan, Amran melakoni hidupnya dengan cara yang demikian sederhana. Sejarah hidup sosok yang sangat 'low profile' ini demikian berliku dan banyak dipenuhi cerita-cerita yang memiriskan hati.

Pernah suatu ketika, saat dia ke Jakarta untuk mengurus hak paten penemuannya, karena kondisi keuangannya sangat terbatas, Amran berangkat ke Jakarta hanya dengan menumpangi kapal laut. Di ibu kota, sambil mengurus hak patennya, karena tak memiliki uang, dia harus pulang sebelum pengurusan itu selesai. Saat itu, ia benar-benar telah kehabisan ongkos hidup di Jakarta.

Sewaktu mahasiswa, sebagai mahasiswa yang berasal dari kabupaten, Amran harus tinggal di pondokan mahasiswa. Ada banyak cerita yang menjadi kenangan di sana tentang bagaimana kehidupannya yang demikian pas-pasan itu mampu menjadi membangun mentalitas karakternya. Pernah suatu ketika, karena tak memiliki uang, bersama seorang sahabatnya saat Kuliah Kerja Nyata (KKN), Amran hanya makan seporsi mie instan yang dibaginya berdua. Pernah pula untuk mengisi keroncongan perutnya, Amran hanya mengkonsumsi sebutir telur, itu pun di bagi bersama 5 orang kawannya.Semua kejadian ini menjadikan sosok Amran mampu demikian empati terhadap dunia sekitarnya. Sejarah hidup seperti ini pula yang semakin membangkitkan tekadnya untuk mampu berbuat bagi orang banyak serta mengantarkannya menjadi seorang yang berkarakter kuat dan pekerja keras yang luar biasa.

Sebagai seorang yang profesional yang kiprah pengabdiannya sangat beragam dan luas ini, Amran memang sangat menghayati nilai-nilai kejujuran dan kerja keras, Amran memang menjadi sosok yang dikenal mampu menjadi “suluh” bagi sekelilingnya. Terlepas dari apa pun, Amran merupakan sosok yang di setiap jejak langkahnya senantiasa meninggalkan “benih-benih”kemaslahatan bagi lingkungan sekitarnya. Sang penerobos yang tak takut akan tanggung jawab dan resiko yang diemban dan diamanahkan padanya. Sosok muda yang dalam dirinya mampu menyintesakan berbagai hal antara dunia akademik penelitian, dunia usaha serta idealisme politik untuk kemaslahatan orang banyak.

Beragam medan pengabdian pernah digelutinya, mulai dari akademisi (dosen), birokrat dan entrepreneur menjadikan sosok Amran memiliki multi talenta berada dalam sosok karakter yang menonjol dari segi apa pun.Kedekatannya pada berbagai ragam profesi dan kemampuan komunikasinya yang demikian tinggi, menjadikan Amran dengan cepat mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan dan kemudian bergerak ikut mewarnai lingkungan tersebut.

Semua itu terlihat dalam setiap dimensi kiprah pengabdiannya serta membawanya jauh ke dalam pergaulan tingkat nasional dan bahkan internasional.Salah satu yang menonjol dari semua itu adalah ketika dalam kiprah kemasyarakatannya, sebanyak 12 Provinsi di Kawasan Timur Indonesia kemudian mengusulkannya untuk menjadi menteri pada kabinet pemerintahan Jokowi-JK, namun dengan halus Amran menolaknya.Dia menganggap bahwa menduduki jabatan menteri hanya karena persoalan keuangan, hal itu dianggapnya sangat bertentangan dengan nilai-nilai hidup yang dia anut. Dari sisi keuangan, Amran telah berada dalam “zona nyaman”. Dengan perusahaan yang dimilikinya, yang memiliki omzet 500 Milyar Rupiah pertahun serta asset perusahaan yang bernilai 1 Triliun Rupiah, dia bisa dikatakan telah mapan dalam hidup. Namun ketika Joko Widodo memintanya untuk ikut mengabdi demi kemaslahatan rakyat, Amran tak bisa mengelak lagi.Panggilan pengabdian inilah yang menjadi medan pergelutannya selama ini. Apalagi ketika Joko Widodo memintanya dengan kata: “Jangan tinggalkan saya”, sosok yang rendah hati ini tak mampu memiliki alasan lagi untuk menolak amanah tersebut.

Memang bila menilik riwayat hidup seorang Amran, agaknya, kita mampu memahami bagaimana dia berangkat serta menghayati nilai-nilai hidup yang kemudian membawanya pada nilai yang menjadikan medan pengabdian bagi kemaslahatan hidup orang banyak sangat mewarnai setiap jejak langkah dan kiprahhidupnya.

Dalam garis darah keluarga, Amran adalah keturunan dari La Pawawoi Arung Sumaling (anak ke 4 La Tenri Tappu Raja Bone ke 23) dari pihak ayahnya. Kemudian La Pawawoi Arung Sumaling mempunyai keturunan bernama Andi Baco Gangka Petta Teru yang memperistrikan Karaeng Beja (anak Karaeng Bantaeng/Karaeng Bore yang berdomosili di Bantaeng.Turunan dari pihak ibu (Andi Nurhadi Petta Bau), yaitu dari Datu Bengo/La Sado Petta Eppe yang berdomisili pada Kecamatan Bengo, Kabupaten Bone, Sulsel.

Dari Seorang Akademisi dan Peneliti

Benarkah kemiskinan sebagai penghalang utama bagi seseorang untuk menjadi sukses? Mustahilkah orang miskin menjadi sukses? Pertanyaan-pertanyaan tersebut semakin relevan dengan adanya mitos-mitos kemiskinan dan kekayaan sebagai sebuah nasib. Bagaimana pun sebuah kerja keras dilakukan, nasib tidak mungkin berubah. Ada suratan tangan yang menggariskan rezeki setiap manusia walau hanya bekerja dan berjuang sekedarnya.

Apalagi ada mitos modern bahwa di negeri tak jelas garis ideologi seperti Indonesia, berlaku sistem social di mana yang kaya makin kaya dan yang miskin makin miskin.Anggapan ini diperkuat oleh fakta penelitian yang dilakukan oleh Wade C. Edmundson tentang distribusi pendapatan yang terjadi di tingkat pedesaan. Hasil penelitian tersebut pernah termuat dalam Bulletin of Indonesian Economic Studies dengan judul Do the RichGet Richer, Do the Poor Get Poorer? East Java, Two Decades, Three Village, 46 People.

DR.IR. H. Andi Amran Sulaiman MP. yang karib disapa Amran, seorang akademisi yang terbilang sukses dari tanah Bugis-Makassar, kelahiran Kabupaten Bone ini, sangat tidak setuju dengan pandangan dan pemikiran tersebut. Sebagai penemu “racun pemusnah tikus”, Amran menganggap hal itu sebagai suatu sikap apatis.Sebuah sikap negatif yang mengerdilkan dan mencela diri sendiri. Baginya, cara pandang itu tidak mencerminkan dan tidak menghormati kekuatan dan kemampuan seseorang dalam dirinya. Sebuah mitos dan cara pandang yang mengkhianati anugrah sang pencipta.

Karenanya, sejak dini, Amran selalu berjuang keras, berjuang tanpa henti untuk bisa menaklukkan cara pandang yang menempatkan nasib sebagai sesuatu yang tak bisa diubah. Baginya, membiarkan diri dalam kegagalan dan kemiskinan adalah sebuah tindakan kezaliman yang dilakukan terhadap diri sendiri dan potensi yang diberikan sang pencipta. Sebab pada dasarnya, sebagai manusia, setiap orang mempunyai kodrat dan hak yang sama dengan semua orang untuk menjadi sukses, sejahtera dan menjadi pandai.

Pengalaman Amran sebagai peneliti yang menemukan alat pemusnah hama tikus, membuat dirinya terbiasa hidup dengan penuh dialektika, sistematis, konsisten, telaten serta tak kenal putus asa. Pengalaman itu pula yang mengajarkannya menjadi seorang yang kreatif dan inovatif mengelola hidup ini dengan melahirkan banyak hal baru yang menyentuh kemaslahatan hidup orang banyak. Karena pengabdian ini pula sehingga selama 6tahun menjalani profesi sebagai tenaga pengajar akademik serta peneliti, dia tak pernah mengambil gajinya. Memang sikap seperti ini terkesan agak aneh, namun itulah yang ditunjukkan oleh Amran. Sikap pengabdian yang bukan hanya berhenti pada kata-kata, namun memang telah mengalir dalam sikap perbuatannya sehari-hari.

Sebagai seorang akademisi (dosen) dan peneliti, Amran memang tergolong sosok yang sangat menyukai tantangan. Jiwa intelektualitasnya senantiasa menyala bila menemukan sebuah persoalan yang sulit mendapat jawaban. Sejak menempuh pendidikan tinggi di fakultas Pertanian Unhas Makassar, jiwa itu telah terbentuk.Tidak mengherankan bila sewaktu menempuh pendidikan tinggi strata satu, dia telah berhasil mencatatkan sebanyak 4 hak paten penemuannya. Di Strata pendidikan Magister, Amran juga berhasil lulus dengan prestasi mengagumkan dengan cum laude dengan IPK sempurna 4,0 yang juga dilanjutkan ketika berhasil lulus dengan cum laude juga dengan IPK 4,0 di pendidikan Doktoralnya.

Dengan lahan pengabdian sebagai akademisi (dosen) dan peneliti, Amran memang bisa dikatakan sangat haus akan ilmu dan nilai-nilai intelektualitas. Semangat mencari kebenaran merupakan hal yang sangat dijunjung tinggi.Inilah yang kerap membawanya pada kegelisahan seorang intelektual bila menemukan hal yang mengganggu pikirannya. Seperti ketika dia merasakan rasa sedih para petani ketika tanaman yang menjadi tumpuan hidupnya habis karena terserang hama tikus.Kegelisahan inteltual inilah yang kemudian terus membawanya hingga pada penemuan dan terobosan bagaimana menanggulangi serangan hama tikus tersebut.

Tikus adalah salah satu hama pengganggu yang sangat merepotkan petani. Saat menyerang, kerugian yang ditimbulkan pasti cukup serius. Namun bagi Amran, hama tikus justru menjadi berkah hidup. Gara-gara binatang ini, ia berkesempatan menjabat tangan Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono dengan bangga sembari menerima Satyalencana Kategori Perorangan Bidang Wirausaha Pertanian, di Palembang 7 Juli 2009 lalu. Temuannya, berupa racun tikus yang lebih ekonomis dan efisien dari yang sudah ada, menempatkan Amran sebagai warga yang sangat berjasa menekan kehilangan produk padi dari serangan hama tikus.

Menjejak Ranah Entrepreneur

Pola hidup disiplin sangat tergambar pada keseharian pria yang lahir di Kabupaten Bone, 27 April1968.Kedisiplinan bagi Amran adalah “harga-mati” bila ingin menaiki tangga kesuksesan. Segalanya harus dimulai dengan menerapkan prinsip hidup ini. Tidak mengherankan bila di usia yang relatif muda, ia sudah mampu membangun dan membesarkan 14 perusahan yang tergabung dalam sebuah holding Tiran Group, yang meliputi Unit Usaha: Tambang Emas, Tambang Nikel, Proyek Gula, Proyek Perkebunan Kelapa Sawit, SPBU, Distributor Unilever, Distributor Semen, Produsen Pestisida, dan usaha lainnya. Pada saat yang sama, ia juga aktif diberbagai organisasi seperti: Sekretaris SP BUN PG. Camming (1998), Sekretaris FPPI di Kendari - Sultra (1998), Ketua Umum SPBUN Kandir PTPN XIV (2006 – 2010), Pimpinan Redaksi Bulletin Bina Insani Terbitan SP-BUN Kantor Direksi PTPN XIV (2006 – 2010), Bendahara Umum Ikatan Ahli Gula Kawasan Timur Indonesia (2006 – 2010),Ketua Umum Perhimpunan Teknik Pertanian Indonesia (PARTETA) Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat (2007 – 2010), Ketua I Koperasi Puskopin PT Perkebunan Nusantara XIV (2007 – 2011), Ketua Bidang Pertanian IKAGI KTI (2008 – 2012), Ketua IKA Teknologi Pertanian Unhas (2010-2015), Bendahara ICMI Sulsel (2012 -2016), Ketua Agro Kompleks Universitas Hasanuddin (2012 -2017), Bendahara IKA Pascasarjana Universitas Hasanuddin, Ketua Umum PMDI Sulawesi Selatan-Barat, dan segudang aktifitas lainnya.

Sejak menekuni entrepreneurship sejak 8 tahun yang lalu, Amran sangat menekankan nilai-nilai kejujuran.Nilai-nilai kejujuran memang mewarnai semua gerak hidupnya sehari-hari, Ia bekerja mengikuti realitas dorongan hati-nurani yang senantiasa memandu setiap jejak langkah yang ingin ditorehkannya pada kehidupan.

Bagi Amran, menjadi orang jujur akan memiliki pengaruh energi yang sangat positif. Orang akan menghargai kejujuran dan bisa menghargai pendapat kita. Mengatakan kebenaran dalam segala situasi selalu merupakan pilihan terbaik karena sekali ketahuan kita berbohong maka selamanya akan dikenal sebagai pembohong.

Di samping itu, Amran juga sangat menekankan tanggungjawab dalam setiap kiprah kehidupannya.Baginya, tanggungjawab dan keberanian memang memiliki peran yang sangat besar bagi tangga kesuksesan seseorang. Menghindari tanggungjawab bagi Amran dapat diibaratkan sebagai “orang mati yang berjalan”. Orang seperti ini hanya hidup secara jazad tapi jiwanya telah mati. Mereka kehilangan kemampuan untuk percaya pada diri sendiri. Akibatnya, mereka kehilangan energy hidup dan tak lagi mampu membedakan antara kebaikan dan keburukan dalam hidupnya.

Oleh karena itu, keberhasilan dapat diukur sejauh mana kita menerima tanggungjawab. Kualitas semua orang yang sukses adalah sama, yaitu kemampuan mereka untuk mengambil tanggungjawab. Orang seperti ini akan berani bertahan dalam usaha yang penuh dengan tantangan dan resiko. Dengan tanggungjawab, kita akan menemukan diri senantiasa berada dalam lingkaran tantangan hidup yang menjadikan energy hidup kita semakin bertambah.

Pada sisi lain, hal yang sangat menunjang bergeraknya seseorang menuju hidup yang lebih baik adalah kerja keras yang disertai doa. Inilah yang menjadikan seseorang mampu merasakan dan menikmati apa pun proses serta hasil kerjanya dengan rasa nyaman.Meneguhkan doa pada setiap usaha dan perjuangan menjadi semacam pengontrol bagi diri untuk menaklukkan segenap ambisi dan ketamakan yang tak ketulungan pada diri seorang.

Sampai saat ini, omzet perusahaan yang telah dibukukaknnya telah mencapai 500 Milyar per tahun dan telah mengelola asset sebesar kurang lebih 1 Triliun Rupiah. Omzet dan asset tersebut diperoleh dari modal awal minus 500.000 rupiah (pinjam uang dari BRI sebesar Rp 500.000). Sebuah kerja keras ini diperolehnya dari pembelajaran terhadap nilai-nilai hidup yang telah ditanamkan orang tuanya sejak masa kanak-kanak, yakni kejujuran, tak menghindari tanggungjawab, pantang menyerah dan kedisiplinan hidup.

Kemapanan hidup yang telah diperolehnya ini tidaklah menjadikan Amran berpuas diri. Medan pengabdian pada masyarakat dan kegelisahan untuk memberi kontribusi pada kemaslahatan bersama menjadi panggilan nurani yang terus membangkitkan geloranya untuk berbuat sesuatu bagi masyarakat. Inilah yang membuat Amran senantiasa memperluas medan pengabdian yang digelutinya selama melakoni hidup.

Kiprah Sang Birokrat

Medan pengabdian seorang Amran memang demikian luas. Ketika PTPN Perkebunan membuka peluang untuk menerima karyawan yang hendak didudukkan pada pos pejabat pimpinan, Amran pun tergerak mencoba medan pengabdian ini. Saat itu, dari sekitar 7000 pelamar yang ikut, hanya 112 yang diterima magang, termasuk pria yang senantiasa tampil sederhana ini dan yang pertama diangkat menjadi staf pimpinan.

Dalam BUMN inilah kiprah Amran juga melejit cemerlang. Selama 6 tahun pengabdiannya, tercatat Amran mampu mendapat promosi kenaikanpangkat/jabatan 4 kali. Bisa ditebak bagaimana prestasi yang telah ditorehkan pada perusahaan perkebunan Negara ini. Prestasi yang hanya bisa didapatkan dari sebuah kerja yang bukan saja keras namun juga kerja cerdas. Selama 14 tahun pengabdiannya di BUMN ini, catatan prestasi pria kelahiran Bone, Sulsel ini memang patut diacungi jempol.

Sebagai seorang birokrat, Amran benar-benar memahami bagaimana seluk-beluk birokrasi Indonesia. Reformasi birokrasi yang menjadi disertasi Doktoralnya mengulas hal ini dengan sangat jernih. Baginya, tantangan terbesar birokrasi Indonesia memang adalah paradigma di mana semangat “dilayani” masih demikian menonjol dibanding semangat “melanyani”.

Kondisi inilah yang membuatnya terkadang gregetan serta ingin mengubah model kerja tersebut. Hal yang paling memungkinkan adalah bagaimana reformasi birokrasi dengan semangat “melayani” ini mampu bertransformasi menjadi budaya birokrasi dan terinternalisasi dalam setiap tahapan pekerjaan. Inilah tantangan birokrasi kita ke depan yang bagi Amran sangat mendesak untuk memperoleh perhatian pemerintah.

Sebagai seorang ahli di bidang pertanian, terutama bidang kelapa sawit serta tebu, Amran sangat memahami potensi besar perkebunan nasional ini. Baginya, yang memang harus dibenahi adalah system birokrasi kita serta semangat entrepreneurship dalam bidang birokrasi.Disamping sebagai pakar di bidang kelapa sawit dan tebu, Amran juga dikenal sebagai pakar dalam hal penangkapan babi. Bahkan pernah dia berhasil menangkap 2. 430 ekor babi dalam 24 jam.

Sahabat Rakyat KTI, Lahan Baru Pengabdian

Tahun 2014 adalah tahun yang menjadi momentum baru bagi sosok pengusaha, akademisi dan birokrat muda ini.Panggilan pengabdian untuk kerja kemaslahatan umum terus menjadi bawaannya masuk ke ranah yang lebih luas lagi. 2014 merupakan tahun politik di mana pemilihan presiden RI diselenggarakan. Inilah yang kemudian membawa Amran untuk terlibat dalam serangkaian aktivitas politik demi kemaslahatan itu. Kedekatannya secara personal dengan Joko Widodo menjadikan Amran turut dalam semangat perubahan yang ditawarkan dalam pencalonan Joko Widodo sebagai calon presiden 2014_2019. Langkah awal sejak pertemuannya dengan Joko Widodo kemudian menginspirasi Amran untuk mendirikan organisasi relawan pertama di Kawasan Timur Indonesia (KTI) untuk mendukung pencalonan Joko Widodo sebagai calon presiden.

Terbentuknya organisasi relawan Sahabat Rakyat KTI ini kemudian sangat mendapat respon masyarakat KTI.Gerak cepat organisasi ini kemudian menjadi percontohan bagi organisasi relawan lain untuk ikut terlibat dalam gelombang perubahan yang menjadi pijakan langkah dalam membangun harapan masyarakat, terutama di kawasan timur Indonesia.

Kiprah Sahabat Rakyat KTI ini memang mencorong.Dalam waktu singkat, organisasi ini mampu membentuk jejaring kerja di 12 propvinsi diKTI. Kegiatan pertama yang dilaksanakan pun sangat terbilang sukses. Gerak Jalan Santai Sahabat Rakyat bersama Joko Widodo yang dilaksanakan di kota Makassar bisa dikatakan demikian menggetarkan. Tidak tanggung-tanggung, sebanyak kurang lebih 350 ribu peserta berkumpul di Lapangan Karebosi Makassar ikut dalam aksi gerak jalan santai yang dibuka langsung oleh Joko Widodo. Antusiasmedan respon masyarakat ini merupakan momentum yang menjadi acuan bagi organisasi relawan si seluruh Indonesia tentang bagaimana bergerak dan berhimpun dalam sebuah semangat yang sama untuk kehidupan dan kemaslahatan bersama.

Tidak mengherankan bila kesuksesan kegiatan pengorganisasian ini kemudian mendapat pujian langsung dari Joko Widodo dan Megawati Soekarno Putri. Sebagai Koordinator Umum Sahabat Rakyat KTI, Amran kemudian menjadi “tulang punggung” gerak pemenangan Joko Widodo di Kawasan Timur Indonesia.Semangat dan harapan untuk kehidupan yang lebih baik ditularkannya hingga ke pelosok terpencil di bagian timur Indonesia. Maka tidak berlebih kiranya bila mengatakan, sumbangan kemenangan pasangan Joko Widodo dan Jusuf Kalla pada pemilihan presiden ini tidak terlepas dari sentuhan “tangan dingin” seorang Amran.

Inilah yang kemudian membawanya pada dimensi lain dalam hidup pengabdiannya. Apalagi ketika harapan yang terbangun dari Kawasan Timur Indonesia kemudian meminta dan mengusulkannya menjadi menteri. Semula dia menolaknya dengan halus, karena bila yang diinginkan adalah kemapanan hidup, Amran telah memiliki segalanya. Namun akhirnya dia menerima ketika Joko Widodo memintanya langsung dan mengajaknya untuk mengembang amanah pengabdian yang memang telah menjadi tujuan dan panggilan hidupnya. ***



Bio Data

Nama: DR.IR. H. Andi Amran Sulaiman, MP
Tempat/TGL Lahir : Bone, 27 April 1968
Jenis Kelamin: Pria
Tinggi/Berat Badan : 170 cm/80 kg
Hobby : Membaca
Nama Orang Tua :
-Ayah : A. B. Sulaiman Dahlan Petta Linta 
-Ibu : Hj. Andi Nurhadi Petta Bau 

Istri : IR. Hj. Martati
Anak : - Andi Amar Ma’ruf, Andi Athira, Andi Muh.Anugrah, Andi Humairah
Jumlah Bersaudara : 12 Orang


Pendidikan:
SD Impres 10 Mappesangka, Bone
SMP Negeri Ponre, Bone
SMA Negeri Lappariaja, Bone
Fakultas Pertanian Unhas 1988-1993 (Penerima Hak Paten/Penemu)
Pasca Sarjana Pertanian Unhas 2002-2003 (Cum laude)
Program Doktor Ilmu Pertanian Unhas 2008-2012 (Cumlaude)

Kursus dan Seminar :
-Presentase Pengendalian Hama Tikus di Istana Presiden, Jakarta 1996
-SUSKALAK-PIM di Pakkatto, Gowa, Sulsel, 1997
-Presentase Pengendalian Hama Tikus untuk Kalteng di Istana presiden, Jakarta, 1999
-Studi Banding di Singapura, 2002
-Seminar Internasional Palm Oil Belt di Malaysia 2002
-Studi Banding di Bangkok, Thailand, 2009
-Kunjungan ke Sutech Engineering Co. Ltd (Perusahaan perakitan mesin pabrik gula) untuk transaksi pembelian Pabrik Gula dan Erawan Power (Pabrik Gula Terbesar di Thailand), 2014

Surat Penghargaan:
- Hak Paten Alat Empos Tikus “Alpostran” dari Menteri Kehakiman RI, 1995
- Surat Izin Khusus Pestisida Tiran 58PS dari Menteri Pertanian RI, 1997
- Surat Izin Tetap Pestisida Tiran 58PS dari Menteri Pertanian RI, 1998
- Tanda Kehormatan Satyalancana Pembangunan di Bidang Wirausaha Pertanian dari Presiden RI, 2007
- Penghargaan FKPTPI Award tahun 2011 di Bali.
- Surat Izin Tetap Pestisida, Ammikus 65PS dari Menteri Pertanian RI, 2011
- Surat Izin Tetap Pestisida Ranmikus 59PS dari Menteri Pertanian RI, 2012
- Surat Izin Tetap Pestisida Timikus 64PS dari Menteri Pertanian RI, 2012
- Hak Paten Alpostran (Alat Empos Tikus modifikasi) dari Menteri Kehakiman RI, 2014

*Artikel ini pernah dimuat di Harian Fajar Makassar



Diberdayakan oleh Blogger.